Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 51. Jelaskan padaku!


__ADS_3

"Astagfirullah," ucap Dinda dan Lisa serentak, mereka terkejut saat mobil yang di tumpangi mereka sedikit oleng.


"Pak hati-hati dong!" ucap Lisa pada sopir yang di depannya.


"Maaf nyonya, barusan ada orang nyeberang gak hati-hati untung saja saya bisa menghindar," sahutnya.


"Ya sudah, lebih hati-hati ya pak, bawa mobilnya," kini Dinda yang bersuara. Pak sopir mengangguk kepalanya.


Dinda dan Lisa sama-sama masih terdiam, mereka masih merasa terkejut, hampir saja barusan mereka kecelakaan.


"Aku ceritakan gak ya, tentang mas Riki sama Mbak Lisa?" batin Dinda, seraya berpikir. "Ah aku rasa tidak perlu, tidak penting juga!" lanjutnya.


Dinda menoleh kearah Lisa, wanita itu kini tengah memainkan ponselnya. Dinda sedikit bernafas lega, seperti Lisa lupa dengan pembicaraan mereka tadi, ya sudahlah.


Hingga tak lama kemudian mereka pun sampai, Dinda dan Lisa keluar dari mobil, mereka berjalan bergandengan tangan. Sementara belanjaan mereka pak sopir yang bawakan.


"Din, sebaiknya kamu langsung istirahat. Kamu pasti lelah," ujar Lisa.


"Iya Mbak, aku langsung ke kamar ya!" pamit Dinda. Lisa menganggukan kepalanya. Setelah melihat Dinda pergi dari hadapan, Lisa pun berlalu menuju kamarnya.


***


Aditia terlihat tengah berjalan mondar-mandir tak karuan di ruangannya. Bagaimana tidak, hari ini ada rapat penting, sementara Reza hilang entah kamana, ponsel Reza juga tidak aktif.


Karna tak ada hasil, beberapa kali menghubungi Reza namun ponsel Reza masih tidak aktif. Aditia pun terpaksa berangkat rapat sendirian. Hingga akhirnya rapat pun selesai, Aditia kembali ke ruangannya.


Ia bertanya ke beberapa staf karyawan, tentang keberadaan Reza. Namun mereka sama sekali tidak mengetahui.


"Kemana sih lo Za," gumam Aditia. Ia kembali mencoba menghubungi Reza lewat telepon, namun lagi-lagi nihil, ponsel Reza masih tidak aktif.


"Tumben-tumbenan ini orang, bikin khawatir aja. Kemana sih elo Za," gumam Aditia lagi.

__ADS_1


"Apa aku hubungin telepon rumahnya saja ya?" Aditia bermonolog sendiri, tak menunggu waktu lagi, Aditia pun mulai menghubungi telepon rumah Reza.


Tak lama kemudian telepon terhubung, Aditia sedikit lega setidaknya masih ada akses untuk menanyakan Reza pada asisten rumah tangga Reza.


"Hallo..." terdengar suara seorang dari balik sambungan telepon tersebut, sudah di pastikan bahwa yang mengangkat telepon tersebut ART-nya Reza.


"Hallo Bi, ini saya Aditia. Apa Reza ada di rumah?" tanya Aditia langsung pada intinya.


"Oh tuan Aditia, tuan Reza sedang tidak ada di rumah tuan Aditia. Beliau ke rumah sakit!"


"Hah, rumah sakit? Reza sakit Bi?"


"Tidak tuan Aditia, tuan Reza baik-baik saja."


"Lalu untuk apa Reza ke sana?"


"Itu nyonya Bella melahirkan, jadi tuan Reza menemaninya tuan,"


"Di rumah sakit mana bi?" Tanya Aditia.


"Kalau tidak salah, Rumah Sakit Harapan, tuan!"


Dan tut...


Aditia langsung mematikan sambungan telepon tersebut secara sepihak. Aditia langsung menyambar kunci mobilnya, ia berjalan meninggalkan ruangnya itu.


"Aku harus ke rumah sakit itu sekarang? Aku butuh penjelasan dari lo Reza!" pekik Aditia.


Ia pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Sekitar menempuh perjalan kurang lebih satu jam, karna jarak kantor ke rumah sakit tersebut cukup jauh.

__ADS_1


Akhirnya Aditia pun sampai di rumah sakit tersebut.


Reza langsung menuju ruangan persalinan, di lihatnya Reza tengah berbicara dengan dokter di depan ruangan tersebut.


"Reza..." panggil Aditia.


Deg...


Reza perlahan Reza menoleh ka sumber suara tersebut, suara yang tidak asing bagi Reza. Dan benar saja dugaan.


"Aditia," gumam Reza, seraya menatap Aditia yang tengah berjalan tergesa-gesa menghampirinya.


"Dit, kok elo bisa di sini?" tanya Reza pada Aditia yang kini sudah berdiri dihadapannya. Demi apapun, saat ini Reza merasa ngeri, horor sendiri melihat Aditia yang menatap tajam padanya.


"Jelaskan padaku Reza!" tegas Aditia, namun penuh penekanan.


"Emm...."


Bersambung....


Hay-hay maaf baru sempat up.


Terima kasih buat kalain, yang setia membaca kelanjutan kisah Dinda.


Yang sudah memberi like, komen dan vote.


Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih.


Maaf juga, aku gak bisa balas komen kalian satu persatu. Tapi aku selalu baca komen kalian semua kok.


Salam sayang dari author.

__ADS_1


Bye..bye..


__ADS_2