
"Tidak mas, aku tidak mau berpisah sama kamu mas. Aku sangat mencintai kamu mas. Aku mohon beri aku kesempatan mas, aku janji aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan meminta maaf pada Dinda, mamah dan papah juga. Aku akan cerita semuanya, kalau perlu aku akan bersujud di kaki mereka." Ucap Lisa memohon.
"Maafkan aku Lisa, aku terlalu kecewa sama kamu. Kamu sudah benar-benar keterlaluan."
"Lebih baik aku mati mas, dari pada aku harus berpisah dengan kamu!" Ucap Lisa, lalu ia berajak dari tempat duduknya, Lisa mengambil gunting dari laci meja kerja Aditia. Lisa mengarahkan guntung tersebut tepat ke depan perutnya.
Aditia terkejut, ia langsung menghentikan aksi gila istri pertamanya itu.
"Lisa apa kamu tidak waras hah?" Bentak Aditia, ia berusaha mengambil gunting tersebut dari tangan Lisa. Namun Aditia tak berhasil, dan...
Darah segar terlihat melumuri tangan Lisa, Lisa berhasil menusuk perutnya oleh Gunting yang tajam itu, gunting tersebut terlihat menancap diperutnya, darah segar terlihat mengalir deras dari sana. Aditia membulatkan matanya, Lisa benar-bener sudah gila. Pikirnya.
"Lebih baik aku mati saja mas," lirih Lisa. Ia merasakan sakit yang sangat hebat di bagian perutnya itu, darah segar terus keluar, membuat wajah Lisa mulai memucat, Lisa merasakan wajahnya mulai melemas dan penglihatan mulai buram, detik kemudian Lisa tak bisa melihat apa-apa lagi, semuanya terasa gelap.
"Lisa..." Teriak Aditia, ia langsung menahan tubuh Lisa yang ambruk. Dengan sangat panik dan wajah penuh kekhawatiran Aditia langsung mengangkat tubuh Lisa. Dengan cepat Aditia membawa Lisa menuju rumah sakit.
Aditia berjalan mondar-mandir di depan ruangan UGD, sudah hampir satu jam Aditia menunggu dokter yang menangani Lisa keluar dari ruangan tersebut.
"Aditia, Lisa kenapa?" Tanya mamah Amira, yang baru saja sampai di rumah sakit tersebut.
"Mah, Pah." Aditia menoleh kearah kedua orang tuanya itu.
"Jelaskan kenapa bisa seperti ini Aditia!" Pinta papah Mehendra. Aditia mengangguk, lalu ai menceritakan semuanya, pada kedua orang tuanya itu.
"Apa? Jadi si Lisa mau coba bunuh diri!" Ujar mamah Amira terkejut. Usia mendengar semua yang diceritakan oleh putranya itu.
Aditia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Lalu bagaimana keputusan Aditia?" Tanya papah Mehendra.
"Ih papah kok malah tanya keputusanya sih, kan tadi dia udah bilang kalau dia bakalan cerai sama Lisa!" Bukanya Aditia yang menjawab, tapi sang istri.
__ADS_1
"Iya papah tau mah, maksud pa---"
"Sudahlah Pah, mamah senang akhirnya Aditia terbuka matanya. Emang lebih baik Aditia dan Lisa berpisah, mamah tidak mau mempunyai menantu pendusta seperti dia, pembohong. Bahkan dia tidak mengakui orang tuanya sendiri, anak macam apa itu? Tidak tau diri sekali." Pungkas, mamah Amira memotong ucapan suaminya.
"Iya pah, yang dikatakan mamah benar. Lagian Aditia sudah kecewa pada Lisa, keputusan Aditia sudah bulat." Sahut Aditia.
"Bagus nak, mamah suka tindakan kamu ini. Kamu harus tegas menghadapi wanita seperti Lisa. Lagian kamu masih ada Dinda, dia lebih baik dari pada si Lisa itu. Kamu fokus sama dia, ingat dia itu sedang mengandung darah daging kamu." Tutur mamah Amira, diangguki oleh Aditia.
"Ya sudah terserah kalian saja, papah ngikut aja. Jika keputusan itu yang terbaik. Papah cuman mau ingetin kamu aja Aditia, akhirnya semuanya dengan baik-baik. Apa lagi Lisa tempramen."
"Iya pah, Aditia akan lakukan seperti yang papah ucapkan. Aditia akan mencoba bicara baik-baik sama Lisa."
"Oh iya, mamah sama papah jangan beritahu dulu hal ini pada Dinda." Lanjut Aditia.
"Iya kami mengerti, lagian kami ke sini Dinda tidak tau. Tadi dia sudah tidur." Ucap mamah Amira.
Tak lama kemudian, pintu ruangan UGD tersebut terbuka, dokter yang menangani Lisa keluar dari sana. Aditia dan kedua orang tuanya langsung menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya Aditia kepada dokter tersebut.
Aditia dan kedua orang tuanya terlihat terkejut, luka yang dialami Lisa ternyata bukan yang cukup serius.
"Apa kami bisa menemuinya dok?" Kini mamah Amira yang bertanya, walaupun ia kecewa pada menantunya itu, tapi ia sangat mengkhawatirkannya.
"Bisa bu, tapi ibu dan bapak harus secara bergantian melihatnya serta harus berpakaian steril."
"Iya dok!" Jawab mereka serentak.
***
Kini Lisa sudah di pindahkan ke ruang ICU.
__ADS_1
Wanita itu masih terbaring lemah dengan tubuh yang banyak ditempelkan peralatan medis.
Aditia dan kedua oran tuanya kini sudah berada di depan ruangan ICU tersebut.
Mereka tengah memandangi Lisa yang terbaring lemah itu dari kaca.
'Kasian sekali kamu Lisa, saya itu sebenarnya sangat menyayangi kamu, tapi saya kecewa sekali sama kamu, saya juga seorang wanita Lisa, saya tau bagaimana perasaan kamu. Tapi saya masih punya hati,' gumam mamah Amira.
"Aditia sebaiknya kamu temui Lisa dulu, mamah dan papah besok saja. Lagian ini sudah malam sekali, mamah tidak tenang meninggalkan Dinda di rumah." Tutur mamah Amira.
"Iya mah, Aditia titip Dinda ya. Dan jangan bilang ke Dinda soal kondisi Lisa sekarang. Aditia tidak mau sampai Dinda kepikiran."
"Iya kamu tenang saja!" Ucap mamah Amira seraya mengelus bahu putranya, "mamah sama papah pulang dulu ya," lanjutnya berpamitan. Aditia mengangguk, lalu kedua orang tuanya pun berlalu dari rumah sakit tersebut.
Setalah kepergian orang tuanya, Aditia memasuki ruangan tersebut, sebelum masuk Aditia memakai pakaian serba hijau dan tutup kepala seperti yang anjurkan oleh dokter.
Aditia berjalan menghampiri Lisa yang terbaring lemah itu, Aditia mengusap lembut kepala Lisa. "Lisa, maafkan aku. Ini semua gara-gara aku, maafkan aku Lisa. Tapi maaf aku tidak bisa merubah keputusanku, aku terlalu kecewa sama kamu Lisa, cepat sadar Lisa agar kita bisa menyelesaikan masalah ini." Lirih Aditia.
Ada rasanya tak tega melihat kondisi Lisa, entah bagaimana nantinya jika Lisa sudah sadar, Aditia berharap Lisa tidak melakukan hal yang merugikan dirinya sendiri lagi. Aditia tau Lisa tidak akan menerima begitu saja atas keputusan Aditia. Tapi Aditia sudah bertekad untuk bicara baik-baik dengan Lisa, mengakhiri semuanya. Mungkin memang ini jalan yang terbaik untuk mereka, sudah cukup Aditia menyakiti Lisa, sudah cukup pula Aditia menyakiti Dinda.
Cukup lama Aditia menatap Lisa, malam semakin larut, matanya sudah mulai mengantuk, tak sadar Aditia pun tertidur dengan posisi duduknya.
Lisa terlihat mengerakkan jari-jemarinya, sudut matanya terlihat menitihkan air mata.
Bersambung...
Like
Komen
Vote
__ADS_1
Jangan lupa ya.
Terima kasih.