
Tak lama kemudian, Aditia terlihat keluar dari kamar mandi tersebut, hanya menggunakan handuk yang terlilit di pinggang, bertelanjang dada, menampakan bada bidang bak roti sobeknya.
Dinda tersenyum, sambil menahan rasa terkejutnya saat melihat suaminya yang bertelanjang dada tersebut.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Tanya Aditia, seraya berjalan mendekati Dinda.
"Eem, tidak kok!" Sangkal Dinda, "eem, mas malam ini tidur di sini?" Lanjutnya bertanya, Aditia mengangguk. Lalu dengan santainya, Aditia memakai pakaiannya, yang sudah di sediakan oleh Dinda tadi. Aditia melepaskan handuk yang sedari tadi melilit di pinggangnya.
"Aaaaa....." Teriak Dinda, lalu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Bagaimana tidak? Dinda melihat jelas adik kecil dibawah sana yang menggantung.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Aditia, kebingungan.
"Itu mas," Dinda menunjuk kearah adik kecil milik suaminya itu, dengan sebelah tanganya, dan tangan yang sebelahnya lagi, masih menutupi matanya.
Aditia mengikuti arah tangan Dinda yang menunjuk kearah adik kecilnya itu, "aku kira apaan? Ayolah sayang, kenapa harus menutup matamu, aku ini suamimu, kamu istriku, tidak ada yang perlu ditutup-tutupi bukan. Bahkan kamu sudah merasakannya!" Sahut Aditia dengan santainya, "eem, atau kamu mau memegangnya," lanjut Aditia. Ia meraih tangan Dinda, lalu mendekatkan tangan itu kearah adik kecilnya. Namun dengan segara Dinda menepis tangan suaminya itu.
"Mas, aku malu." Ucap Dinda, ia langsung berjalan menuju ranjang, lalu berbaring di atas ranjang tersebut dan menarik selimut sampai menutupi kepalanya. Sementara Aditia, ia terkekeh melihat tingkah istrinya itu. Aditia pun melanjutkan memakai pakaiannya.
Setelah itu, ia langsung menyusul sang istri naik ke atas ranjang. Aditia menyelusup dibalik selimut. Membuat Dinda terkejut.
"Jangan teriak, sudah malam ayo kita tidur." Bisik Aditia, menutup mulut Dinda dengan tangannya, saat istrinya itu akan berteriak.
Dinda mengangguk, lalu Aditia melepaskan tanganya, dan langsung mengalihkan tanganya itu melingkar di pinggang sang istri.
"Selamat malam sayang." Lanjut Aditia, seraya mengeratkan pelukannya.
'Bagaimana aku bisa berhenti mencintaimu mas, lihatlah sikapmu ini membuatku semakin berharap padamu. Apa aku egois jika aku ingin memilikimu dan tak mau berbagi?' gumam Dinda.
Dengkuran halus terdengar dari bibir Aditia, menandakan bahwa ia sudah masuk ke dalam dunia mimpinya. Tak lama Dinda pun menyusul suaminya itu, tak dapat dipungkiri tidur bersama suaminya, membuatnya merasa sangat nyaman.
***
"Pergi kamu dari sini," usir Riki. Seraya menyeret koper dan melemparkan koper tersebut kehadapan Bella.
__ADS_1
"Kak, aku mohon. Jangan mengusirku. Aku tidak punya tempat tinggal lagi kak, aku mohon maafkan aku," lirih Bella. Berucap dengan bibir bergetar, memohon agar Riki tidak mengusirnya.
"Cukup Bella, jangan drama lagi. Pergi dari sini atau aku yang akan menyeret kamu kaluar." Bentak Riki.
"Kak, apa kamu tidak kasian. Aku sedang hamil kak, malam-malam begini aku harus kemana, aku mohon belas kasihan kamu kak," lagi-lagi Bella memohon.
"Kasian? Aku tidak akan pernah mengasihani wanita seorang kamu."
"Kamu jahat kak, kamu tidak punya hati!"
"Apa kamu bilang? Aku jahat? Apa kamu tidak sadar diri hah? Kamu lebih jahat, kamu yang lebih kejam. Kamu tau Bella, kamu sudah menghancurkan hubunganku dengan Dinda dan gara-gara kamu juga Dinda jadi menikah dengan orang lain, gara-gara kamu juga, om Atmaja sampai meninggal!"
"Cukup!" Teriak Bella, "baiklah aku akan pergi, tapi ingat aku tidak akan membiarkan kakak bahagia dengan wanita lain, tanpa terkecuali kak Dinda, jika aku tidak bisa memiliki kakak, maka orang lain pun tidak!" Tegas Bella, lalu ia keluar sambil menyeret kopernya.
"Dengar ya, aku tidak takut sama sekali dengan ancaman kamu. Dasar wanita licik," teriak Riki.
Bella berjalan tanpa arah dan tujuan, dengan perut yang sudah membuncit, Entah harus kemana ia sekarang, uang pun tidak punya.
Miris sekali memang nasibnya.
Bella masih terus berjalan, entah sudah seberapa jauh ia berjalan, hingga kini ia sudah merasakan kakinya pegal, Bella berhenti di sebuah halte, meregangkan sebentar kakinya, malam sudah sangat larut, harus kemana ia pergi, ditambah suasana sudah sangat sepi. Bella menoleh kearah kiri dan kanan, namun tidak ada orang sama sekali di sekitar sana.
"Ya ampun, dimana aku? Kenapa sepi sekali." Ucap Bella.
"Aaaaa..." Bella berteriak, saat merasakan ada tangan yang memeganginya, lalu tangan tersebut membekam mulutnya. Dan setalah itu Bella tidak ingat ingat apa-apa, Bella pingsang akibat obat bius yang diberikan oleh orang yang tidak ia kenal itu.
Dua orang laki-laki itu langsung membawa Bella yang tidak sadarkan diri tersebut, masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya.
["Hallo bos, kita sudah menemukan wanita itu. Dia sudah bersama kita sekarang!"] Ucap satu orang laki-laki tersebut dalam sambungan telpon.
["Bagus! Bawa dia langsung ke apartemenku."]
["Baik bos."] Jawabannya. Lalu sambungan telepon terputus.
__ADS_1
"Aku tidak akan melepaskan kamu lagi, dasar gadis nakal." Ucap seorang laki-laki. Ia adalah bos dua orang tadi yang membawa Bella.
"Lihat saja, aku akan membalas perbuatan kamu!" Lanjutnya, senyum penuh kemenangan terulas dari wajahnya.
***
"Bella... Bella... Bella..." Panggil Dinda merancau, namun matanya masih terpejam.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Aditia, ia langsung menepuk-nepuk pipi Dinda dengan pelana.
"Bella..." Teriak Dinda. Ia langsung membuka matanya, keringat dingin terlihat bercucuran dari pelipis keningnya. Dinda baru saja memimpikan Bella adiknya.
"Sayang kamu mimpi apa? Kanapa kamu manggil-manggil Bella, bukannya Bella itu adik kamu?'' Ucap Aditia, ia mengusap lembut keringan dingin di pelipis kening istri mudanya itu.
"Bella mas, aku mimpiin Bella," ucap Dinda, dengan mata yang terlihat berkaca-kaca, "mas aku takut Bella kenapa-napa mas!" Lanjutnya air mata kini lolos tak terbendung lagi dari pelupuk matanya.
Dinda benar-benar tidak enak hati, ia memimpikan Bella, kejadian buruk menimpa kepada adiknya itu.
"Tenang sayang, sudah jangan menangis. Mimpi itu hanya bunga tidur. Doakan saja agar dia baik-baik saja!" Aditia menarik Dinda kedalam pelukannya. Mengelus kepala Dinda dengan lembut lalu mendaratkan kecupan di kening istri mudanya itu.
"Sudah sebaiknya kita tidur lagi ya!" Ajak Aditia, Dinda mengangguk pasrah.
'Ya tuhan lindungilah adikku, aku mohon. Bella bagaimana kabar kamu dek? Kakak rindu kamu, apa kamu mas Riki menikahimu?' batin Dinda.
Dinda tidak bisa lagi memejamkan matanya, pikirannya benar-benar tidak tenang. Sementara Aditia, ia sudah kembali lelap.
'Besok aku harus menemui Bella, aku minta izin sama mas Aditia gak ya? Jika minta izin aku yakin mas Aditia tidak akan mengizinkan. Apa aku minta izin sama mamah dan papah aja ya? Ya aku minta izin sama mereka saja. Mereka pasti mengerti posisiku,' gumam Dinda.
Bersambung...
Jangan lupa, like, komen dan Votenya.
Terima kasih.
__ADS_1
I love you..