Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 11. Anu, tanpa Cinta emang bisa?


__ADS_3

"Dinda kanapa kamu menyetujuinya nak?" Tanya mamah Amira, usai kepergian Aditia.


"Iya papah juga tak setuju." Timpal papah Mahendra.


"Mah, Pah. Tidak apa-apa kok, ini sudah menjadi keputusan Dinda. Dinda gak apa-apa kok kalau nantinya mas Aditia akan menceraikan Dinda, asalkan mas Aditia tetap mengizinkan Dinda nantinya bertemu dengan anak Dinda."


"Lagian juga belum tentu Dinda hamil secepat itu mah, Pah! Toh hamil atau tidak, Dinda dan mas Aditia akan tetap berpisah bukan?" Lanjut Dinda.


Kedua mertuanya hanya terdiam, memang benar yang dikatakan Dinda. Tapi mereka berharap Dinda dan Aditia tidak berpisah, hamil atau tidak hamilnya Dinda. Entah menagapa mereka merasa sangat menyayangi Dinda, apa lagi mendapati sikap Lisa menantu pertamanya, yang ternyata sikapnya sangat memuakkan. Mereka tak menyangka jika Lisa mempunyai sikap seperti itu, selama ini ternyata Lisa bersikap baik hanya berpura-pura.


Mamah Amira dan papah Mahendra kali ini tidak bisa berbuat apa-apa. Jika memang itu sudah menjadi keputusan Dinda, mereka hanya bisa pasrah. Mereka hanya bisa mendoakan semoga nantinya ada jalan yang terbaik untuk Dinda. Tapi jika sampai Dinda berpisah dengan Aditia, mereka merasa menjadi orang yang sudah membuat Dinda terluka dan menderita, mereka tau semua ini karna keegoisan mereka. Jika mereka tau Aditia dan Lisa akan memperlakukan Dinda seperti ini, mereka tidak akan menawarkan Almarhum Atmaja sahabatnya, untuk menikahkan Dinda dengan putranya. Jika sampai Dinda dan Aditia berpisah nantinya, apa lagi nantinya mereka mempunyai anak, sudah di pastikan mamah Amira dan Papah Mahendra akan menjadi orang yang paling merasa bersalah dan tidak akan memaafkan dirinya sendiri.


'Atmaja, maafkan aku. Aku sudah membuat putrimu seperti ini. Aku menyesal sudah memaksamu menikahkan putrimu dengan putramu. Maafkan aku Atmaja,' gumam papah Mahendra dengan lirih.


"Ya sudah kalau itu memang keputusan kamu nak, maafkan papah ya..." Ucap papah Mahendra.


"Pah, tidak usah minta maaf. Terima kasih papah dan mamah sudah mau menerima keputusan Dinda, terima kasih juga kalian sudah menerima Dinda di keluarga kalian."


"Sama-sama Dinda, mamah dan papah sangat menyayangi kamu. Kami harap kamu tidak putus asa, mamah yakin kamu pasti bisa membuat suamimu jatuh cinta padamu. Bersabarlah ya sayang!" Tutur mamah Amira.


"Dan satu lagi, kalau Lisa dan Aditia memperlakukan kamu semena-mena, kamu bilang sama kita ya!" Pinta papah Mahendra.


Dinda hanya tersenyum sambil mengangguk kepalanya.


Walaupun suaminya tak bisa menerimanya, setidaknya di dunia ini ia masih ada orang baik seperti mamah Amira dan papah Mahendra. Dinda sangat bersyukur bisa mempunyai mertua seperti mereka.


"Ya sudah kalau begitu kami pamit ya!"


"Loh kok pamit sih? Bukan mamah dan papah akan menginap di sini?"


"Iya tadinya, tapi rasanya mamah sudah tidak ingin lagi sekarang. Kamu jaga diri baik-baik ya sayang!"


"Iya mah."


"Ya sudah kami tinggal ya Din, ingat kalau ada apa-apa segara hubungan papah atau mamah!" Pesan papah Mahendra.


"Iya pah. Kalian tenang saja, Dinda pasti baik-baik saja kok," ucap Dinda.


"Kami pulang ya sayang!" Pamit mereka kembali, Dinda mengangguk kepalanya.


"Asalamua'allaikum."


"Walaikum'salam."


Kedua mertuanya pun berlalu dari sana, meninggalkan rumah Aditia. Dinda menghelai nafasnya usai kepergian kedua mertuanya itu. Berat sekali rasanya hidup yang Dinda jalani.


'Ya tuhan bolehkah aku mengeluh? Aku lelah,' batin Dinda. Dinda menatap menerawang ia membayangkan bagaimana kalau nanti dia hamil lalu melahirkan. Setelah itu Dinda akan memberikan anaknya kepada Aditia dan Lisa. Membayangkannya saja sudah membuat dadanya terasa sesak. Bagaimana kalau nantinya itu benar terjadi. Jika boleh memilih, lebih baik Dinda berpisah sekarang saja dengan suaminya itu.

__ADS_1


'Astaghfirullah, apa yang aku pikirkan,' gumam Dinda lagi, ia tersadar lamunannya.


Hamil? Apa tidak terlalu jauh Dinda memikirkan hal itu, bagaimana dia bisa hamil, kalau suaminya saja tidak pernah menidurinya. Jangankan tidur bersama, menerima dirinya saja sampai sekarang tidak.


Tapi, mengingat kembali ucapan Aditia tadi,


yang menyetujui keinginan kedua mertuanya, bahwa akan membuat Dinda hamil dalam waktu yang kedua mertuanya berikan. Apa itu artinya suaminya sudah berniat akan menggaulinya.


Tapi melakukan hubungan suami istri, tanpa adanya rasa cinta, apa mungkin itu terjadi? Apa mungkin mereka bisa? Entahlah.


***


Sementara itu di kantor Aditia. Usai metting dengan klien, Aditia kembali ke ruangannya.


Pikirnya kembali teringat dengan ucapnya tadi kepada kedua orang tuanya.


"Sial," pekik Aditia, "bagaimana bisa aku membuat wanita itu hamil, dalam waktu sesingkat itu."


"Arrgg..." Aditia berteriak, ia begitu frustasi.


Aditia tak mencintai istri mudanya itu, apa bisa ia melakukan hubungan suami istri dengannya. Bukankah melakukan itu, harus dengan cinta?


Tok tok tok


Seseorang terdengar mengetuk pintu ruangannya.


Seorang laki-laki yang usianya sama dengan Aditia terlihat masuk ke dalam ruangannya. Reza, dia adalah sekertaris Aditia. Selain sekertaris Reza juga sahabatnya.


"Ini berkas yang bos minta," ucap Reza. Ia meletakan sebuah map yang di minta atasannya itu.


"Oke, thank!" Reza mengangguk, lalu ia berjalan keluar dari ruangan Aditia.


"Eh Za, tunggu!" Panggil Aditia. Reza langsung menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Aditia.


"Iya ada apa?"


"Ada yang mau gue tanyakan sama elo," ujar Aditia.


"Apaan? Masalah apa?" Cerca Reza.


"Sini elo duduk dulu, gue mau nanya serius!"


"Ck, serius gaya elo." Ledek Reza, namun ia menurut pada Aditia, Reza duduk di kursi yang berhadapan dengan bos sekaligus sahabatnya itu.


"Bagaimana rasanya tidur dan melakukan olahraga ranjang tanpa cinta?" Tanya Aditia. Mengingat sahabatnya itu adalah sang Cassanova, mungkin tidak ada salahnya jika Aditia bertanya pada Reza.


"Tunggu-tunggu! Ngapain elo tanya gituan?" Tanya Reza seraya menatap Aditia curiga, "apa jangan-jangan elo mau nyobain ya? Wah-wah wanita mana yang beruntung menggoyahkan kesetiaan sang Aditia?" Cerca Reza.

__ADS_1


"Udah jangan banyak bacot! Cepat katakan?"


"Oke-oke, rasanya nikmat aja!" Jawab Reza.


"Stt, bukan itu maksud gue. Gini ya elo--kan gak cinta sama tuh wanita, tapi kok elo kok bisa berhubungan di ranjang sama dia?"


"Ya karna nafsulah," jawab Reza dengan santainya.


"Bagaimana bisa nafsu kalau gak ada cinta?"


"Ck, ya bisalah. Sekarang itu udah jaman modern Aditia, emangnya elo mau ngapain sih tanya-tanya begituan? Elo udah bosen sama lobang si Lisa?" Reza berbalik bertanya, aneh pikir Reza, ada apa dengan Aditia, kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Apa Aditia akan mengikuti jejaknya. Kalau iya ingin rasanya Reza tertawa.


"Sialan elo, bukan gitu Za. Elo taukan orang tua gue, keukeh banget pengen punya cucu. Nah elo tau jugakan kalau istri gue gak bisa hamil?" Reza mengangguk-anggukan kepalanya.


"Begini ceritanya Za..." Lanjut Aditia, ia menceritakan pada Reza kalau dirinya sudah menikah lagi dengan wanita lain, menikah dengan Dinda, Aditia menceritakan seluk beluk semuanya. Dari mulai Dinda yang dihianati calon suaminya, tidak ada yang terlewat satu pun, Aditia menceritakan sedetail-detailnya kepada sahabatnya itu.


"Jadi sekarang elo punya bini dua?" Tanya Reza, usai mendengar semua cerita Aditia. Reza sangat terkejut, ia tak menyangka bahwa seorang Adita Mahendra yang dikenal setia tapi ternyata bisa juga mendua, berpoligami pula.


Aditia mengaggukan kepalanya pelan, "iya. Tapi gue tetep cintanya sama Lisa."


"Ck, gue jadi penasaran gimana itu madu si Lisa. Cantik gak?"


"Eh-eh tapi, elo gak boleh gitu sama si--, siapa tadi nama bini kedua elo?" Lanjut Reza.


"Dinda."


"Iya, kasian si Dinda, elo harus adil brow. Walaupun elo gak cinta sama dia, tapi elo harus tetap hargai dia. Sekarang diakan sama istri elo juga!" Pesan Reza. Walaupun seorang Cassanova, tapi nuraninya ada.


"Iya sih, sebenarnya gue juga kasian. Tapi gue tetap aja gak bisa nerima dia, padahal dia itu wanita yang baik, cantik, solehah pula." Tutur Adita menyadarinya, tapi ia tak bisa mengalahkan egonya. Tak sadar Aditia juga memuji istri keduanya itu.


"Hati-hati jangan terlalu membencinya, benci sama cinta beda tipis. Jatuh cinta sama dia, baru tau rasa elo."


"Ck, mustahil," ledek Aditia. "Cepat katakan bagaimana caranya biar gue bisa tidurin tuh si Dinda." Lanjut Aditia.


"Sini gue bisikin," ucap Reza. Aditia mengangguk lalu ia mendekatkan telinganya kearah Reza. Dan Reza mulai membisikan sesuatu pada telinga Aditia.


"Seriusan elo Za?" Tanya Aditia, usai mendengar bisikan dari Reza.


"Iya, elo coba aja kalau gak percaya!" Jawab Reza. Aditia terdiam, ia memikirkan kata-kata Reza yang dibisikkan kepadanya.


Bersambung...


Like dulu ya!


Komen juga!


Vote kalau ada!

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2