Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 53. Aku akan coba membujuknya


__ADS_3

"Hallo, asalamualaikum mas," ucap Dinda di dalam sambungan telepon tersebut.


"Hallo, walaikum'salam. Din kamu bisa ke Rumah Sakit Harapan gak sekarang?" tanya Aditia.


"RS Harapan? Untuk apa mas? Siapa yang sakit?" cerca Dinda.


"Nanti mas jelasin di sini. Pokoknya kamu ke sini sekarang ya sayang," titah Aditia.


"Baik mas, aku ke sana sekarang."


"Iya, hati-hati ya. Asalamua'allaikum."


"Walaikum'salam."


Panggil telepon pun terputus. Dinda langsung bersiap-siap menuju rumah sakit tersebut.


"Ya Allah, ada apa ini? Kenapa perasaan aku gak enak begini," batin Dinda.


Dinda pun langsung berjalan keluar rumah, wajahnya terlihat sangat panik. Dinda benar-benar tidak tenang. Tanpa berpamitan terlebih dahulu pada Lisa, Dinda langsung menyuruh sopir mengantarnya ke rumah sakit yang di sebutkan oleh suaminya tadi.


Hingga kurang lebih 1 jam, Dinda menempuh perjalanan menuju rumah sakit tersebut.


"Pak, bapak pulang saja ya, dan tolong kasih tau mbak Lisa kalau saya ke sini. Soalnya tadi saya lupa berpamitan karna buru-buru!" ujar Dinda sebelum ia keluar dari mobil.


"Baik nyonya. Apa nanti saya jemput nyonya lagi ke sini?" tanyanya.


"Tidak usah Pak, nanti saya pulang sama suami saya kok," jawab Dinda. Pak sopir menganggukkan kepalanya mengerti. Setelah itu Dinda pun keluar dari mobil dan berjalan masuk ke rumah sakit tersebut.


"Dinda..." panggil Aditia. Ia melambaikan tangan pada istrinya itu. Dinda langsung menghampiri Aditia, yang sedari tadi memang sudah menunggu kedatangan istri mudanya itu.


"Mas," Dinda meraih tangan suaminya, menciumnya dengan takzim.


"Mas siapa yang sakit?" tanya Dinda kemudian.


"Nanti mas jelaskan, sekarang kamu ikut mas yuk," ajak Aditia seraya menarik tangan Dinda dengan lembut. Dinda pasrah, mengikuti langkah suaminya itu, dengan banyak pertanyaan yang tersimpan di hatinya.


"Za," panggil Aditia pada Reza. Yang sedang duduk di depan ruangan tempat Bella di tangani oleh dokter.


"Akhirnya kamu datang juga Din," ucap Reza. Wajahnya yang sedari terlihat kekhawatiran mulai sedikit tenang.


"Ada apa Pak Reza?" tanya Dinda. Reza terlihat melemparkan pandangannya pada Aditia.


"Jelaskan saja Za," titah Aditia. Ia mengerti apa arti dari tatapan Reza.


"Jadi begini Din. Bella saat ini membutuhkan darah kamu,'' ucap Reza.


"Bella? Maksud Pak Reza?" Dinda terlihat terkejut saat Reza menyebut nama Adiknya itu.


"Ceritanya panjang Din, nanti aku akan ceritakan semuanya. Tapi untuk saat ini aku butuh sekali bantuan kamu, kamu maukan donorin darah buat Bella?"

__ADS_1


"Bella baru saja melahirkan, sekarang kondisinya kritis, dia kehilangan banyak darah," lanjut Reza.


"Astagfirullah, ya sudah ayo ambil saja darah aku. Golongan darah aku dan Bella sama," ucap Dinda. Wajahnya terlihat sangat khawatir, bagaimana tidak? Mendengar kondisi adik satu-satunya itu Kritis, membuat Dinda benar-benar tidak tenang. Pantas saja sedari tadi perasaannya tidak enak, gelisah dan tidak tenang.


"Ya sudah, kita temui dulu dokter," ucap Reza. Diangguki oleh Dinda dan juga Aditia. Meraka pun berjalan menuju ruangan dokter.


Namun sangat di sayangkan, dokter tidak ingin mengambil darah Dinda, karna kondisi Dinda juga tengah hamil besar, mereka tidak ingin menanggung resiko. Walaupun Dinda memohon dan kukuh meminta dokter mengambil darahnya untuk di donorkan pada sang Adik. Namun tetap saja dokter itu tidak mau.


"Mas bagaimana ini?" lirih Dinda, ia benar-benar mengkhawatirkan kondisi Bella. Ia merasa menjadi kakak yang tidak berguna karna tidak bisa melakukan apa-apa saat adiknya tengah membutuhkan pertolongannya.


"Sudah sayang, tidak apa-apa. Kita doakan saja semoga pihak rumah sakit segara mendapatkan darah yang sama dengan golongan darah Bella," ucap Aditia. Ia mencoba menenangkan Dinda.


"Aku benar-benar kakak tidak berguna mas," lirih Dinda. Butiran bening kini terlihat meluncur bebas membahasi wajah cantiknya.


"Jangan bicara seperti itu Din, tidak baik," ucap Aditia. Ia manarik Dinda ke dalam pelukannya.


Tak lama kemudian, Reza yang terlihat kembali. Entah dari mana laki-laki itu. Yang pasti wajah Reza terlihat sumringah.


"Alhamdulillah, pihak rumah sakit sudah mendapat pendonor darah untuk Bella!" seru Reza.


"Alhamdulillah, terus bagaimana kondisi Bella sekarang?" tanya Dinda.


"Bella sedang ditangani oleh dokter. Kakak jangan banyak pikiran, tenangkan pikiran kakak. Ingat kakak juga kini tengah hamil besar," ucap Reza. Reza sengaja memanggil Dinda dengan sebutan kakak.


Dinda 'kan calon kakak iparnya. Ya, walaupun sebenarnya Reza tidak yakin nantinya Bella mau sama dia apa enggak.


"Tunggu-tunggu! Tadi elo sebut nama Dinda apa Za?" tanya Aditia.


"Ck, emang Bella mau nikah sama elo?" ledek Aditia.


"Ya semoga aja mau. Bella- kan ibu dari anak gue," sahut Reza.


"Kalian ini bicara apa sih hah? Coba jelaskan yang sebenarnya?" tanya Dinda. Ia benar-benar di buat bingung dengan tingkah dua laki-laki yang ada di hadapannya itu.


"Za, apa kamu tidak dengar apa yang istriku tanyakan?" timpal Aditia.


"Oke, baiklah. Aku akan menceritakan semuanya pada calon kakak ipar- ku ini," ucap Reza.


Setelah itu Reza mulai menceritakan, bagaimana kronogis pertama pertemuannya dengan Bella. Dari A sampai Z pokonya Reza menceritakan sedetail-detailnya. Tidak ada yang kurang tidak ada yang lebih.


Dinda terlihat mendengarkan dengan benar-benar serius, ia mencerna setiap ucapan Reza. Berkali-kali Dinda di buat terkejut dengan penjelasan yang Reza ucapakan.


"Jadi anak yang Bella kandung itu anak kamu?" tanya Dinda.


Reza mengangguk lemah, walau bagaimana perbuatan dirinya dan Bella memang tindakan yang salah. Walaupun Bella yang menggodanya saat itu, tapi Reza tau betul kalau Bella saat itu dalam pengaruh obat.


"Kak, aku minta maaf sebelumnya. Aku tidak bermaksud melecehkan adik kakak, tapi aku berjanji kak, aku akan bertanggung jawab atas Bella dan anaknya," ucap Reza.


"Ya sudah, biarlah berlalu. Aku senang jika Pak Reza mau bertanggung jawab," sahut Dinda.

__ADS_1


"Jadi kakak, merestui aku menikahi Bella?" tanya Reza penuh antusias. Dinda menganggukkan kepalanya.


"Alhamdulillah, terima kasih ya robb."


"Jangan senang dulu, emangnya Bella mau sama kamu," timpal Aditia.


"Pokoknya Bella harus mau. Jika tidak mau juga, aku minta kakak ipar saja yang membujuknya. Iyakan kak?"


"Iya, nanti aku akan coba bicara dengan Bella. Tapi aku tidak mau memaksanya, jika dia tidak mau, aku tidak akan bisa apa-apa," sahut Dinda.


"Di coba aja dulu kak, semoga aja Bella mau dengerin kakak," ucap Reza. Diangguki oleh Dinda.


Tiba-tiba seorang dokter terlihat menghampirinya mereka. Dokter tersebut adalah dokter yang menangani Bella.


Mereka langsung mengalihkan pandangannya pada dokter tersebut.


"Bagaimana dok?" tanya Dinda.


"Apa Bella sudah lebih baik?" tanya Reza.


Kedua mencerca pertanyaan tentang kondisi Bella.


"Alhamdulillah, Bu Bella sudah melewati masa kritisnya," jawab Dokter.


Dinda, Aditia dan Reza bernapas lega.


"Apa kita bisa menemuinya dok?" tanya Dinda.


"Boleh, tapi nanti setelah bu Bella kami pindah ke ruang rawat," jawab Dokter, dengan ramah.


"Kalau begitu saya permisi," lanjutnya berpamitan.


Reza, Dinda dan Aditia menganggukkan kepala mereka. Setelah itu dokter pun berlalu.


"Oh iya, baby-nya di mana?" tanya Dinda.


"Baby-nya masih di ruang rawat baby kak," jawab Reza.


"Kondisinya juga sama lemah, jadi baby harus ditangani dulu oleh dokter, tapi tadi aku sudah mengadzani-nya," lanjut Reza.


"Syukurlah, tapi aku ingin liat baby-nya Bella, apa bisa?"


"Bisa kok kak, tapi hanya melihat dari luar kaca saja," ujar Reza.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin melihat sebentar saja."


Reza menganggukkan kepalanya. Setalah itu mereka berjalan menuju ruangan bayi.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa, like, komen dan Votenya ya.


Terima kasih.


__ADS_2