
Pagi harinya.
Dinda sudah bangun sejak subuh tadi, ia masih merasakan kepalanya pusing serta badannya masih lemas. Apa lagi sejak tadi ia tak berhenti muntah-muntah, sampai cairan yang terasa pahit itu keluar barulah rasa mualnya sedikit menghilang.
Dinda masih berbaring di tempat tidurnya, cacing di perutnya sudah mulai meronta meminta di isi.
Tok tok tok
"Masuk!" Ucap Dinda, dan pintu pun berbuka di sana terlihat sosok sang mamah mertuanya masuk membawakan sarapan untuknya.
"Pagi sayang..." Sapa mamah Amira seraya berjalan menghampiri menantunya itu.
"Pagi mah," jawab Dinda, ia mengangkat setengah tubuhnya untuk bersandar di kepala ranjang saat melihat mertuanya itu masuk dan menghampirinya.
"Ya ampun sayang, wajah kamu pucat sekali. Mamah panggilkan dokter kesini ya."
"Tidak usah mah, Dinda baik-baik saja kok!" Tolak Dinda dengan cepat.
"Kamu yakin?"
"Iya mah. Dinda gak apa-apa kok!"
"Ya sudah sekarang kamu sarapan dulu ya, setalah itu minum obat dan vitamin yang di berikan dokter kemarin." Pinta mamah Amira diangguki oleh Dinda. Namun saat mamah Amira memberikan sarapan padanya, rasa mual kembali melanda, Dinda langsung berlari menuju kamar mandi. Mamah Amira yang yang terlihat panik langsung mengikuti menantunya itu, Dinda memuntahkan isi perutnya, hanya cairan saja dan cairan itu terasa sangat pahit rasanya, karna memang perut Dinda belum di isi apa-apa. Mamah Amira memijit-mijit pundak Dinda.
"Ya ampun sayang, kamu mengalami morning sicknes," ucap mamah Amira. Ia memapah Dinda menuju ranjangnya usai rasa mual Dinda mereda.
"Mah, maaf bisa jauhkan roti dan susu itu. Baunya tidak enak sekali mah." Ujar Dinda. Mamah Amira langsung mengangguk dan ia menuruti apa kata menantunya itu, menjauhkan sarapan berupa susu dan roti yang ia bawa tadi, menjauh dari Dinda.
"Kamu mau makan apa sayang? Biar mamah buatkan?" Tanya mamah Amira.
"Dinda pengen yang manis-manis mah."
"Emm apa sayang? Buah-buahan, coklat atau apa?'' Cerca mamah Amira, namun Dinda mengelengkan kepalanya.
"Dinda pengen makan martabak mah," jawab Dinda seraya memberikan cengirannya. Memang aneh menurutnya, pagi-pagi begini pengen makan martabak. Dimana harus membelinya? Bukannya penjual martabak itu, biasanya jualan sore hari sampai malah hari. Aneh, tapi Dinda benar-benar menginginkannya, membayangkannya saja sudah membuat air liurnya akan menetes.
"Martabak?" Mamah Amira terlihat menggaruk kepala yang tidak gatal. Sambil berpikir dimana ia akan menemukan penjual martabak pagi-pagi begini? Tapi, sepertinya menantunya itu sedang mengidam. Okelah bagaimana pun caranya mamah Amira harus mendapatkan martabak super spesial untuk sang menantu dan calon cucu kesayangannya itu. Detik kemudian mamah Amira teringat, ia mempunyai teman yang bisa membuat martabak dan rasanya itu tak kalah enak dari martabak yang biasa dijual. Apa dia menyuruh temannya itu saja ya, untuk membuatkannya?
"Oke sayang, mamah akan membawakan martabak untuk menantu dan calon cucu mamah tersayang ini. Kamu tunggu sebentar ya." Lanjut mamah Amira. Dinda menganggukkan kepalanya. Mamah Amira pun berlalu keluar dari kamar tersebut.
Lalu ia menelpon temannya itu, untuk membuatkan martabak super spesial untuk Dinda. Dan untungnya temannya itu mau.
"Hah, akhirnya. Tapi siapa yang akan mengambil martabak itu ya?" Mamah Amira berpikir sejanak, karna ia tak mungkin meninggalkan Dinda pergi untuk mengambil martabak itu.
"Aditia! Ya, sebaiknya biar dia aja yang mengambilnya." Ucap mamah Amira, lalu ia menelpon putranya itu. Tak lama sambungan telpon pun terhubung.
["Hallo, mah ada apa?"] Tanya Aditia dalam sambungan telpon tersebut.
["Hallo nak, kamu dimana sekarang?"]
__ADS_1
[Di rumah mah, aku mau berangkat ke kantor!"]
["Oh mamah kira kamu masih di rumah sakit, gimana keadaan Lisa?"]
["Tidak mah, masih banyak kerjaan yang harus aku kerjakan hari ini, jadi terpaksa aku meninggalkan Lisa dulu, keadaan Lisa sudah lebih baik mah, dia sudah melewati masa kritisnya, dokter bilang siang nanti dia akan di pindahkan ke ruang rawat."]
["Syukurlah kalau begitu. Semoga dia cepat pulih dan kamu cepat selesai urusan kamu sama dia. Biar kamu juga bisa fokus sama Dinda."]
["Iya mah, mamah tumben nelpon pagi-pagi ada apa? Apa cuman mau tanya kondisi Lisa saja?"]
["Oh iya, ini Dinda pengen martabak katanya."]
["Hah? Martabak, ini masih pagi mah mana ada martabak pagi-pagi begini?"]
["Ck, bodoh. Mamah belum selesai ngomong udah dipotong, mamah juga tau mana ada penjual martabak pagi-pagi begini. Istri kamu lagi ngidam Aditia, mamah udah suruh temen mamah buatkan, kamu tolong ambilkan ya, dan bawa kesini jangan peke lama."]
["Benaran mah Dinda ngidam, ah baiklah Aditia akan kesana langsung."]
["Langsung-langsung. Emang kamu tau tempatnya dimana?"]
["Hehe, tidak mah!"]
["Dasar, kamu taukan rumah Tante Rosa?"]
["Tante Rosa? Oh temen mamah itu. Iya Aditia tau mah!"]
["Ya udah kamu ambil ke rumah Tante Rosa, jangan peke lama ya Aditia. Kasian Dinda belum makan apa-apa, mana tadi dia muntah-muntah terus lagi!"]
Tut...
Sambungan telepon terputus, Aditia langsung mutuskan sambungan telponnya secara sepihak. "Orang tua belum selesai bicara, sudah di matiin. Dasar kamu Aditia!" Gerutu mamah Amira memaki-maki Aditia, berbicara sendiri sambil menatap ponselnya.
***
Aditia langsung melajukan mobilnya ke rumah Tante Rosa, untunglah jarak rumahnya ke rumah teman mamahnya itu tidak terlalu jauh, sekitar 10 menit akhirnya Aditia sampai di rumah Tante Rosa. Tante Rosa terlihat sudah menunggunya di depan rumahnya itu, melihat sebuah mobil yang memasuki halaman rumahnya, wanita itu tersenyum dan menghampiri mobil Aditia.
"Selamat pagi Tante!" Sapa Aditia, yang sudah keluar dari mobilnya.
"Pagi juga, nak Aditia, cepat banget ke sininya. Ini martabak super spesialnya, buat istri nak Aditia yang lagi ngidam itu." Ujar Tante Rosa seraya memberikan martabak tersebut pada Aditia.
"Iya tante, terima kasih. Maaf jadi ngerepotin tante!" Ujar Aditia mengambil martabak tersebut.
"Ah tidak kok nak, tadi kebetulan Tante juga lagi mau bikin, biasa bapak negara pagi-pagi emang harus ada terus itu menu, terus jeng Amira telpon, ya sudah jadi Tante buatkan sekalian."
"Oh begitu ya tante, jadi berapa semuanya Tante?" Tanya Aditia seraya mengeluarkan dompetnya.
"Eh-eh, apa-apaan ini. Gak ya nak Aditia. Tante gak jualan, lagian cuman martabak doang. Kamu ini kaya sama siapa saja!"
"Beneran nih tan?"
__ADS_1
"Iya, sudah kamu cepat pulang sana, kasian istri kamu dan calon anak kamu, nanti ngeces mau?" Goda tante Rosa sambil menahan tawanya.
Aditia langsung mengelengkan kepalanya, "ya sudah, saya pamit ya Tan."
"Iya hati-hati ya!" Aditia menganggukan, lalu ia masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobil tersebut menuju rumah orang tuanya.
20 menit kemudian, Aditia sampai. Ia langsung masuk ke dalam rumah mamah dan papahnya itu. Mamah Amira terlihat sudah menunggu kedatangannya.
"Lama banget sih!" Ucap mamah Amira kesal, ia langsung mengambil martabak tersebut dari putranya itu.
"Lama gimana mah, aku udah ngebut tadi." Kilah Aditia.
"Sudah ah, mamah mau ngasih dulu martabaknya buat Dinda, sana kamu berangkat ke kantor." Ucap mamah Amira sambil berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Dinda.
"Mamah ngusir aku?" Tanya Aditia, ia mengikuti langkah mamahnya.
"Iya."
"Ck, Dinda istri aku mah. Sini biar aku yang kasih ke istriku." Ucap Aditia, ia mengambil martabak itu dari tangan mamahnya, lalu berjalan mendahului sang mamah masuk kedalam kamar Dinda.
"Dasar cari perhatian," ledek mamah Amira sambil mengelengkan kepalanya. Tapi dalam hatinya ia merasa bahagia Aditia sangat sudah menerima Dinda, semoga saja putranya itu bisa jatuh cinta pada Dinda. Padahal tanpa sepengetahuannya Aditia memang sudah mencintai Dinda.
"Pagi sayang..." Sapa Aditia berjalan santai memasuki kamarnya itu, ia memberikan senyuman termanis untuk sang istri keduanya, dengan tangan yang membawa makanan yang Dinda inginkan.
"Loh mas, kok kamu disini?"
"Kenapa emang gak boleh, inikan rumah orang tua aku!" Jawab Aditia, "ayo makan martabaknya." Lanjut Aditia yang kini sudah duduk di tepi ranjang, ia mengambil sepotong martabak tersebut dan menyuapkannya pada Dinda. Dinda tak bisa berkata apa-apa, ia langsung menerima suapan tersebut. Entah kenapa rasanya hatinya begitu bahagia.
Aditia menyuapinya dengan sabar, sampai martabak tersebut habis.
Aditia mengusap ujung bibir Dinda, Dinda membulatkan matanya, dalam benaknya sudah berpikir yang tidak-tidak.
"Ini coklatnya nempel, makan kok kaya anak kecil belepotan!" Ucap Aditia, lalu mencubit hidung Dinda dengan gemas.
"Aww, sakit mas." Rengek Dinda. Tawa bahagia terpancar dari keduanya. Mamah Amira yang sedari tadi melihat mereka, tanpa sepengetahuan mereka, ikut tersenyum menyaksikan.
"Eh sebentar ada telpon!" Ucap Aditia. Lalu ia mengambil ponselnya, panggilan masuk terlihat dari rumah sakit, terlihat di layar ponselnya. Aditia sedikit menjauh dari Dinda. Lalu ia mengangkat telepon tersebut.
["Hallo, iya dok ada apa?"] Tanya Aditia usai mengangkat telpon masuk tersebut.
.............
["Apa? Baik dok saya kesana sekarang!"] Wajah Aditia terlihat panik, ia langsung keluar dari kamar tersebut, tanpa sepatah kata pun, tanpa berpamitan kepada Dinda.
Bersambung...
Maaf baru sempat up..
Saya sangat sibuk sekali hari ini, anak saya lagi sakit.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote ya.
Terima kasih