Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 32. Pemakaman


__ADS_3

Pagi harinya.


Aditia, Dinda, mamah Amira dan papah Mahendra, kini tengah menikmati sarapan pagi mereka. Kehangatan terlihat di sana. Dimana Aditia sangat memanjakan Dinda, makan pun Aditia menyuapinya, Dinda sebenarnya sudah menolaknya, karna ia merasa malu dengan kedua mertuanya. Namun Aditia keukeh.


Sementara mamah Amira dan papah Mahendra, mereka terlihat bahagia melihat kemesraan anak dan menantunya itu. Hingga akhirnya sarapan pun selesai, Aditia langsung berpamitan pada istri dan kedua orang tuanya.


"Mah, titip Dinda ya." Ucap Aditia, sebelum ia pergi ke kantor.


"Iya, kamu tenang saja! Mamah gak mungkin nyakitin Dinda, kaya si Lisa!" Ketus mamah Amira. Sengaja menyinggung putranya itu, agar otaknya lempeng. Cepat menceraikan istri tuanya. Namun Aditia tidak terlalu menanggapi.


"Sayang, aku berangkat dulu ya!" Pamit Aditia, Dinda meraih tangan suaminya itu. Menyalami dengan takzim.


"Anak ayah, jangan nakal ya. Baik-baik ya di perut bunda," ujar Aditia. Seraya mengelus perut Dinda yang masih rata itu.


"Dede gak akan nakal ayah, asal Dede gak mau punya bunda dua," sahut mamah Amira tanpa dosa, Dinda dan Aditia langsung menoleh kearahnya, sementara papah Mahendra hanya mengelengkan kapalanya.


"Tentu saja, Dede tidak akan mempunyai Bunda dua," ujar Aditia seraya mengambangkan senyumannya.


"Aku berangkat ya!" Lanjutnya, mengecup kening Dinda. Dinda menganggukkan kepalanya.


"Asalamua'allaikum."


"Walaikum'salam." Jawab mereka serentak, Aditia pun mulai berjalan meninggalkan rumah tersebut.


Dinda menatap nanar dengan senyuman samar, miris, pikirnya. Mendengarkan ucapan Aditia tadi, anaknya pasti akan mempunyai satu bunda, dan bunda itu Lisa. Bukan dirinya, betapa teririsnya hati Dinda.


'Ya tuhan, apa nanti aku sanggup memberikan anakku kepada mereka?' gumam Dinda, sebisa mungkin ia menahan air mata yang sudah membendung di pelupuk matanya.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya mamah Amira, yang sedari tadi memperhatikan menantunya itu.


"Eh, iya mah." Sahut Dinda, tersentak. "Aku gak apa-apa kok," lanjut Dinda seraya menarik ujung bibirnya tersenyum.


"Tenang saja, nanti suami kamu juga pasti kembali kok," godanya, "mamah juga pernah merasakan seperti kamu sayang, kalau lagi hamil itu pengennya deket terus sama suami, apa lagi kalau hamil muda,'' lanjutnya sambil terkekeh.


"Oh iya mah, Pah. Emm Dinda mau izin keluar gak?"


"Keluar? Mau kemana?" Tanya mamah Amira.

__ADS_1


"Emm, ada urusan sebentar mah."


"Ya sudah boleh, tapi mamah temenin ya!"


"Gak usah mah, sebentar saja kok. Dinda cuman mau ke makam ayah."


"Gak apa-apa Din, biar mamah kamu temenin saja. Biar aman," sahut papah Mahendra.


"Gak usah Pah, aku sendiri saja. Bolehkan?"


"Tapi jangan lama-lama ya!" Ucap mamah Amira.


"Sama diantarkan sopir juga!" Timpal papah Mahendra.


"Iya," jawab Dinda, sambil menganggukkan kepalanya, "kalau begitu, Dinda siap-siap dulu ya."


Kedua mertuanya itu pun menganggukkan kepala mereka. Dinda langsung berajak dari sana, berjalan menuju kamarnya. Setalah itu Dinda bersiap-siap. Merasa sudah siap, Dinda pun berpamitan pada mamah Amira dan papah Mahendra.


"Mah, Pah. Dinda pergi dulu ya," pamitnya seraya meraih tangan kedua mertuanya secara bergantian.


"Asalamua'allaikum."


"Walaikum'salam."


Dinda pun berlalu dari hadapan mereka, berjalan keluar rumah tersebut. Sopir terlihat sudah menunggu Dinda, di dekat mobil.


Sopir itu membukakan pintu mobil untuk Dinda.


"Silahkan nona," ujarnya. Mempersilahkan Dinda masuk.


"Terima kasih." Ucap Dinda, sang sopir mengangguk lalu menutup pintu mobil kembali, usai Dinda masuk. Setelah itu ia menyusul masuk, duduk di kursi pengemudi.


"Mau kemana kita nona?" Tanyanya.


"Pemakaman dulu aja ya pak!" Jawab Dinda. Sang sopir mengangguk dan mulai melajukan mobilnya.


'Kemana aku harus mencari Bella ya?' gumam Dinda. 'Apa ke rumah orang tua mas Riki?'

__ADS_1


Dinda menghelai nafasnya, entah harus kemana ia mencari adiknya itu, bahkan setelah ia menikah dengan Aditia, ia tidak pernah mendengar kabar tentang adiknya. Terlebih nomer ponsel Dinda di blokir oleh adiknya itu. Aneh memang, harusnya Dinda yang melakukan hal itu, menutup akses komunikasinya, karna Dinda merasa kecewa padanya, tapi ini malah sebaliknya.


Jika dipikir-pikir Bella benar-benar menyebalkan. Lama bergelut dengan pikirannya, tak sadar kini mobil tersebut sudah sampai di depan pemakaman mendiang sang Ayah.


"Kita sudah sampai nona," ucap pak sopir kepada Dinda.


"Oh iya," Dinda tersadar dari lamunannya, "bapak tunggu saja disini." Pinta Dinda, diangguki oleh sopirnya.


Dinda pun keluar dari mobilnya, ia berjalan memasuki pemakaman tersebut. Kin Dinda sudah berada di samping makam mendiang sang ayah dan ibunya, yang memang makam mereka berdampingan.


"Asalamua'allaikum, ayah, ibu." Ucap Dinda, ia mengelus nisan keduanya secara bergantian. Lalu ia Dinda membacakan doa untuk almarhum kedua orang tuanya itu, usai membacakan doa, Dinda menaburkan bunga dan air mawar yang tadi ia bawa.


"Ayah, ibu. Maafkan Dinda baru berkunjung lagi kesini, oh iya Dinda bawa kabar baik untuk kalian," ucap Dinda dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Dinda sedang hamil, kalian akan memiliki cucu, andai saja kalian berdua masih ada. Pasti kalian merasakan bahagia seperti Dinda." Dinda sudah tak bisa lagi menahan air mata yang sedari membendung di pelupuk matanya, butiran bening itu meluncur begitu saja, membasahi wajah cantiknya.


"Tapi, dibalik kebahagian ini. Dinda merasa sangat sedih. Ayah, apa ayah tau sebelumnya kalau mas Aditia itu sudah menikah? Ayah tau, Dinda hanya dijadikan istri kedua mas Aditia, mereka memanfaatkan Dinda saja, agar mereka dapat keturunan. Ayah jujur saja semua ini sangat berat, maafkan Dinda jika suatu hari nanti Dinda akan melanggar janji Dinda kepada Ayah, agar mempertahankan pernikahan Dinda dan mas Aditia." Keluh Dinda sambil terisak tangis.


***


Sementara itu, disebuah apartemen yang cukup mewah, Bella masih berbaring di atas kasur size king, yang berada di kamar apartemen tersebut. Perlahan Bella membuka matanya, lalu ia mengarahkan pandangannya ke setiap sudah kamar tersebut, Bella benar-benar tidak mengenali kamar itu.


"Dimana aku?" Ucap Bella. Ia mencoba mengingat-ingat kembali, apa yang sudah terjadi dengannya. Beberapa detik berpikir, akhirnya Bella mengingat semuanya. Semalam dia di usir oleh suaminya, tepatnya kini sudah menjadi mantan suaminya. Ya Riki semalam mengusirnya, lalu ia pergi dan berjalan tak tentu arah, setalah itu ada dua orang laki-laki yang membiusnya.


"Apa orang-orang itu yang membawa aku kesini? Siapa mereka? Kenapa mereka membawa aku ke apartemen mewah ini?" Ucap Bella bermonolog dengan dirinya sendiri.


"Apa jangan-jangan," Bella terkejut, ia langsung melihat kearah tubuhnya, syukurlah pakaian masih lengkap, seperti kedua orang itu tidak menyakitinya atau melakukan yang tidak-tidak kepadanya.


"Hay baby, kamu sudah bangun," terdengar suara laki-laki yang bertanya, Bella langsung menoleh kearah sumber suara tersebut. Di lihatnya seorang laki-laki berwajah tampan berjalan mendekatinya.


"Kamu..." Ucap Bella terkejut, melihat laki-laki yang dihadapinya itu.


Bersambung...


Jangan lupa like, komen dan Votenya ya!


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2