
"Kak, bangunlah. Apa kamu tidak lelah tidur seperti ini.
Azka butuh Kakak," lirih Bella sambil terisak tangis. Menggenggam tangan Dinda dengan erat, berharap Kakaknya itu segera sadar dari komanya.
"Kak ini sudah satu bulan Kakak tidur, Kakak bangunlah, bukannya Kakak ingin melihat aku menikah dengan Kak Reza, Kak aku sudah mencintai Kak Reza. Benar kata Kakak, Kak Reza memang laki-laki baik, dia sangat mencintai aku dan menyayangi anakku juga!"
"Kak, apa Kakak tidak kasihan pada Kak Aditia, aku lihat Kak Aditia hilang semangat, selalu murung, cepat bangun Kak, kami semua menyayangi Kakak," lanjut Bella. Bella berbicara pada Dinda, mencurahkan isi hatinya. Walaupun Dinda koma, tapi Bella yakin Kakaknya itu pasti mendengarkan apa yang dia bicarakan.
Sementara itu sadari tadi sepasang mata memperhatikan Bella, mendengarkan semua ucapan Bella. Ya, mata itu adalah mata Aditia. Mata Aditia terlihat berkaca-kaca.
"Asalamua'allaikum," ucap Aditia.
"Walaikum'salam," jawab Bella, Bella langsung mengusap air matanya, lalu tersenyum.
"Kak," Bella meraih tangan Aditia menyalaminya.
"Bel, kamu sudah lama di sini?" tanya Aditia basa-basi. Berpura-pura bahwa ia baru saja datang.
"Lumayan kak," jawab Bella.
"Oh iya gimana Baby Azka?"
"Azka baik-baik saja Bel,"
"Syukurlah."
"Kalau begitu Bella pamit ya Kak, kasian Dede bayi tadi ditinggal sama bibi di rumah," pamit Bella. Ia merasa canggung jika ada Kakak Iparnya itu.
"Loh kok buru-buru Bel?"
"Iya Kak, maaf ya," ucap Bella.
"Tidak apa-apa."
"Kalau begitu Bella pulang ya Kak," pamit Bella lagi. Aditia mengangguk, lalu Bella pun mulai melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Eh Bel, tunggu!'' panggil Aditia, membuat Bella langsung menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Aditia.
"Ya, kenapa Kak?"
"Ada yang ingin aku tanyakan, boleh kita bicara sebentar?" Bella terlihat menganggukan kepalanya.
"Kita bicara di situ saja," ajak Aditia sambil menunjuk sofa yang ada di ruang rawat Dinda tersebut. Bella menurut, ia membalikan tubuhnya, lalu berjalan kearah sofa.
__ADS_1
"Mau bicara apa Kak?" tanya Bella.
Aditia terdiam sejenak, ia berpikir akan memulai pembicaraannya dengan Bella bangaimana. Sebenarnya Aditia ingin menanyakan soal Riki, setidaknya Bella pasti lebih mengenal Riki. Tepatnya sikap Riki.
"Begini Bel, kamu kenal Riki, 'kan?"
"Kak Riki?" ucap Bella. Aditia mengangguk.
Bella menatap bingung, "ada apa? Kenapa Kak Aditia menanyakan Kak Riki?" batin Bella.
"Kamu bilang Riki itu sangat mencintai Dinda bukan?" tanya Aditia lagi.
"Emm, mungkin Kak," jawab Bella ragu. Riki memang pernah bilang kalau ia sangat mencintai Dinda, tapi itu dulu. Dan sekarang Bella tidak tau!
"Menurut kamu, apa Riki itu baik?"
"Maksud Kakak?" Bella benar-benar bingung dan tidak mengerti dengan ucapan Aditia.
"Begini Maksud Kakak..." Aditia menjada ucapan, ia juga bingung bagaimana menjelaskannya pada Bella.
"Seumpama ni ya Bel. Riki mencintai Dinda, tapi dia melukai Dinda, apa mungkin itu terjadi?" lanjut Aditia.
Bella terdiam, mencoba mencerna apa yang ditanyakan oleh kakak iparnya itu. Mencintai? Tapi menyakiti? Maksud?
"Aku memang cinta sama Kak Reza, Kak!" potong Bella.
"Sebentar Kakak belum selesai bicara Bella!" ucap Aditia. Bella terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Misalnya, ini misalnya ya Bella. Ingat jangan memotong ucapan kakak lagi," ucap Aditia. Bella mengangguk patuh.
"Misalnya kamu mencintai Reza, tapi Reza sudah jadi milik orang lain. Sedangkan kamu tidak rela kalau Reza bersama orang lain. Apa kamu yang akan kamu lakukan?"
"Apa mungkin kamu akan mencelakai Reza juga?" lanjut Aditia.
"Bisa jadi Kak. Karna cinta itu bisa bikin orang buta, gelap mata. Banyak kok orang-orang yang nekat bahkan sampai menghabiskan nyawa orang yang di cintainya karna tidak rela melihat orang yang dicintainya itu bersama orang lain,"
"Aku pernah merasakannya Kak. Tapi aku sadar, kalau itu bukan cinta, tapi obsesi. Jika memang kita mencintainya kita tidak akan melukainya, melainkan berlapang dada merelakan dia bahagia, ya walaupun gak sama kita!" lanjut Bella. Ia ingat betul bagaimana dulu ia merebut Riki dari Kakaknya sendiri, bahkan sampai menghalalkan segala cara. Tapi kini Bella sadar bahwa bukan perasaan cinta yang ia miliki untuk Riki, tapi obsesi.
Aditia terlihat menganggukkan kepalanya.
"Obsesi dan cinta memang beda tipis kak, sulit untuk membedakannya," ucap Bella.
"Apa Riki juga terobsesi pada Dinda? Apa ada kemungkinan kalau memang Riki yang sudah mencelakai Dinda?" batin Aditia.
__ADS_1
"Tunggu Kak! Tadi Kakak tanya soal Kak Riki, 'kan?" lanjut Bella bertanya.
"Eh iya, tidak apa-apa kok Bel. Kakak cuman tanya aja," jawab Aditia. Tidak mungkin Aditia berbicara jujur tentang kecurigaannya itu pada Bella.
Tapi sepertinya Bella sudah bisa menebak apa isi hati Kakak Iparnya itu.
"Apa kakak curiga pada Kak Riki?" tanya Bella.
Aditia terkejut, ia langsung gugup. Kenapa Bella bertanya seperti itu?
"Tidak Bell," jawab Aditia. Mencoba menyembunyikan kegugupan.
"Kirain, hehe..."
"Jujur aja ya Kak, Bella curiga sama Kak Riki. Entah kanapa Bella ngerasa kalau Mbak Lisa itu tidak bersalah. Waktu di sidang ia menjelaskan semuanya, seperti Mbak Lisa tidak bohong, dia hanya tidak punya bukti saja," lanjut Bella, berkata sejujurnya.
Aditia hanya tersenyum menanggapi perkataan Adik iparnya itu. Jika boleh jujur Aditia pun kini merasakan hal yang sama dengan Bella.
"Ya sudah, kalau begitu Bella pulang ya Kak," pamit Bella.
Aditia mengangguk, "hati-hati Bel," ucap Aditia.
"Oke, kak!" sahut Bella sambil berjalan meninggalkan Aditia.
"Yang dikatakan Bella benar juga! Kemungkinan memang Riki terobsesi oleh Dinda, semoga Reza segara mendapatkan petunjuk, untuk mengetahui kebenaran," gumam Aditia.
Lalu Adita berjalan menghampiri Dinda.
"Sayang, menurut mu, apa Riki yang melakukan semua ini?"
"Cepat bangun, aku ingin melihat senyuman kamu sayang. Apa kamu tidak lelah terus tertidur seperti ini? Apa kamu tidak ingin melihat bayi kita sayang? Azka bayi yang sangat lucu sayang," ucap Aditia berbicara pada Dinda. Berharap Dinda mendengar semua ucapan dan sadar dari komanya.
Jujur saja Aditia lelah, ia hampir putus asa. Melihat Dinda yang masih terbaring koma. Namun sebisa mungkin Aditia menguatkan dirinya. Dia tidak boleh lemah, Aditia yakin Dinda pasti secepatnya akan bangun dari komanya itu.
Bersambung...
Like
komen
vote
Terima kasih.
__ADS_1
See u...