
Dengan terpaksa akhirnya mamah Amira mengiyakan keinginan Dinda untuk menemui Lisa. Karna takut terjadi hal yang tidak diinginkan papah Mahendra pun ikut serta menemani mereka. Sementara itu, Aditia yang diberitahu oleh mamah Amira, bahwa Dinda ingin menemui Lisa, awalnya menolak tak mengizinkan Dinda pergi kerumah sakit. Namun dengan beribu macam cara Dinda mencoba meluluhkan dan meyakinkan Aditia, kalau ia pasti baik-baik saja. Hingga akhirnya Aditia pun pasrah.
Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung berjalan menuju ruang rawat Lisa.
"Asalamua'allaikum," ucap mereka bersamaan, seraya membuka pintu ruangan tersebut. Tidak ada sahutan dari dalam sana, karna Lisa kini tengah tertidur.
Dinda berjalan mendekati Lisa, ia duduk di kursi yang ada di sana.
"Mbak, maaf aku baru datang menjenguk mbak," ucap Dinda. Ia meraih tangan Lisa dan mengelusnya. 'Cepat pulih ya mbak, maafkan Dinda, jika mbak Lisa seperti ini gara-gara Dinda. Maafkan Dinda mbak,' lanjut Dinda berucap dalam hatinya.
Sementara mamah Amira dan papah Mahendra, mereka kini tengah duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut sambil memperhatikan Dinda, jujur saja keduanya takut, takut kalau Lisa bangun. Wanita itu akan mengamuk, mengamuk kepada Dinda dan melukai Dinda.
"Pah sebaiknya kita ajak pergi saja Dinda sekarang ya!'' bisik mamah Amira kepada suaminya.
"Biarkan saja dulu mah," sahut papah Mahendra.
"Tapi Pah, mamah takut terjadi apa-apa sama Dinda."
Jari jemari Lisa terlihat bergerak, perlahan matanya terbuka. Dinda segara melepaskan tanganya dari tangan Lisa.
"Dinda," panggil Lisa dengan suara pelan, sambil menoleh kearah Dinda.
"M--mbak L--lisa." Sahut Dinda gugup. Hatinya mulai merasa takut.
"Mamah, papah." Ucap Lisa, seraya melihat kearah kedua mertuanya itu.
"Lisa." Sahut mereka, lalu berjalan mendekat kearah Lisa.
"Sejak kapan kalian disini?" Tanya Lisa dengan senyuman sumringahnya, "kenapa tidak membangunkan aku," lanjutnya.
Mamah Amira dan papah Mahendra serta Dinda saling melemparkan pandangan mereka, apa mereka terlalu berlebih terhadap Lisa, pikirnya.
"Baru saja kok mbak." Jawab Dinda seraya membalas senyuman istri pertama suaminya itu.
Lisa terlihat menyandarkan tubuhnya, bagian perutnya masih terasa nyeri, Dinda yang melihat Lisa terlihat kesusahan itu membantunya.
__ADS_1
"Ayo aku bantu mbak."
"Terima kasih." Ucap Lisa tulus, "mas Aditia mana?" Lanjutnya bertanya.
"Aditia tidak ikut, dia lagi sibuk di kantor." Jawab mamah Amira dengan sedikit ketus. Lisa menganggukkan kepalanya mengerti. Entah menagapa mamah Amira, papah Mahendra serta Dinda merasa ada yang aneh dengan sikap Lisa.
"Mah, Pah. Boleh aku bicara dengan Dinda berdua saja?" Tanya Lisa, ia meminta izin kepada dua mertuanya itu.
Papah Mahendra dan mamah Amira saling menatap, Lisa meminta untuk berbicara berdua saja dengan Dinda? Tunggu, itu arti mereka harus meninggalkan Dinda bersama Lisa. Tidak akan, mereka masih takut Lisa menyakiti Dinda lagi. Cukup putranya saja yang bodoh, mereka tidak akan ikut-ikutan.
"Kalau mau bicara ya bicara saja!" Jawab mamah Amira ketus. Langsung mendapat tatapan tajam dari sang suami.
Papah Mahendra merasa tidak enak dengan sikap sang istri yang jutek terhadap Lisa tersebut mencoba untuk memberi pengertian kepada Lisa namun, belum saja ia selesai berkata.
"Begini maksud mamah kamu Lis---"
"Aku bukan mamahnya," pungkas mamah Amira semakin ketus, memotong ucapan suaminya itu. Papah Mahendra hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Iya pah, Lisa ngerti kok." Sahut Lisa.
"Bukan sama mamah juga, sama papah juga. Maafkan Lisa Pah." Lanjutnya, air mata kini terlihat sudah mengalir deras dari pelupuk mata Lisa.
Mamah Amira tak menyahut, entah kenapa ia merasa tidak iba sedikit pun melihat Lisa yang sudah menangis sendu seperti itu.
Pikirnya mungkin hanya drama, akting semata.
"Yang sudah-sudah. Biarlah berlalu Lisa, papah dan mamah sudah memaafkan kamu kok. Yang terpenting sekarang kamu sudah menyesalinya dan memperbaiki semuanya, terutama kepada kedua orang tua kamu, temui dia, minta maaf dengan tulus pada mereka. Dan satu lagi, Dinda." Tutur papah Mahendra dengan lembur, lalu ia mengingatkan Lisa untuk memperbaiki perilaku kepada Dinda.
"Dinda," panggil Lisa, ia meraih tangan madunya itu. "Maafkan aku ya, selama ini aku sudah banyak salah sama kamu."
"Mbak, sebelum mbak minta maaf, Dinda sudah terlebih dahulu memaafkan mbak. Yang terpenting sekarang, mbak ingat apa yang sudah dikatakan papah tadi, yang dikatakan papah benar."
"Iya Din, aku ngerti. Aku menyesal. Terima kasih kalian sudah mau memaafkan aku, aku berjanji, aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan benar-benar ikhlas menerima kamu sebagai maduku Din, aku rela berbagi cinta dengan kamu."
"Hedeh, mamah pusing. Ayo kita pergi Pah." Ajak mamah Amira, ia menarik tangan suaminya itu keluar dari ruangan tersebut. Sementara papah Mahendra, ia pasrah mengikuti langkah sang istri.
__ADS_1
"Mah, mamah mau kemana?" Teriak Dinda. Namun tak disahut oleh mertuanya itu. Dinda terlihat akan menyusul mamah dan papah mertuanya itu, namun ditahan oleh Lisa.
"Din, biarkan saja." Ucap Dinda. Dinda bingung harus bagaimana, apa ia harus tetap di sini atau menyusul kedua mertuanya. Jika ia tetap disini, bagaimana kalau nanti kedua mertuanya marah, selain itu juga bagaimana kalau Lisa melukainya. Tapi melihat tatapan Lisa yang mengiba, akhirnya Dinda memutuskan untuk tidak menyusul mereka.
"Iya mbak." Ucap Dinda, ia duduk kembali di kursinya. 'Ya tuhan tolong lindungi hampa," lanjut Dinda berucap dalam hatinya.
"Dinda kamu tidak apa-apakan?" Tanya Lisa, melihat raut wajah Dinda yang terlihat ketakutan itu.
"E--enggak kok mbak." Jawab Dinda, sebisa mungkin ia membuang rasa takut yang menghantuinya itu, dan mencoba bersikap biasa-biasa saja.
Lisa tersenyum kepada Dinda, "selamat Din kamu memang!" Ujar Lisa.
Dinda mengerutkan alisnya, menatap bingung kepada Lisa, apa maksud perkata Lisa?
"Maksud mbak?"
Lisa mengalihkan pandangannya, ia mantap langit-langit ruangan rawat tersebut, "aku pikir mas Aditia sangat mencintaiku, tapi ternyata aku salah. Aku memang wanita bodoh, aku pikir dengan mas Aditia menikah lagi dengan kamu, lalu kamu memberikan anak untuk kami, kami akan jauh lebih bahagia dari sebelumnya. Tapi ternyata aku salah, justru semenjak kehadiran kamu kebahagianku mulai terkikis, tapi aku tidak menyalahkan kamu Din. Kamu adalah korban, korban keegoisanku, aku ingat perkataan pertama kamu memasuki rumah tanggaku. Kamu benar tidak ada wanita yang ingin cintanya terbagi, aku membenarkan ucapan kamu itu Din. Dan sekarang, posisi kita berbalik Din, kamu menjadi prioritas mas Aditia dan aku? Kamu berhasil Din, kamu berhasil membuat mas Aditia jatuh cinta sama kamu."
"Mbak, aku tidak bermaksud menggeser posisi mbak dihati mas Aditia. Mbak jangan berpikir yang tidak-tidak, mas Aditia masih mencintai mbak, semua yang mbak katakan itu salah mbak."
Jujur saja mendengar ucapan Lisa, yang mengatakan kalau dirinya sekarang adalah prioritas utama untuk Aditia, Dinda berpikir, apa sakarang dia benar-benar sudah menjadi pelakor?
"Tidak, kamu bohong. Kamu tau hah, mas Aditia bahkan bilang akan menceraikan aku!" Teriak Lisa, dengan wajah yang memerah penuh marah. Mendengar suara Lisa yang keras itu membuat Lisa ketakutan, ia segara berajak dari kursi yang ia duduki, berusaha untuk menjauh dari Lisa. Namun ketika Dinda akan melangkah, tanganya di tarik oleh Lisa.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan Votenya ya.
Terima kasih.
Panggilan mamah Amira sama papah Mahendra guys, tuh Dinda takut diapa-apain sama si Lisa, atau enggak telpon Aditia gih.
Wkwk, salam sayang dari author.
Bye....
__ADS_1