Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 39. Permintaan Dinda


__ADS_3

Malam harinya.


Aditia memutuskan untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya, tentu saja untuk bertemu dengan Dinda.


Jujur, ada rasa lega di hati Aditia, ia merasa bebannya terlepas, mengingat ia sudah menegaskan pada Lisa, jika dirinya akan tetap menceraikan Lisa. Dengan langkah yang begitu semangat, Aditia memasuki rumah tersebut. Keadaan rumah terlihat sudah sepi, karna memang waktu sudah hampir larut malam. Aditia langsung melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sesampainya di depan pintu kamar tersebut, Aditia langsung membuka kenop pintu kamar dan pintu tersebut terbuka.


Klekk...


Nampak sosok sang istri masih terbangun, Dinda terlihat tengah duduk di tepi ranjang. Dinda memang sengaja menunggu kedatangan Aditia, ada hal penting yang ingin Dinda katakan pada suaminya itu.


"Sayang, kamu belum tidur?" Tegur Aditia, seraya berjalan masuk ke dalam kamar tersebut, tak lupa Aditia menutup pintu kamarnya terlebih dahulu. Aditia berjalan menghampiri Dinda, lalu duduk di samping istri mudanya itu.


"Mas," ujar Dinda, lalu ia meraih tangan Aditia menyamainya dengan takzim, "aku pikir mas tidak akan pulang kesini. Kenapa pulangnya larut sekali?" lanjut Dinda bertanya.


Aditia menghelai nafasnya, lalu ia menaikan kedua kakinya keatas ranjang, ia merebahkan tubuhnya dengan kepala yang bersandar di paha Dinda, dijadikan bantalannya. "Iya, mas lembur." jawab Aditia, ia memejamkan matanya, rasanya begitu nyaman berada di samping Dinda, semua penat dan lelah hilang begitu saja.


Sementara Dinda, ia merasa risih dengan Aditia yang terkesan sangat manja pada dirinya itu, namun Dinda juga tak bisa membohongi dirinya sendiri, ia bahagia Aditia manja padanya, Dinda bahagia Aditia dekat dengannya. Dinda terlihat mendekatkan tanganya ke kepala Aditia, niat ingin mengelus puncuk kepala suaminya itu, namun Dinda urungkan. Tidak, Dinda harus bisa menahan dirinya, ingat, jangan terlalu berharap pada Aditia. Jangan sampai Dinda diterbangkan oleh sayap-sayap cintanya Aditia, namun sayap itu di patahkan kembali olehnya, ingat yang sudah-sudah.


"Aku lelah sayang," keluh Aditia, ia membalikan posisinya kesamping, menghadap tepat kearah perut Dinda, "hey, baby. Apa kamu sudah tidur sayang?" lanjut Aditia, ia berbicara kepada jabang bayi yang ada di perut istrinya itu. Dinda hanya tersenyum kekeh melihat tingkah suaminya itu.


"Mas, sebaiknya mas bersih-bersih dulu sana!" titah Dinda. Namun tak disahut oleh Aditia.


"Mas, apa mas yakin mau tidur dengan keadaan seperti ini? Cepat mandi dulu," titahnya kembali.


"Baiklah," sahut Aditia. Ia langsung berajak bangun dan berjalan menuju kamar mandi.


Semantara Dinda, ia menyiapkan baju ganti untuk suaminya itu. Hingga beberapa menit kemudian, Aditia keluar dari kamar mandi, Aditia langsung menganti pakaiannya yang sudah di siapkan Dinda tersebut. Setalah itu, Aditia menaik keatas ranjang, mereka kini tengah bersandar di kepala ranjang tersebut.


"Sudah mandi, rasanya segar sekali. Rasa ngantuk juga hilang," ujar Aditia seraya tersenyum kepada Dinda.

__ADS_1


"Oh iya mas, ada yang ingin aku bicarakan!" ujar Dinda, ia menatap lekat mata suaminya.


"Apa?"


"Mas, aku boleh minta satu permintaan!"


"Apa pun yang kamu inginkan, mas janji akan menurutinya," jawab Aditia yakin.


"Janji!" Dinda memberikan jari kelingkingnya pada Aditia, Aditia meraih jari kelingking milik istrinya itu, jari kelingking mereka saling bertautan.


"janji sayang!"


"Ingat ya mas, mas udah janji sama aku. Tuhan sudah mencatat janji mas."


"Iya-iya, emangnya kamu minta apa hmm?"


"Sebelum aku ingin bertanya, apa benar mas berniat akan menceraikan mbak Lisa?"


"Kenapa?"


"Aku sudah tidak mencintainya lagi! Bukan hanya itu, aku sudah sangat kecewa dengan sikapnya sama kamu, dan juga semua kebohongannya itu!"


"Apa benar mas sudah tidak mencintainya lagi?"


"Ya, tentu saja. Aku sudah tak mencintainya lagi." Tegas Aditia, lalu Aditia meraih tangan Dinda, "aku mencintaimu Din, sekarang kamu yang aku cintai. Tidak ada lagi wanita lain selain kamu. Aku kalah Din, aku yang awalnya menegaskan bahwa aku tidak akan menyukaimu, aku mencoba membangun benteng yang kokoh di hatiku agar aku bisa membatasi perasaan aku ke kamu, tapi benteng itu aku merobohkan sendiri. Maafkan aku Din, selama ini sikapku selalu meyakinkan hati kamu." tutur Adita tulus.


Jujur saja, Dinda merasa terharu dengan ungkapan cinta suaminya itu, sekian lama ia menjadi wanita yang tak dirindukan suaminya, kini semua itu berubah. Apa ini yang di sebut indah pada waktunya?


"Yang lalu, biarlah berlalu mas!"

__ADS_1


"Iya sayang, terima kasih. Kita mulai lagi dari awal rumah tangga kita ya!" ucap Aditia, seraya mengelus puncuk kepala istrinya itu. Dinda hanya membalas dengan senyuman. Kita? Mulai dari awal lagi? Apa maksud perkataan Aditia itu?


"Tentu saja mas, kita akan mulai dari awal lagi. Bukan hanya kita saja tapi bersama mbak Lisa juga!" tutur Dinda. Aditia langsung menatap penuh tanya.


"Maksud kamu?"


"Ya, aku, kamu dan mbak Lisa. Kita mulai lagi dari awal. Mas, ini permintaan aku. Jangan ceraikan mbak Lisa, kasih dia kesempatan mas."


Aditia terdiam, dengan kelapa yang mengeleng-gelang, senyuman tersungging diwajahnya. Aditia mengira kalau Dinda tengah bercanda.


"Mas, mas sudah berjanji akan memenuhi permintaan aku tadi, aku harap mas tak akan mendustai janji itu. Jangan ceraikan mbak Lisa mas, kita mulai dari awal lagi. Mas kembali merencanakan awal mas menikahi aku, bukankah mas menikahiku untuk membuat mbak Lisa bahagia? Bukankah mas menikahiku, agar bisa memberikan mamah dan papah cucu, dan rumah tangga mas bersama mbak Lisa tetap utuh." ucap Dinda lirih, mengatakan semuanya dengan dada yang terasa begitu sangat sesaknya.


"Tidak, maaf Dinda, aku tidak mau menepati janjiku. Biarlah aku berdusta dan berdosa. Dari pada aku harus bersama Lisa. Kamu tau Din, Lisa itu pembohong! Dan selama ini, pernikahan aku dan Lisa tidak sah, bertahun-tahun aku menajamkan zina dengannya, pantas saja tuhan tidak memberikan kami keturunan, tuhan masih menyayangiku, karna jika Lisa hamil, itu membuat kami membuat zina turunan."


"Iya aku tau mas, tapikah mas bisa menikah lagi, mengucapkan ijab Kabul kembali." Kekeuh Dinda.


"Cukup!!" Teriak Aditia.


Bersambung ...


Like


Komen


Vote


Dulu atuh ya! Kakak-kakak, ibu-ibu, adik-adik, tante-tante, om-om, ah pokonya semuanya. Jangan lupa kasih dukungan sama at


author ya!! Tabur bunga, masih bunga, gak nolak juga.

__ADS_1


Ceritanya malak, wkwkwk


Oke deh, sekian terima gajih. Eh, salah sekian terima kasih.


__ADS_2