
Hari demi hari Dinda lewati, sudah genap satu Minggu Dinda menyandang status sebagai istri kedua Aditia. Dalam waktu satu Minggu itu Dinda merasa waktu yang dijalaninya setiap harinya terasa lama.
Sikap sang istri pertama suaminya, Lisa. Semakin hari semakin keterlaluan kepadanya. Jika tidak mengingat lagi, janji kepada mendiang sang Ayah, rasanya Dinda ingin pergi, Dinda merasakan hatinya cukup lelah, namun Dinda bisa apa?
Janji adalah hutang, dan hutang harus di bayar bukan? Dinda tidak mungkin meninggalkan hutang begitu saja. Dinda tidak mungkin melanggar janjinya kepada mendiang sang Ayah. Dinda memang bodoh, dia mengakui sendiri bahwa memang dirinya bodoh. Bertahan dalam situasi seperti ini, sama saja dengan menyakiti dirinya sendiri.
Tapi Dinda berusaha berpikir jernih, dia berusaha ikhlas, sabar menerima kenyataan.
Walaupun kenyataan yang ia dapatkan semuanya menyakitkan.
Kata orang hidup adalah pilihan, kita bisa memilih dan menentukan apa yang kita mau, kunci bahagia sebenarnya ada apa diri kita, iya benar, Dinda menyadarinya semuanya.
Andai saja Dinda bisa memilih, tapi sayangnya pilihan itu tidak ada untuk Dinda, iya Dinda terlalu pasrah menjalankan kehidupannya. Ikuti alurnya, tuhan sudah merancang skenario setiap umatnya sedemikian rupa, selalu ada pelangi setelah hujan. Dan itulah yang Dinda harapkan, entah kapan pelangi itu datang. Yang pasti kebahagian pasti akan datang. Anggap saja ini semua badai, badai pasti berlalu bukan?
***
Seperti biasanya walaupun Aditia sampai detik ini masih tak menerima kehadirannya. Bahkan untuk berbicara dengannya--pun enggan. jangankan bicara, menatap--pun seakan tidak mau, Aditia selalu menghindari Dinda, Aditia melihat Dinda bak kotoran dalam kehidupannya. Jika dipikirkan kembali, sebenarnya apa salah Dinda? Bukankah Aditia yang membawanya ke situasi seperti ini, tapi kenapa sekarang seakan Dinda yang menjadi biang masalah baginya.
Namun walaupun Dinda di perlakuan tak adil oleh Aditia, ia masih melakukan kewajibannya seorang istri, melayani suaminya. Dinda baru saja selesai menyiapkan makan malam untuk mereka.
Tak lama kemudian, Aditia terlihat berjalan menuju meja makan. Tapi Aditia hanya berjalan sendirian, Dinda menarik ujung bibirnya tersenyum kepada Aditia, menyambut suaminya itu. Namun Aditia di malah mengalihkan pandangannya, seolah ia merasa jijik kepada Dinda yang tersenyum kearahnya.
'Kemana mbak Lisa? Tumben mas Aditia berjalan sendirian!' gumam Dinda.
Tanpa menghiraukan Dinda, Aditia langsung menarik kursi meja makan, lalu duduk.
"Stop!'' ujar Aditia, menghentikan Dinda yang akan menuangkan nasi ke piringnya.
__ADS_1
"Kenapa mas?" Dinda bertanya, seraya menatap Aditia terheran.
"Jangan melayaniku seolah kamu istriku, aku tidak suka. Jangan harap aku luluh dengan sikap kamu itu, jangan mencari perhatianku. Karna aku tidak akan merasa simpati dengan perhatianmu itu," tegas Aditia. Berbicara dengan nada dingin dan wajah datarnya.
"Aku tidak mencari perhatian kamu mas, aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai istri kamu, apa aku salah?" Dinda berucap sambil menahan rasa sesak di hatinya.
"Kalau memang kamu tak bisa menerima aku sebagai istrimu, setidaknya hargai aku mas!" Lanjut Dinda, dengan air mata yang sudah lolos dari pelupuk mata indahnya.
"Ada apa ini?" Suara Lisa terdengar bertanya. Wanita itu terlihat berjalan kearah suami dan madunya. Aditia dan Dinda refleks menoleh kearah sumber suara tersebut.
"Mas benar kata Dinda dia juga sama istri kamu, kamu harus memperlakukan dia sama seperti kamu memperlakukanku," ujar Lisa. Berdusta di hadapan suami dan madunya itu.
'Walaupun sebenarnya aku lebih suka kamu bersikap seperti itu mas, tapi aku harus sabar demi rencana kita,' lanjut Lisa berucap dalam hatinya.
Aditia menyunggingkan senyuman sinisnya, memperlakuakan Dinda seperti Lisa? Tidak, itu tidak akan terjadi. Mustahil bagi Aditia, bagaimana ia bisa bersikap seperti itu kepada Dinda. Ia menikahi Dinda tanpa cinta, berbeda saat menikahi Lisa, Aditia sangat mencintainya. Jangan bermimpi Aditia akan memperlakukan Dinda, seperti ia memperlakukan istri pertamanya.
Dinda hanya mengangguk pelan, sambil tersenyum getir. Dua manusia dihadapannya itu sama saja! Bagiamana bisa ia bisa hidup bersama orang-orang seperti itu. Suaminya yang tidak pernah menghargainya, serta Lisa istri pertama suaminya, benar-benar wanita licik, wanita bermuka dua. Lisa bersikap baik hanya di depan Aditia dan di belakang Aditia, Lisa sama halnya seorang Aditia, sama-sama tak menghargainya. Miris sekali nasibnya.
"Sebaiknya kita makan sekarang, aku sudah lapar," ujar Lisa. Sambil menatap makanan yang sudah tersaji di atas meja.
"Aku ambilkan buat kamu ya mas!" Lanjutnya, sambil menuangkan nasi ke piring milik suaminya.
Aditia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lisa dengan telaten melayani suaminya itu dan Aditia terlihat begitu bahagia di layani oleh Lisa, berbeda saat Dinda akan melayaninya.
Lagi-lagi Dinda hanya bisa tersenyum getir, seperti menelan pil pahit. Nafsu makan Dinda hilang begitu saja, apa lagi ia melihat Lisa dan suaminya begitu mesra, mereka saling menyuapi. Dinda bagaikan patung di antara mereka, mereka seperti tidak menganggap Dinda ada. Dinda hanya bisa menahan sesak di hatinya. Sebisa mungkin Dinda menahan air mata yang sudah membendung di pelupuk matanya.
'Ada apa denganku? Kenapa hatiku merasa sangat sesak melihat kemesraan mereka? Bukannya itu wajar? Mereka saling mencintai. Siapa aku? Kenapa aku merasa cemburu? Sadar Dinda, kau tidak berhak mempunyai rasa itu, sadar posisimu!' gumam Dinda. Ia mencoba menepis rasa tersebut. Apakah itu tandanya Dinda sudah mulai jatuh cinta kepada Aditia? Tanpa sadar ia memang cemburu pada Lisa yang bisa sedekat itu dengan Aditia, walaupun Dinda menepisnya, namun ia tidak bisa membohongi hati kecilnya.
__ADS_1
Susah payah Dinda menghabiskan makanan yang berada di piringnya, hingga akhirnya makanannya habis. Dinda segara berajak dari meja makan tersebut.
"Saya duluan," pamit Dinda. Diangguki oleh Lisa, semantara Aditia nampak acuh tak memperdulikan istri mudanya itu.
Lisa menatap punggung Dinda yang berlalu, senyuman penuh kemenangan terukir dari wajahnya. Puas, itulah yang saat ini Lisa rasakan. 'Wanita malang,' gumam Lisa. Tersenyum mengejek Dinda, yang kini sudah menghilang dari pandangannya.
"Kenapa sayang?" Tanya Aditia, ia terheran melihat istrinya senyum sendirian.
"Enggak kok mas!" Sangrah Lisa.
Sementara itu, Dinda yang sudah ada di dapur, ia sudah tak bisa lagi menahan air matanya yang sedari tadi sudah terbendung di pelupuk matanya. Air mata tersebut akhirnya lolos, mengalir membasihi wajah cantiknya.
'Ya tuhan, kuatkan aku, sabarkan aku!' gumam Lisa dengan liris, tanganya memegangi dadanya yang sudah sesak sedari tadi.
'Ini sudah menjadi keputusanmu Dinda, kamu tidak boleh seperti ini,' gumam Dinda lagi, ia mencoba menguatkan hatinya yang rapuh tersebut.
Bersambung...
Hay maaf baru up...
Lagi sibuk banget nih, mohon di maklumnya. Author ibu rumah tangga, hehe.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya!!
Like, komen dan Votenya ditunggu ya!!
Salam sayang dari author.
__ADS_1
Terima kasih.