
"Alhamdulillah Din, akhirnya kamu bangun juga," ucap Aditia. Ia langsung memeluk istrinya itu.
"Saya akan memeriksa keadaan Bu Dinda dulu," ucap Dokter. Aditia mengaggukan, seraya melapaskan pelukannya.
Dokter langsung memeriksa kondisi Dinda. Dokter tersenyum lebar usai memeriksa.
"Ini benar-benar keajaiban. Kondisi Bu Dinda sudah benar-benar stabil, kemungkinan besok Ibu sudah boleh pulang," tutur sang Dokter.
"Alhamdulillah," seru Aditia dan kedua orang tuanya.
"Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Dokter, diangguki oleh mereka. Dokter pun berlalu dengan ke dua susternya meninggalkan ruangan tersebut.
"Mas, apa itu anak kita?" tanya Dinda. Aditia mengangguk lalu memberikan baby Azka kepada Dinda.
Dinda menggendong bayi mungilnya itu untuk pertama kalinya, perasaan sekarang sulit diucapkan dengan kata-kata. Terharu, bahagia, sedih juga ada. Mengingat berapa lama ia koma, kini ia melihat bayinya sudah tumbuh menggemaskan.
"Maafin bunda Nak," ucap Dinda, ia mengelus wajah bayi mungilnya itu dengan jari-jarinya.
Aditia serta kedua orang tuanya, tak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka. Akhirnya doa-doa mereka di kabulkan Tuhan.
"Berapa lama aku koma Mas?" tanya Dinda, mengalihkan pandangannya dari sang Bayi kepada suaminya.
"6 bulan," jawab Aditia.
"6 bulan?" Dinda mengulang ucapan suaminya itu. 6 Bulan dia koma.
"Iya sayang, kamu 6 bulan koma," sahut Mamah mertuanya. Mamah mertuanya itu berjalan mendekati Dinda.
"Kamu tau Din, kami hampir putus asa. Tapi Tuhan memberikan keajaiban pada kamu," lanjutnya sambil menarik Dinda ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku Mah," lirih Dinda, sambil terisak tangis di dalam pelukannya Mamah mertuanya itu.
__ADS_1
"Jangan minta maaf sayang, ini sudah kehendak Tuhan."
"Terima kasih Mah, terima kasih Mamah sudah menjaga bayiku, maafkan Dinda Mah, Dinda selalu merepotkan Mamah,"
"Jangan bicara seperti itu sayang. Mamah sangat menyayangi kamu, seperti anak kandung Mamah sendiri. Mamah tidak merasa di repotkan selama ini." Lalu Mamah Mertuanya perlahan melepaskan pelukannya pada Dinda.
"Sudah jangan menangis," lanjut seraya mengusap lembut air mata Dinda yang membasihi wajahnya. Dinda mengangguk lalu tersenyum.
"Siapa nama anak kita Mas?" tanya Dinda pada Aditia.
"Azka," jawab Aditia sambil tersenyum.
"Hay Baby Azka, maafin bunda ya. Bunda terlalu lama tertidur, jadi Bunda gak jagain Azka," ucap Dinda berbicara pada bayi mungilnya itu, yang kini terlihat tertidur lelap di pangkuannya.
"Mas, aku lapar, haus juga!'' ucap Dinda pada Aditia.
"Ya sudah biar Mamah dan Papah saja belikan makan untuk kalian, sekalian juga Mamah dan Papah belum makan siang," sahut Mamah Aditia.
"Yuk, Pah,'' lanjutnya mengajak sang suami. Tanpa menunggu jawaban dari Aditia dan Dinda, keduanya berlalu begitu saja, keluar dari ruangan tersebut.
Seketika suasana menjadi hening. Aditia menatap Dinda yang tengah memperhatikannya Bayinya, senyuman terus terulas dari bibir wanita itu. Betapa bahagianya Dinda, ia tak menyangka jika saat ini, ia sudah menjadi seorang Ibu.
Aditia membuang napas berat, ia merasa di acuhkan oleh Dinda, yang fokus pada anak mereka.
"Apa dia tidak rindu padaku? Kenapa baby Azka saja yang diperhatikannya? Kenapa dia tidak bertanya apa gitu padaku?'' batin Aditia.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Dinda, menatap Aditia bingung, apa lagi kini Dinda melihat wajah suaminya itu di tekuk.
"Mas," panggil Dinda.
"Eh iya, kenapa?" tanya Aditia, yang baru saja tersadar dari lamunannya, konyolnya itu.
__ADS_1
"Mas kenapa hmm? Kenapa cemberut begitu? Jelek tau!" goda Dinda.
"Jadi Mas udah gak genteng lagi sekarang nih?" tanya Aditia, semakin menekuk wajahnya. Membuat Dinda terkekeh.
"Apaan sih Mas? Kok merajuk gitu? Gak malu nih sama Azka?" lagi-lagi Dinda menggodanya.
"Biarin, lagian dari tadi Mas dicuekin terus. Sekarang fokusnya sama baby Azka!'' sahut Aditia, mengalihkan pandangannya dari Dinda.
"Ya ampun Mas, jadi ceritanya. Mas cemburu sama Azka, konyol sekali Mas. Cemburu sama anak sendiri," ucap Dinda diiringi dengan tawa renyahnya.
"Siapa bilang aku cemburu sama Azka! Gak tuh, Mas cuman kesel aja. Kamu bangun gak tanya kondisi Mas gimana? Rindu gak sama Mas? Kamu tau Din, Mas hampir gila, liat kamu gak bangun-bangun tau gak!" ucap Aditia.
Dinda langsung menghentikan tawanya, mendengar ucapan suaminya barusan. Dinda merasa sangat bersalah.
"Maafkan aku Mas," lirih Dinda dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Sayang, jangan menangis," Aditia langsung mendekap Dinda.
"Maafin aku Mas, aku selalu merepotkan Mas,"
"Suut..." Aditia membekam mulutnya Dinda dengan jarinya.
"Jangan bicara seperti itu sayang. Mas sangat mencintai kamu, jangan tidur lama-lama lagi. Mas gak bisa hidup tanpa kamu Din," lanjut Aditia.
"Aku juga sangat mencintai kamu Mas," balas Dinda.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan Votenya.
Menuju ending guys. Tenang gak akan ada konflik lagi.
__ADS_1
Wkwkwk...
Terima kasih.