Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab. 89 Persiapan


__ADS_3

Tiga hari berlalu, acara persiapan pernikahan Reza dan Bella, sudah mencapai 90 persen. Aditia benar-benar bergerak cepat menyusun semuanya. Ya, dengan uang semuanya lebih gampang, Aditia hanya tunjuk tangan.


Namun Aditia mengakui, itu tidak semudah yang ia banyangkan, di sela kesibukan mengurus perusahaan. Dan mengurus yang lainnya, itu semua benar-benar menyita waktunya.


Waktu sudah menunjukan jam 11 malam, Aditia baru saja selesai mengurusi semua pekerjaan. Wajah lelah tergambar jelas dari wajah tampan laki-laki beranak satu itu.


Aditia segala membereskan meja kerjanya, lalu ia bersiap-siap untuk segera pulang ke Rumahnya.


Setelah semuanya sudah rapi, Aditia pun berajak meninggalkan ruangan kerjanya itu. Lalu ia segara menuju mobilnya, dan melajukan mobil tersebut menuju pulang ke Rumah.


Setalah sekitar menempuh perjalanan 30 menit, akhir Aditia sampai. Aditia segara masuk ke dalam rumahnya.


Bi Santi terlihat membukakan pintu Rumah tersebut.


"Dinda sudah tidur Bi?" tanya Aditia seraya berjalan masuk ke dalam rumahnya.


"Seperti belum Tuan, barusan Nyonya baru saja dari dapur, katanya dia laper," jawab Bibi sambil tersenyum.


Aditia mengangguk, lalu ia berjalan menuju kamarnya.


Setalah sampai di depan pintu kamarnya, Aditia membuka pintu kamar tersebut.


Di lihatnya Dinda tengah duduk di tepi ranjang dengan di temani beberapa makanan ringan.


"Belum tidur Yang?" tanya Aditia seraya mendekati istrinya itu.


"Eh Mas," Dinda langsung meraih tangan suaminya itu menyalaminya dengan takzim.


"Belum, aku belum ngantuk," lanjut Dinda.


"Udah malam ini, tumben banget."


"Gak tau Mas, makin malam bukannya ngantuk malah laper," sahut Dinda sambil terkekeh.


"Ya sudah, Mas mandi dulu ya," ucap Aditia diangguki oleh Dinda.


"Aku siapin air anget mau Mas?"


"Gak usah, Mas siapin aja sendiri. Kamu siap-siap aja," jawab Aditia seraya melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Dinda mengerutkan alisnya, wanita itu nampak bingung dengan ucapan suaminya tersebut.


"Aku siap-siap apa Mas?" tanya Dinda. Namun sayangnya pintu kamar mandi sudah tertutup rapat, dan seperti Aditia tak mendengar pertanyaannya itu.

__ADS_1


Setalah itu, Dinda berjalan menuju lemari, untuk menyiapkan baju ganti untuk suaminya itu.


Tak lama kemudian, Aditia terlihat keluar dari kamar mandi, wajahnya yang lelah terlihat segar kembali, setalah mendapatkan guyuran air.


Aditia berjalan mendekati Dinda, yang masih memilihkan baju untuk suaminya itu.


"Astagfirullah, Mas. Bikin kaget aja," ucap Dinda terkejut, saat Aditia memeluknya dari belakang.


Namun Aditia nampak acuh, ia malah membenamkan kepalanya di ceruk leher istrinya itu.


"Ih Mas, dingin tau..."


"Dingin apa geli?" tanya Aditia, sambil tersenyum genit.


"Ih, apaan sih. Udah ah, pake dulu bajunya, nanti masuk angin lagi." Dinda memberikan satu setel baju tidur pada suami itu.


"Mas gak mau peke baju ah," tolak Aditia.


"Loh kenapa? Dingin Mas, nanti kamu masuk angin lagi. Ayo cepat pake bajunya," titah Dinda dengan lembut.


"Gak mau, Mas mau baju bernyawa," kukuh Aditia menolaknya.


"Hah baju bernyawa?" Dinda nampak kebingungan. Menurut Dinda, malam ini suaminya itu aneh. Kata-katanya membuat Dinda harus berpikir keras.


"Emang ada?"


"Ada dong!"


"Di mana? Aku belum pernah liat loh Mas, gak pernah juga dengar, ada baju bernyawa."


"Kamu mau tau Yang, gimana baju bernyawa?" tanya Aditia dan Dinda mengangguk.


Aditia terlihat menatap gemas istrinya itu, entahlah, istrinya ini polos, apa emang pura-pura polos?


"Ayo sini ikut Mas," ajak Aditia. Dinda hanya menurut mengikuti langkah suaminya, yang berjalan menuju ranjang mereka.


Aditia langsung naik ke atas kasur, lalu menepuk kasur di sebelahnya menyuruh Dinda untuk mendekat dan membaringkan tubuhnya di sana.


Lagi-lagi Dinda hanya menurut, namun wajahnya terlihat begitu kebingungan.


Kini Aditia dan Dinda sudah berbaring di atas ranjang, Aditia masih bertelanjang dada, hanya handuk yang menutupi badan bagian bawahnya saja.


"Mana baju bernyawa-nya Mas?" tanya Dinda, yang masih tidak mengerti apa maksud suaminya itu.

__ADS_1


"Kamu," jawab Aditia. Ia langsung mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya itu. Dan...


Cup...


Aditia mengecup bibir Dinda dengan lembut. Dan kali ini Dinda mengerti apa yang di maksud dengan baju bernyawa versi suaminya itu. Oh ternyata...


Seketika Dinda langsung tersenyum. Dasar suami mesum, pikirnya.


"Ya ampun Mas, aku kira ada beneran baju bernyawa. Eh ternyata..." ucap Dinda sambil menahan tawanya.


"Ternyata apa hayo, hmm?"


"Sini biar aku jadi baju bernyawa buat Mas," ucap Dinda seraya memeluk tubuh suaminya itu. Akhirnya peka juga dia, mungkin itu yang kini tengah berada di pikiran Aditia terhadap Dinda.


"Orang mah bukan baju bernyawa Mas, tapi nyebut selimut bernyawa," lanjut Dinda.


"Itu versi orang Sayang, ini versi aku. Biar gak samaan," sahut Aditia tak mau kalah.


"Iya deh, Iya." Dinda memilih mengalah. Demi membahagiakan suaminya, ia tau Aditia sangat lelah.


"Yang... gak berasa, Hot-in yuk..." bisik Aditia.


Dinda mengangguk, dengan wajah yang merah merona. Melihat persetujuan dari sang Istri, Aditia langsung menyerang Dinda. Perlahan namun pasti, Aditia melakukan dengan lembut dan penuh cinta.


Hingga akhirnya malam itu menjadi malam panas untuk kedua, memadu kasih dan cinta, dengan kenikmatan yang tiada tara, indahnya surga dunia mereka rasa, hingga membawa mereka terbang sampai ke nirwana.


Bersambung....


Jangan lupa like, komen dan Votenya.


Baru sempat ngetik guys, siang hari aku sibuk banget, subuh baru bisa ngetik.


Maaf ya kalau up nya selalu telat.


Terima kasih, untuk kalain yang selalu setia menunggu kelanjutan cerita Dinda dan Aditia.


Semoga kalian sehat selalu.


Jangan lupa bahagia.


Salam sayang dari author.


Bye..bye..

__ADS_1


__ADS_2