Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 13. Kenikmatan yang tak pernah dirasakan


__ADS_3

Malam harinya, Dinda sudah berbaring di atas kasurnya. Perlahan Dinda memejamkan matanya, karna rasa kantuk sudah mulai menyerang matanya.


Sementara itu, Aditia tengah berdiri di balkon. Ia terlihat tengah berbicara dalam sambungan telpon.


["Za kok obat itu belum ada efeknya sih?"] Tanya Aditia, yang tengah berbicara dengan Reza dalam sambungan telpon tersebut.


["Elo serius mau pake cara itu?"] Reza berbalik bertanya, nada suara terdengar terkejut.


["Iyalah, elo pikir gue bercanda hah?"]


["Ya emang gue kira elo bercanda, lagian kenapa elo pake cara itu sih, kalau elo hilang kendali gimana? Maksud gue itu obat bukan sembarang obat, efeknya bisa bikin elo gila Aditia."]


["Iya gue tau! Udah elo jangan banyak omong. Katakan kapan obat itu bereaksi? Gue udah minum obatnya barusan, tapi sampe sekarang gue gak ngerasain apa-apa!"]


["Tunggu aja 10-15 menitan, dijamin elo mulai kepanasan!"]


Tut, panggilan tersebut langsung dimatikan oleh Aditia secara sepihak. 'Oke aku akan tunggu 10-15 menit, apa iya obat itu benar bereaksi,' gumam Aditia.


Entah kebodohan apa yang tengah Aditia lakukan saat ini, ia baru saja meminum obat perangsang. Obat tersebut Aditia dapatkan dari Reza. Karna Aditia tidak mungkin melakukan hubungan badan bersama Dinda, dengan alasan tak mencintainya, jadi pikirnya mungkin jika dalam pengaruh obat tersebut, Aditia tidak akan ragu melakukan.

__ADS_1


Aditia masih berdiri di balkon, kini ia merasakan hawa badannya terasa panas, padahal angin malam saat itu sangat dingin.


Rasanya Aditia ingin membuka semua pakainya, badannya benar-benar sangat terasa panas.


'Apa obatnya mulai berkerja?' ucap Aditia dalam hatinya. Setalah itu Aditia masuk kembali ke dalam rumahnya, Aditia berjalan menggontai, hawa panas di badannya itu semakin menjadi, Aditia berjalan menuju kamar Dinda.


Braakk...


Aditia membuka pintu kamar Dinda dengan sangat kencang, membuat Dinda yang sudah terlelap langsung terbangun. Refleks Dinda langsung menoleh kearah Aditia. Dinda menatap Aditia keheranan, ada apa dengan suaminya itu?


Aditia menutup pintu kamar tersebut rapat-rapat dan menguncinya, setelah itu ia berjalan mendekati kearah Dinda menuju ranjangnya. Aditia berjalan sambil membuka kancing piyamanya, tatapan Aditia seperti ingin menerkam mangsanya. Dinda terlihat ketakutan.


Aditia tak menjawab, ia membuka baju piyamanya, lalu ia mendekatkan wajahnya ke wajah Dinda, tanpa aba-aba Aditia langsung menyerang Dinda, menempelkan bibirnya di bibir ranum milik istrinya itu. Dinda terlihat memberontak mencoba melapaskan pungutan bibirnya suaminya itu, namun Aditia menahanya, ia tak perduli dengan pemberontakan istri mudanya itu. Dinda tak putus asa, ia mencoba mendorong Aditia, namun lagi-lagi usahanya sia-sia, tenaga suaminya itu sangat kuat. Dinda hanya pasrah, namun ia tak membalas permainan suaminya itu. Dalam hatinya menjerit, namun tak bisa berbuat apa-apa. Bukan Dinda tak mau memberikan haknya kepada Aditia, tapi jika caranya seperti ini, Dinda tak rela.


Aditia melepaskan pungutan bibirnya dari bibir Dinda, membiarkan Dinda mengambil nafas terlebih dahulu. Butiran bening terlihat menetes dari sudah mata Dinda, namun Aditia tak menghiraukannya. Hasrat dalam tubuhnya kian membara, Aditia tak bisa lagi menahannya, ia kembali menyerang Dinda, namun kali ini ia menyerangnya perlahan serta lembut, Aditia memungut kembali bibir ranum istri mudanya itu, Dinda hanya pasrah tidak ada tenaga untuk melawan Aditia. Hatinya berusaha ikhlas walaupun ragu, semua yang ada di tubuhnya sudah sah milik Aditia, rela tak rela Dinda harus memberikanya.


Tangan Aditia mulai berkelana, ia membuka penutup kelapa yang membalut istrinya, hingga rambut panjang milik Dinda yang selama ini belum pernah di lihat Aditia, tergerai indah di sana. Tanpa melepaskan pungutan bibirnya, Aditia mulai membuka kancing piyama yang di kanakan Dinda, satu persatu kancing itu mulai terlepas, menampakan gundukan kembar milik Dinda yang masih di tutupi oleh pakaian dalamnya. Tangan Aditia mulai menyusup masuk kebelakang punggung Dinda, walaupun semua itu dalam pengaruh obat, namun Aditia masih sadar, entah mengapa ia tak mau melakukannya dengan kasar. Kini pakaian dalam atas milik Dinda sudah terlepas, tangan kekar Aditia mulai meremas dua buah kenyal itu dengan lembut, Dinda yang sedari tadi terdiam, mulai merasakan desiran yang aneh ditubuhnya kala Aditia meremas buah kenyalnya itu. Tanpa sadar, Dinda mengeluarkan suara ajaibnya, ******* lembut Dinda membuat hasrat Aditia semakin membara. Aditia melepaskan pungutan bibirnya dari bibir Dinda, ia berpindah ke leher jenjang milik Dinda, meninggalkan jejak kepemilikannya di sana. Lalu bibirnya bermain di buah kenyal milik Dinda, membuat Dinda menggeliat kegelian. Hingga Aditia berhasil membuka semua pakaian di tubuh Dinda.


Nafas keduanya terdengar bergemuruh, Aditia sudah benar-benar tak bisa menahan lagi adik kecilnya dibawah sana yang sudah menegang sedari tadi. Keduanya sudah di penuhi hasrat yang membara, membuat mereka lupa, Aditia langsung mencopoti pakaian yang masih ada di tubuhnya. Aditia memposisikan tubuhnya di atas tubuh istrinya itu, ia langsung mendekatkan adik kecilnya ke lubang kenikmatan milik Dinda.

__ADS_1


Namun Aditia terlihat kesusahan hendak memasukan adik kecilnya itu, lubang milik istri mudanya itu sangat sempit. Namun Aditia terus berusaha memasukannya.


Dinda menjerit kesakitan, usai Aditia berhasil memasukan adik kecilnya itu, air mata terlihat mengalir deras dari sudut matanya. Sakit, perih terasa dari bagian bawah sana, bukan hanya itu, hatinya juga terasa sakit dan perih. Selaput dara milik Dinda kini sudah berhasil direnggut oleh Aditia. Suami yang sama sakali tidak mencintainya.


Aditia yang sudah di penuhi nafsu tak menghiraukan teriakan Dinda yang kesakitan itu. Namun Aditia paham apa yang harus dia lakukan, ia kembali memungut bibir istrinya itu, menghentakkan pinggulnya perlahan, tanganya bermain lembut di atas buah kenyal milik Dinda, kesakitan yang dirasakan Dinda mulai berubah menjadi suatu kenikmatan yang selama ini belum pernah Dinda rasakan, ******* kini mulai terdengar kembali dari bibir Dinda. Begitu juga Aditia ia benar-benar merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa. ******* juga terdengar dari bibir Aditia, ******* mereka semakin terdengar kencang saat mereka akan menuju puncak kenikmatan. Aditia mempercepat hentakan pinggulnya, dan akhirnya mereka sama-sama menuju puncak, Aditia menabur cairan benihnya di rahim Dinda.


Aditia melepaskan adik kecilnya dari lubang kenikmatan milik Dinda, Aditia terkejut mendapati bercak darah di atas seprai bekas pergulatan mereka. Entah mengapa ada rasa bangga pada hati Aditia, karna ia sudah berhasil menerobos selaput dara milik istri mudanya itu. Usai itu Aditia langsung menghempaskan tubuhnya ke samping Dinda, Dinda terlihat sudah memejamkan matanya akibat kelelahan. Aditia menoleh kearah Dinda, senyuman terlihat terambang di wajah tampan Aditia, Aditia mendaratkan kecupan di kening Dinda, menyibakkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istri mudanya itu.


"Maafkan aku, aku memaksamu. Maafkan aku jika aku melukaimu," ucap Aditia pelan. Lalu Aditia menarik Dinda kedalam pelukannya. Aditia pun mulai menajamkan matanya, tak lama kemudian ia--pun menyusul istrinya masuk ke dalam dunia mimpi mereka.


Entah apa yang dirasakan Aditia saat ini, Aditia pun tidak bisa menjelaskannya. Aditia memang melakukan hal itu kepada Dinda karna pengaruh obat perangsang yang diberikan oleh Reza padanya, namun dosis obat itu tidak terlalu tinggi, bahkan Aditia sangat sadar saat melakukan hal itu bersama Dinda. Apa itu artinya Aditia mulai menerima Dinda?


Bersambung...


Jangan lupa like, komen dan Votenya ya guys ya!! Aku up 2-3 bab sehari kalau gak ada halangan ya. Hehe


Terima kasih yang sudah baca dan ikutin kelanjutannya. I love you buat kalian semua.


Bye-bye....

__ADS_1


__ADS_2