
Usai melihat bayi Bella, kini mereka berjalan menuju ruangan rawat Bella. Bella terlihat belum sadarkan diri, namun dokter mengatakan bahwa kondisinya sudah stabil.
Perlahan Dinda mendekat kearah adiknya itu, beberapa bulan tidak bertemu ada rasa rindu yang menggebu di hati Dinda. Kekecewaan terhadap Bella lebur begitu saja, saat Dinda melihat wajah sang Adik yang masih berbaring lemah tersebut, ditambah dengan penjelasan Reza, yang mengatakan bahwa Bella sudah menyesali semua perbuatan.
"Bella," panggil Dinda lirih seraya mengelus puncuk kepala Bella. Air mata lolos begitu saja dari pelupuk mata indah milik Dinda.
"Cepat sadar dek, bayimu membutuhkan kamu," ucap Dinda lagi.
Sementara Reza dan Aditia, mereka hanya diam sambil melihat kearah Dinda dan Bella.
Jari-jari Bella terlihat bergerak, perlahan Bella membuka matanya. Bella menatap ke sekitar ruangan tersebut.
"Dimana aku,'' ucap Bella. Suaranya terdengar masih lemah.
"Bella, syukurlah kamu sudah sadar dek,'' ujar Dinda. Ia mengusap air matanya, seulas senyum terukir di bibir Dinda.
"Kak Dinda," Bella melihat kearah kakaknya itu. Ia terkejut melihat sang Kakak yang sudah ada di sana.
Namun tak bisa dipungkiri juga Bella merasa bahagia, akhirnya ia bisa bertemu dengan sang kakak.
Dinda langsung memberikan pelukan pada Bella, Bella membalas pelukan hangat dari sang kakak. Keduanya sama-sama menumpahkan kerinduan yang selama ini terpendam. Cukup lama mereka saling berpelukan dengan air mata yang bercucuran membasahi wajah mereka. Perlahan Dinda melapaskan pelukannya, ia menatap lekat wajah sang Adik.
"Kak, kenapa Kakak bisa di sini?" tanya Bella. Lalu Bella mengalihkan pandangannya pada dua laki-laki yang berdiri di belakang Dinda.
"Ceritanya panjang dek, nanti kakak akan jelaskan. Lebih baik sekarang kamu fokus saja dulu dengan kesembuhan kamu," ujar Dinda.
"Kak bayiku mana?" tanya Bella lagi.
"Ada baby, bayi kita masih di ruang rawat bayi," Reza menyahut pertanyaan Bella.
"Aku tidak bertanya padamu!" pekik Bella. Ia mengalihkan pandangannya. Reza hanya terkekeh melihat tingkah wanita itu, lebih tepatnya gemas. Mungkin jika tidak ada Dinda dan Aditia, Reza sudah memberikan cubitan pada hidung ibu dari anaknya itu.
"Jangan bicara seperti dek, diakan ayah dari bayi kamu," ujar Dinda. Mengingat Bella.
Bella kembali menatap kearah Dinda, beribu pertanyaan menari-nari dibenak Bella.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kak Dinda tau kalau Reza ayah dari anakku? Dan sebenarnya apa hubungannya Reza, kak Dinda dan laki-laki yang ada di sampingnya itu?" gumam Bella.
"Kenapa? Pasti bingung ya?" tanya Reza pada Bella.
"Kak, apa kakak bisa menjelaskannya? Aku sungguh tidak mengerti? Kenapa Kakak bisa tau semuanya?" cerca Bella.
"Kakak ipar, biar aku saja yang menjelaskan," sahut Reza.
"Tidak mau, aku ingin mendengar penjelasan dari kakakku, bukan dari kamu!" tolak Bella.
"Sebaiknya, mungkin Reza saja yang menjelaskan dek," ucap Dinda.
Bella mendengus kesal, tapi ya sudahlah. Dari pada ia bingung sendiri, lebih baik laki-laki itu saja yang menjelaskannya. Bella mengangguk pasrah, senyuman penuh kemenangan terpancar dari wajah Reza.
"Ya sudah, ayo cepat jelaskan!" pinta Bella.
"Jadi gini, sebelumnya aku tidak tau kalau kakak kamu itu adalah Dinda yang ini....." Reza mulai menceritakan semuanya. Reza juga mengatakan pada Bella bahwa ia sudah menjelaskan semuanya pada Dinda, kalau sebenarnya anak yang dilahirkan Bella itu anak Reza.
"Jadi kak Reza itu, sahabatnya suami kak Dinda?" tanya Bella, usai Reza menceritakan semuanya.
Dinda mengangguk, "iya dek. Ini suami kakak. Kenalkan ini mas Aditia," ujar Dinda. Memperkenalkan Aditia pada Adiknya itu.
"Seperti aku pernah melihat suami kakak Dinda, tapi di mana ya?'' batin Bella. Ia merasa tidak asing dengan wajah Aditia.
"Kakak, aku minta maaf..." lirih Bella pada Dinda.
"Aku tau aku salah, aku egois. Maafkan aku kak," lanjutnya masih dengan lirih. Wajah penuh penyesalan terlihat jelas dari wajah Bella.
"Sudah dek, yang lalu biarlah berlalu. Kakak sudah melupakannya, kakak juga sudah memaafkan kamu," ujar Dinda.
"Aku menyesal kak, maafkan aku. Aku pikir dengan menjebak Kak Riki dan menikah dengannya, kak Riki akan menyukaiku, tapi ternyata tidak. Justru sebaliknya, Kak Riki membenciku, dia sangat mencintai kakak, dia tidak bisa menerimaku. Apalagi pas semua kebusukkan aku terbongkar dia langsung menceraikan aku kak," jelas Bella.
"Sudah Bella, ini semua sudah takdir. Yang sudah terjadi, biarlah berlalu, jadikan saja pelajaran untuk kamu. Sekarang kamu jangan banyak pikiran, fokus saja sama kesembuhan dan juga bayi kamu," ujar Dinda.
"Terima kasih kak, aku menyayangimu," ucap Bella tulus.
__ADS_1
"Kakak juga sangat menyayangi kamu dek," balas Dinda.
Sementara Aditia, entah mengapa hatinya merasa panas, saat Bella mengatakan pada Dinda kalau Riki masih sangat mencintai istrinya itu. Ada rasa tak terima di hatinya. Seperti Aditia merasa cemburu, karna istrinya masih di harapkan oleh laki-laki lain, apa lagi mengingat laki-laki yang masih mengharapkan Dinda itu, mantan calon suaminya.
"Tapi aku bingung kak," lirih Bella.
"Bingung kenapa dek?" tanya Dinda.
"Apa aku bisa mengurus bayiku sendirian? Aku takut kak, aku takut tidak bisa membesarkannya dengan baik," jelas Bella. Usia Bella memang masih madu, pikirnya memang masih labil, tentu saja banyak ketakutan yang ia rasakan. Mungkin lebih tepatnya, sebenernya Bella belum siap menjadi seorang ibu.
"Kata siapa kamu akan membesar bayi kita sendirian?" sahut Reza. Pandangan Bella, Dinda dan Aditia langsung berarah pada laki-laki tersebut. Dinda dan Aditia sudah mengerti apa yang di ucapakan Reza, sementara Bella, ia menatap Reza penuh tanda tanya?
"Aku tidak akan membiarkan kamu mengurus bayi kita sendiri. Aku juga akan ikut mengurusnya. Dan jika kamu mau, mari kita besar anak kita bersama?" ucap Reza bersungguh-sungguh. Ya, bisa di bilang saat ini Reza tengah melamarnya.
Bella terdiam, ia mencoba mencerna ucapan Reza.
"Menikahlah denganku, mari kita besarkan anak kita bersama Bella. Aku tau saat ini kamu belum mencintaiku, tapi aku akan membuat kamu jatuh cinta padaku," lanjut Reza.
"Tapi---" Bella menggantungkan ucapnya.
"Dek, menurut kakak, apa yang dikatakan Reza benar. Tidak ada salahnya kamu menikah dengan Reza, kakak yakin Reza laki-laki yang tepat untuk kamu, Reza laki-laki baik. Lagian dia juga ayah dari anak kamu bukan?"
Ah Reza benar-benar merasa tersanjung saat ini. Dinda sang calon kakak ipar membelanya, dan membantunya membujuk Bella.
"Kau laki-laki baik dari segi mananya?" bisik Aditia pada Reza.
"Diam kau," pekik Reza pada Aditia. Dua laki-laki itu saling berbisik.
Sementara Bella ia masih terdiam, "apa ini saatnya aku melupakan kak Riki? Apa aku harus menerima kak Reza?" batin Bella.
"Bella, bukannya kakak mau memaksa kamu, dan ikut campur urusanmu, tapi kakak sebagai kakak kamu, hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Pikirkan juga bayi kamu, dia butuh ayahnya bukan? Kamu tenang saja jika Reza memperlakukan kamu tidak baik, suami kakak akan turun tangan," ujar Dinda. "Iyakan mas?" tanya Dinda kemudian pada suaminya. Aditia terlihat mengangkat ibu jarinya. Membernarkan ucapan sang istri.
"Bagaimana Bella, apa kamu mau?" tanya Reza.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa, like, komen dan vote.
Terima kasih.