Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 75. Istri satu-satunya


__ADS_3

Seminggu berlalu...


Dinda dan Aditia, serta baby Azka memutuskan untuk kembali ke Rumah mereka. Setelah kepulangan dari RS, Dinda memang tinggal di Rumah mertuanya.


Sempat terjadi drama Mamah mertuanya, yang kukuh ingin mereka tinggal di sana. Namun Aditia juga kukuh ingin membawa Dinda dan Azka tinggal di Rumahnya.


"Mamah sudahlah, jangan seperti anak kecil, lagian tempat tinggal Aditia tidak jauh juga, 'kan dari sini," ujar Papah Mahendra. Ia mencoba membujuk istrinya yang sedari tadi terus merajuk.


"Papah gak ngerti perasaan Mamah gimana? 6 bulan Mamah jagain Azka, sekarang dia udah sama orang tuanya. Kesepian Pah, Mamah kesepian," lirihnya. Namun terlihat narsis.


"Sudah ah, jangan seperti ini. Besok kita ke Rumah Aditia, kita nginep di sana."


"Seriusan Pah?" Mata sang Istri terlihat berbinar.


"Iya,"


"Ah, Papah. Papah emang selalu mengerti apa yang Mamah mau," ucapnya seraya mencium pipi suaminya itu.


Papah Mahendra, hanya menggeleng, antara lucu dan kesal, mendapati sikap sang istri akhir-akhir ini.


***


Dinda terlihat tengah berkutat di dapur di bantu oleh ART-nya. Wanita itu kini tengah memasak, untuk makan malam mereka.


Satu jam yang lalu Aditia baru pulang dari kantornya, kini suaminya itu tengah mandi.


Aditia yang sudah selesai membersihkan tubuhnya itu, setalah berganti pakaian. Ia mencari keberadaan istrinya. Entahlah, sikap Aditia kini sangat posesif pada Dinda.


"Sayang..." panggil Aditia. Namun tak ada sahutan dari Dinda.


"Kamana Dinda?" gumamnya, lalu ia berajak keluar dari kamarnya itu, "apa di kamar Azka ya?" Aditia pun berajak menuju kamar sebelah. Dimana kamar tersebut sekarang sudah di jadikan kamar untuk putranya itu.


Aditia membuka pintu kamar tersebut perlahan, karna ia takut jika baby Azka tertidur, akan terbangun jika mendengar suara.


"Kok tidak ada?" Aditia menatap ke sekeliling kamar tersebut, namun Dinda tidak ada. Hanya ada baby Azka saja yang terlihat sudah tertidur lelap di ranjang kecilnya.

__ADS_1


Aditia berjalan menuju ranjang baby Azka, di tatapnya bayi mungil yang tengah tertidur lelap itu. Lalu cup..


Aditia mendaratkan kecupan di kening baby Azka. Baby Azka terlihat menggeliat. Aditia sedikit terkejut.


Lalu dengan cepat Aditia menepuk-nepuk batat baby Azka dengan lembut.


"Maafin Ayah ya sayang, bobo lagi ya. Ayah sayang sama kamu," ucap Aditia pelan.


Aditia mengelus dadanya, ia merasa lega, saat melihat Azka sudah tertidur kembali. Setalah itu, dengan langkah yang hati-hati Aditia keluar dari kamar baby Azka.


Aditia berjalan menuruni anak tangga, di lihatnya Dinda tengah menatap makanan di atas meja makan. Pantas saja istrinya itu tidak ada di kamarnya, atau pun di kamar baby Azka. Ternyata sedang menyiapkan makan malam untuk mereka.


"Sayang..." panggil Aditia, spontan Dinda pun menoleh kearah suaminya itu.


"Eh, Mas. Udah selesai mandinya. Yuk kita makan, aku udah masakin makanan kesukaan Mas ni," ucap Dinda.


"Sayang, ngapain sih kamu repot-repot nyiapin makan hmm?" Aditia berjalan mendekati Dinda, lalu memeluk wanita itu dari belakang.


"Mas, jangan seperti ini. Malu ih, ada bibi juga!"


"Mas, lepasin. Aku sesak ini," rengek Dinda.


"Hehe, maaf sayang," Aditia tersenyum, lalu melepaskan pelukannya. Lalu mata Aditia menatap ke arah meja makan.


"Sayang ini semua kamu yang masak?" tanyanya kemudian. Dinda menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kenapa Mas? Gak suka ya?"


"Bukan gak suka sayang. Tapi ingat kata dokter kamu jangan terlalu kecapean. Kamu masih dalam masa pemulihan loh Yang!"


"Iya Mas. Aku tau! Lagian cuman masak doang. Gak cepek kok, dibantuin Bibi juga," sahut Dinda.


"Sekarang ayo kita makan," lanjutnya.


Aditia mengangguk, lalu mereka menarik kursi meja makan, dan duduk di kursi tersebut. Setalah itu Dinda mengambilkan nasi serta lauk pauk pada piring suaminya.

__ADS_1


"Terima kasih sayang," ucap Aditia tulus, mendapatkan anggukkan dari Dinda.


"Kamu makan yang banyak sayang, biar gemuk," lanjut Aditia.


Dinda hanya mengangguk, sambil terkekeh. Lalu ia mengambil nasi dan lauk pauk untuk dirinya sendiri. Setalah itu mereka pun mulai menikmati makan malam mereka. Pancaran kebahagian terlihat dari wajah Dinda dan Aditia.


"Din, terima kasih," ucap Aditia tulus, sambil menatap Dinda dengan tatapan penuh cinta.


"Untuk?"


"Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih sudah hadir dalam kehidupan aku, aku mencintaimu. Jangan pernah tinggalkan aku ya Din," ucap Aditia.


Dinda tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.


Jujur saja, Dinda tak pernah menyangka, ia merasa sedang bermimpi saat ini. Dia bisa memiliki Aditia seutuhnya, tepatnya hanya Dinda-lah Istri satu-satunya Aditia.


Sebanerannya Aditia belum menceritakan tentang Lisa, tentang kecelakaan yang menimpa Dinda juga.


Menjalankan semua yang terjadi selama Dinda koma.


Aditia hanya mengatakan pada Dinda, kalau Dinda saat ini adalah istri satu-satunya. Aditia sudah bercerai dengan Lisa. Hanya itu saja, yang lain belum Aditia ceritakan.


"Mas, boleh aku bertanya suatu?" tanya Dinda.


"Boleh Sayang, apa?"


Dinda terdiam, nampaknya ia bingung, harus memulai menanyakan apa kepada suaminya itu.


Bersambung...


Maaf baru sempat up.


Lagi gak enak badan.


Jangan lupa like, komen, dan Votenya ya.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2