
"Din..." panggil Mamah mertuanya, yang kini sudah di sampingnya. Namun Dinda masih belum sadar dari lamunannya.
"Din, kamu baik-baik sajakan?" Mamah mertuanya, menepuk bahu Dinda.
"Astagfirullah," ucap Dinda terkejut.
"Eh, Mamah..." lanjutnya melihat kearah Mamah mertuanya itu.
"Mamah udah selesai?" Dinda kembali bertanya.
"Belum sih, masih ada yang ingin Mamah beli," jawab Mamah Adelia.
"Ya sudah, ayo kita lanjut belanja lagi," ajak Dinda, diangguki oleh Mamah Adelia.
Mereka pun melanjutkan belanja mereka kembali.
"Ada apa sama Dinda? Kok dia seperti sedang memikirkan sesuatu?" batin Mamah Adelia.
Setelah beberapa saat kemudian, mereka pun selesai.
Dinda dan mertuanya, membawa belanjaan mereka yang memenuhi troli milik mereka masing-masing.
Lalu mereka mengantri di dekat kasir, untuk membayar belanjaannya mereka itu.
***
Sementara itu Aditia dan Papahnya, sudah menghabiskan satu cangkir kopi mereka masing-masing. Namun Dinda dan Mamahnya belum juga kembali.
"Pah, kok mereka lama sekali sih?" tanya Aditia.
"Hais, kamu ini. Kaya baru aja nganterin wanita belanja. Mereka suka lama, makanya Papah ajak kamu ke sini gak ikut belanja sama mereka, kaki kita bisa bengkak nanti, ngikutin mereka belanja, memilih barang-barang!"
Aditia hanya mengangguk kepalanya, yang tidak gatal.
Iya sih benar apa yang di katakan Papahnya. Tapi ini untuk pertama kalinya Aditia mengantarkan Dinda belanjaan. Selama mereka menikah.
Dulu sih sering ngikut wanita belanja, tepatnya mengantarkan Lisa, tapi bukan ke super market, melainkan ke butik, ke toko barang branded.
"Sudah bayar dulu sana kopinya, kita samperin mereka," titah Papahnya. Aditia mengangguk, lalu ia berjalan menuju kasir untuk membayar kopi mereka.
Setalah itu, Aditia dan Papahnya, keluar dari Coffe shop tersebut, baby Azka masih anteng tertidur.
Memang anak yang pintar, pikir mereka. Tadi Baby Azka hanya terbangun sebentar saja, lalu Aditia memberikan susu, setelah itu tidur kembali.
Saat mereka sampai di depan super market tersebut, Dinda dan Mamah Adelia terlihat baru saja keluar dari super market tersebut, dengan belanjaan mereka masing-masing.
"Sudah selesai Sayang?" tanya Aditia pada Dinda.
"Sudah Mas," jawab Dinda, sambil menganggukkan kepalanya.
"Terus kita mau kemana lagi nih?'' tanya Papah Mehendra.
"Makan aja yuk, Mamah laper nih," sahut Mamah Adelia.
"Gimana, Dit, Din?" tanya Papah Mehendra.
"Boleh Pah," jawab Dinda, diangguki oleh Aditia.
__ADS_1
"Ya sudah, Papah sama Aditia sana simpen dulu belajaan kita ke mobil, Mamah dan Dinda tunggu di sini," titah Mamah Adelia.
Aditia dan Papah Mahendra mengangguk, lalu mereka membawa balanja-belanjaan istri mereka itu, ke mobil terlebih dahulu.
"Azka tidur Din?" tanya Mamah Adelia.
"Iya Mah, anteng banget dia," jawab Dinda, seraya menatap baby Azka.
Tak lama kemudian, Aditia dan Papahnya kembali. Mereka semua langsung menuju salah satu Restoran yang ada di pusat perbelanjaan tersebut.
Mereka langsung memesan makanan mereka masing-masing. Tak lama makanan mereka datang, mereka langsung menyantap makanan mereka masing-masing. Sambil sesekali mengobrol.
"Setalah ini mau kemana kita?" tanya Aditia.
"Pulang aja Mas, sudah malam juga ini," jawab Dinda.
"Iya kita pulang aja, kasian juga baby Azka."
Mereka semua mengangguk, setelah menghabiskan makanan mereka masing-masing. Mereka langsung bergegas pulang, karna waktu memang sudah malam.
Sesampainya di rumah, Mamah dan Papah Mahendra langsung beristirahat. Begitu juga dengan Dinda dan Aditia. Setalah di kamar, Aditia langsung mandi, membersikan dirinya. Sementara Dinda, ia menidurkan terlebih dahulu baby Azka.
"Azka udah bobo lagi Sayang?" tanya Aditia, yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Sudah Mas, aku mandi dulu ya."
Dinda langsung bergegas menuju kamar mandi. Semantara Aditia ia langsung berganti pakaian, yang sudah di sediakan Dinda sebelumnya.
Tak lama kemudian Dinda terlihat sudah selesai mandi.
Dinda mengangguk, lalu tersenyum. Dinda pun mulai membaringkan tubuhnya di samping suaminya itu.
"Tidur, ini sudah malam. Kamu pasti lelah," ucap Aditia menarik Dinda ke dalam pelukannya.
Dinda memejamkan matanya, merasakan nyamannya pelukan suaminya itu. Namun beberapa saat kemudian, Dinda membuka mata kembali.
Pertemuan tak sengaja dengan Lisa, membuatnya gelisah. Apa lagi melihat Lisa yang tengah berbadan dua tadi.
"Kenapa Sayang?" tanya Aditia.
"Seperti kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanya Aditia lagi.
"Mas, tadi aku bertemu dengan mbak Lisa," ucap Dinda pelan.
"Oh," sahut Aditia singkat.
"Kok oh sih?"
"Ya terus Mas harus gimana sayang hmm?"
"Mbak Lisa hamil Mas!"
"Ya biarin, emang kenapa kalau dia hamil?"
"Kan, Mas sudah pernah cerita sama kamu, kalau emang Lisa itu bisa hamil, selama ini hanya membohongi kita saja!" lanjut Aditia.
"Iya Mas, aku tau! Maksud aku, apa anak itu anak Mas?" tanya Dinda ragu.
__ADS_1
"Hahaha..." Aditia tertawa. Mendengar ucapan istrinya itu. Sebenarnya Aditia sudah bisa menebak apa yang yang akan di katakan istrinya itu.
"Mas, kok ketawa sih? Aku serius Mas!" pekik Dinda, ia merasa kesal. Melihat suaminya yang malah tertawa itu.
"Lah terus Mas harus bagaimana Sayang hmm? Ya, kalau Lisa hamil ya biarin aja."
"Jadi benar mbak Lisa hamil anak Mas?" Dinda menatap wajah suaminya itu dengan tatapan penuh tanya.
"Bukanlah."
"Lalu, itu anak siapa? Bukannya Mbak Lisa baru saja keluar dari penjara?"
"Sini Mas, jelaskan," ucap Aditia.
"Kamu jangan mikir yang enggak-enggak dulu. Lisa emang hamil, tapi bukan anak Mas. Dia hamil anak suaminya, Lisa sudah lama keluar dari penjara, masa hukumannya hanya satu bulan saja."
"Jadi Mbak Lisa sudah menikah lagi?"
"Iya."
"Tapi kenapa perutnya terlihat besar sekali Mas?"
"Iya, katanya sih dia hamil baby twins."
Dinda terlihat mengangguk-anggukan kepalanya.
"Jadi Mas udah tau sebelumnya? Kenapa Mas gak pernah cerita sama aku?"
"Untuk apa? Emang itu penting hmm?"
"Ya, enggak juga sih." Dinda tersenyum kikuk.
"Ya Tuhan, maafkan aku, aku sudah berprasangka buruk tadi sama Mas Aditia. Syukurlah jika mbak Lisa sudah menemukan kebahagiaannya," batin Dinda.
"Sudah malam, ayo kita tidur," ajak Aditia. Dinda mengangguk.
"Sayang, gak ada niatan buat bikin adik buat baby Azka," bisik Aditia.
Dinda langsung melongo, membulatkan matanya.
Ya ampun, bikin adik buat baby Azka. Apa yang ada dipikiran suaminya, usia baby Azka masih menginjak 7 bulan juga.
"Hahaha...." Aditia tertawa, melihat ekspresi wajah istrinya itu.
"Bercanda sayang, ayo tidur!"
Bersambung....
Like
Komen
Vote
Jangan lupa ya!
Terima Kasih
__ADS_1