Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 57. Pura-Pura bahagia?


__ADS_3

Lisa kini sudah kembali ke rumah, ia hanya sebentar tadi mengunjungi orang tuanya. Dengan wajah yang masih kesal, pertemuan dengan si Riki itu benar-benar membuat mode kesal Lisa on.


Mobil Aditia terlihat sudah berada di garasi, menandakan kalau suaminya itu sudah pulang.


"Sepertinya Mas Aditia dan Dinda sudah pulang," gumam Lisa. Lisa pun keluar dari mobilnya lalu ia melangkah memasuki rumah.


Suara tawa renyah menyambut di telinga Lisa, saat ia memasuki rumah tersebut. Seperti Aditia dan Dinda tengah bercanda, entahlah Lisa hanya menebak saja.


"Asalamua'allaikum," ucap Lisa. Namun tidak ada sahutan sama sekali dari mereka. Seperti mereka tengah asik. Tanpa menunggu jawaban salamnya dari Aditia dan Dinda, Lisa terus berjalan masuk. Lisa mengehentikan langkahnya, saat melihat suami dan madunya itu tengah duduk di sofa ruang tengah. Aditia terlihat tengah baring dengan di sana, dengan paha Dinda yang dijadikan alas bantalnya.


Tawa bahagia terlihat terpancar dari wajah suami dan madunya itu, Dinda terlihat mengelusi puncuk kepala Aditia, Aditia yang berbaring dengan tangan yang tengah mengelus perut buncit Dinda. Sungguh pemandangan yang teramat menyakitkan, apa Lisa boleh iri? Dulu...


Lisa dan Aditia selalu melakukan hal itu, bercanda sambil bermesraan di sofa. Sungguh Lisa merindukan masa-masa kebersamaan dengan suaminya itu.


Mata Lisa mulai memanas, sebisa mungkin ia menahan sesak di hatinya, dan air mata yang sudah membendung di pelupuk matanya. Tidak, Lisa tidak boleh seperti ini. Tapi sampai kapan dia bisa bertahan dalam posisinya sekarang? Lelah rasanya, pura-pura bahagia. Seperti sudah tidak ada cela lagi untuk Lisa mendapat perhatian, kasih sayang dan cinta suaminya itu.


Dengan hati yang berat, Lisa kembali melanjutkan langkah kakinya.


"Kalian sudah pulang?" Lisa bertanya seraya berjalan mendekati suami dan madunya itu.

__ADS_1


Dinda dan Aditia refleks menoleh kearah Lisa, Aditia langsung bangkit, ia membenarkan posisinya, duduk di samping Dinda. Sementara Dinda, ia langsung menunduk kepalanya, entahlah ia merasa tidak enak hati pada Lisa.


"Kamu dari mana?" Aditia berbalik bertanya.


"Aku habis dari rumah Ibu dan Bapak," jawab Lisa. Sebisa mungkin ia bersikap baik-baik saja, walaupun hatinya sangat-sangat terluka. Sebuah senyum terbit di bibir Lisa, tentu saja senyuman terpaksa.


"Oh," sahut Aditia singkat.


"Ya sudah, aku ada kerja sedikit, aku ke ruang kerja dulu ya," lanjut Aditia. Berpamitan seraya berajak dari duduknya.


Lisa dan Dinda mengangguk kepala mereka. Setalah itu Aditia--pun berlalu dari sana. Sebenarnya Aditia hanya beralasan saja, tidak ada kerjaan yang harus ia kerjaan sebenernya, hanya saja jika Aditia tetap di posisinya itu, ia merasa sangat canggung, berhadapan dengan kedua istrinya. Tepatnya bingung, harus mengobrol apa?


"Aku juga ke kamar dulu ya Din," pamit Lisa. Ia berajak dari sana.


Lisa menoleh kearah Dinda, sebelum itu Lisa membuang napasnya terlebih dahulu, mencoba menetralkan perasaannya.


"Iya, kenapa Din?" tanya Lisa, sambil menampakan senyuman palsunya.


"Maaf..." lirih Dinda. Ia menunduk kepalanya, jujur saja Dinda tidak enak dengan Lisa, karna tadi Lisa melihat ia dan Aditia bermesraan.

__ADS_1


"Untuk?"


Dinda terdiam, entahlah bagaimana ia mengatakan pada istri pertama suaminya itu?


Lisa sudah bisa menebak apa maksud dari perkataan Dinda barusan, "tidak apa-apa Din. Mas Aditia juga suami kamu," lanjut Lisa. Seolah perkataan Lisa itu menjawab semua pernyataan yang belum sempat Dinda sampaikan.


Lisa mengangkat kepalanya, lalu ia melihat kearah Lisa. Lisa tersenyum kembali saat Dinda menatap kearahnya, Dinda membalas senyuman Lisa.


Lisa mencoba menyakinkan madunya itu, kalau ia baik-baik saja, padahal dalam hatinya benar-benar hancur. Sakitnya sudah tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata lagi, sudahlah cukup Lisa dan yang maha kuasa saja yang tahu.


Setalah itu Lisa kembali berjalan, ia menaiki anak tangga menuju lantai dua, dimana kamarnya berada.


Setelah sampai kamar, Lisa menutup pintu kamarnya rapat-rapat dan menguncinya.


Tangis Lisa pecah, ia sudah tidak sanggup lagi menahan kesedihannya. Menangis, itulah yang bisa Lisa lakukan saat ini.


"Aku lelah, rasanya aku ingin mengakhiri semuanya!" lirih Lisa disela isakkan tangisnya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like, komen dan Vote dulu.


Terima kasih.


__ADS_2