Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 50. Tentang Riki


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, minggu demi minggu berlalu, hingga bulan pun berganti. Tak terasa kini kehamilan Dinda sudah menginjak usia 8 bulan. Kehidupan rumah tangga Aditia, Lisa dan Dinda, kini lebih baik.


Lisa mampu membuktikan pada mereka, bahwa dirinya sudah benar-benar berubah. Aditia sudah kembali merima Lisa, menerima bukan berarti cinta.


Hari ini seperti biasa, Aditia berpamitan pada kedua istrinya itu berangkat menuju kantor.


"Mas berangkat dulu ya," pamit Aditia. Diangguki oleh Lisa dan Dinda, kemudian dua wanita itu meraih tangan Aditia, menyalaminya secara bergantian.


"Asalamua'allaikum."


"Walaikum'salam."


Aditia pun berlalu dari hadapan mereka.


"Din aku mau ke supermarket dulu ya!" pamit Lisa, "kamu mau titip sesuatu? Biar sekalian, aku juga mau belajar bulanan!"


"Aku boleh ikut mbak?"


"Jangan, kamu lagi hamil besar Din." tolak Lisa.


"Justru sedang hamil besar begini aku harus banyak gerak mbak, kata dokter biar nanti persalinannya lancar!"


"Tidak, nanti mas Aditia marah lagi sama aku," kukuh Lisa.


"Ayolah mbak, lagian aku kesepian sendirian, kalau mbak pergi!" Dinda memohon.


Lisa menghelai napasnya, "baiklah, tapi kamu minta izin dulu sama mas Aditia, kalau terjadi apa-apa aku tidak mau tanggung jawabnya!"


Dinda mengangguk, lalu ia mengirim sebuah pesan pada suaminya itu, mengatakan bahwa ia akan pergi bersama Lisa.


"Bagiamana?" tanya Lisa.


"Sudah mbak, katanya boleh."


"Ya sudah aku siap-siap dulu," ujar Lisa diangguki oleh Dinda. Lisa berlaku menuju kamarnya, begitu juga dengan Dinda, ia melakukan hal yang sama dengan Lisa, bersiap-siap.


15 menit kemudian mereka terlihat sudah siap. Tak membuang waktu lama lagi, Lisa dan Dinda pun berangkat menuju supermarket, mereka di antara oleh sopir.


Sekitar menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya mereka sampai. Lisa dan Dinda langsung masuk ke supermarket tersebut.


Keduanya berjalan berdampingan, sambil memilih bahan-bahan keperluan rumah tangga. Dua troli terlihat terisi penuh. Merasa sudah cukup, mereka pun langsung bergegas menuju kasir, untuk membayar belanjaan tersebut.


Namun saat mereka sudah dekat dengan kasir, Dinda menghentikan langkahnya, saat melihat sosok seorang laki-laki yang tidak asing baginya terlihat tengah mengantri di dekat meja kasir.


"Mas Riki," gumam Dinda. Sambil menatapnya, pandangan Riki dan Dinda bertemu, beberapa detik mereka saling menatap. Menyadari bahwa laki-laki yang pernah mengisi hatinya tengah memandanginya juga, Dinda langsung menundukan kepalanya.


"Din kenapa?" Tanya Lisa. Menatap madunya itu terheran. Dinda langsung menggelengkan kepalanya.


"Aneh," gumam Lisa. Lalu ia melihat kearah depan.


"Riki...." panggil Lisa.


Dinda mengangkat kepala, saat mendengar Lisa memanggil nama laki-laki itu, spontan Dinda mengikuti arah pandang Lisa.


"Lisa..." sahut Riki.

__ADS_1


"Tunggu! kanapa mbak Lisa dan mas Riki saling mengenal?" Dinda membatin.


"Dinda ayo ikut aku!" ajak Lisa seraya menarik tangan Dinda pelan, Dinda pasrah mengikuti langkah Lisa, yang berjalan menghampiri Riki.


"Lagi belanja juga Ki?" tanya Lisa diangguki oleh Riki. Namun sedari tadi Riki tak lepas memandangi Dinda yang berdiri di belakang Lisa sambil menundukkan kepalanya.


Lagi-lagi Lisa keheranan, kenapa Riki sedari tadi memandangi madunya.


"Oh iya Ki, kenalin ini Dinda!" ujar Lisa.


"Sudah kenal," sahut Riki seraya menarik ujung bibirnya tersenyum. Lisa mengerutkan kedua alisnya hingga menyatu.


"Benarkah Din?" tanya Lisa pada Dinda, memastikan ucapan Riki tersebut. Dinda hanya mengangguk pelan.


"Apa kabar Din?" tanya Riki.


"Baik mas."


"Syukurlah."


"Emm, mbak Lisa. Aku permisi ke toilet dulu ya sebentar," pamit Dinda.


"Jangan lama-lama ya Din." pesan Dinda. Dinda memberikan anggukan sebagai jawaban. Lalu ia pun mengayunkan kakinya, berajak dari sana. Dinda sebenarnya tidak ingin ke toilet ia hanya ingin menghindar dari Riki.


Riki menatap nanar kepergian mantan calon istri itu, segitu bencinya 'kah Dinda padanya sekarang? Sampai-sampai Dinda menghindar darinya. Seperti Dinda memang sudah benar-benar melupakan, seperti Dinda sudah benar-benar bahagia dengan suaminya, lihatlah bahkan kini ia tengah hamil besar.


Riki memang tau prihal Dinda yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain, atau dijadikan istri kedua. Namun Riki tidak tau kalau sebenarnya Lisa itu, istri pertama dari suaminya Dinda. Riki tidak tau kalau Lisa, yang kini ada dihadapannya itu adalah Lisa istri dari seorang Aditia Mahendra.


"Ki, kok malah bengong!" sentak Lisa. Membuat Riki tersadar dari lamunannya.


Lisa memutar bola matanya malas, "emang ya manusia itu, orang baik salah, orang ketus salah. Huh, serba salah." sahut Lisa sambil membuang napasnya kasar.


Riki terkekeh mendengar jawaban dari teman sewaktu ia kecilnya itu, Lisa yang kucel, kumel. Kini benar-benar sudah berubah.


"Maaf, aku hanya bercanda!" ucap Riki.


"Udah biasa, dari dulu bercanda kamu tidak ada yang lucu!" sahut Lisa memalas.


"Oh iya, kamu sudah lama mengenal Dinda?"


"Sudah," jawab Lisa singkat.


"Sejak kapan kalian berteman?" tanya Riki lagi.


"Hey, dia itu bukan teman aku, tapi dia itu ma--"


"Eh, aku duluan ya!" pamit Riki. Memotong ucapan Lisa yang belum selesai. Melihat di depan meja kasir sudah tidak ada orang lagi, Riki pun berjalan menuju kasir tersebut untuk membayar belanjaannya.


Tak lama Riki selesai membayar semua belanjaannya.


Kini giliran Lisa yang membayar ke kasir tersebut.


"Lis aku duluan ya! Salam buat Dinda." pamit Riki lagi, diangguki oleh Lisa. Riki pun berlalu dari sana.


"Dinda kok lama banget sih!" gumam Lisa, wanita itu kini tengah menunggu Dinda, yang sedari tadi belum juga kembali dari toilet. Padahal Lisa sudah selesai membayar semua belanjaannya, namun Dinda belum kembali juga.

__ADS_1


Raut wajah kekhawatiran terlihat dari wajah Lisa, "apa aku susul Dinda saja ya!" gumamnya. Lisa pun memutuskan untuk menyusul Dinda menuju toilet, ia takut terjadi apa-apa dengan madunya itu.


Namun baru beberapa Lisa melangkah, sosok Dinda terlihat berjalan menghampirinya. Lisa bernapas lega, akhirnya Dinda kembali juga dengan keadaan baik-baik saja.


"Maaf menunggu lama mbak," ucap Dinda.


"Kamu gak apa-apa 'kan Din? Kenapa lama sekali?" cerca Lisa.


"Aku baik-baik saja mbak, tadi ngantri di toiletnya!" dusta Dinda.


"Ya sudah ayo kita pulang!" ajak Lisa diangguki oleh Dinda, mereka pun meninggalkan supermarket tersebut. Sebelum semua belanjaan mereka sudah di bawa oleh pak sopir.


Dalam perjalan, Dinda terlihat melamun. Sudah lama ia tidak bertemu dengan Riki, entah mengapa Dinda tidak bisa melupakan sakit yang pernah Riki torehkan dihatinya, padahal itu sudah lama. Jujur saja rasa benci menyelimuti hati Dinda.


"Din, kamu kenapa?" tanya Lisa, sedari tadi ia memperhatikan madunya itu yang tengah melamun.


"Emm, eh tidak apa-apa mbak."


"Kalau ada masalah cerita Din," ucap Lisa.


"Tidak kok mbak, aku benar baik-baik saja!" Dinda berusaha meyakinkan Lisa.


"Oh iya Din, kamu sama Riki sudah saling kenal lama?" tanya Lisa.


Dinda terdiam, dalam hatinya ia mengumpat, kenapa Lisa malah membahas Riki, yang sedari tadi dihindarinya.


"Tau gak Din, dulu itu Riki laki-laki paling menyebalkan, dia teman sekolahku, dia selalu membuly aku dulu," lanjut Lisa bernostalgia.


"Masa sih mbak?"


"Iya bener. Dia itu laki-laki yang paling menyebalkan yang pernah aku kenal," ketus Lisa. Dinda hanya tersenyum tipis.


"Iya mbak benar, dia memang laki-laki yang sangat menyebalkan, bahkan lebih dari itu," ucap Dinda dalam hatinya.


"Oh iya Din, seperti kamu dan Riki sangat dekat, aku lihat Riki berbeda saat menatap kamu," ujar Lisa.


"Ya tuhan, bagaimana ini? Apa aku harus menceritakan semuanya pada mbak Lisa? Kalau mas Riki itu mantan calon suamiku?" batin Dinda.


"Din, kok malah diem sih. Gak asik ah..." Lisa berpura-pura merajuk.


"Sebenarnya....." ucap Dinda, ia menggantung ucapnya, sementara Lisa ia menatap Dinda penuh tanya.


Bersambung....


Maaf baru sempat up.


Jangan lupa like, komen dan Votenya ya.


Oh iya sambil nunggu up, boleh mampir ke karya teman-teman aku ya. Semoga kalian suka.




__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2