Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 35. Aku Bukan Pelakor


__ADS_3

Kantor Aditia.


"Kemana si Reza, tumben dia telat?" Ucap Aditia, seraya membuka beberapa berkas yang bertumpukan di atas mejanya.


Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Nampak sosok Reza, masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Hallo bos, sorry gue telat!" Ujar Reza. Ia menarik kursi yang ada di hadapannya.


"Tumben," sahut Aditia.


"Ada urusan bentar tadi."


"Urusan? Sejak kapan elo punya urusan selain di kantor?" Ledek Aditia. "Ini juga, kenapa data semua berkas salah begini? Elo gak cek dulu apa?"


"Belum," jawab Reza singkat.


"Ck, sial. Apa gunanya gue punya sekertaris! Benerin semuanya, kalau udah selesai baru elo kasih ke gue." Aditia menggeser suami berkas itu kehadapan Reza.


"Iya-iya." Sahut Reza, namun masih dalam posisi awalnya, bahkan tak menghiraukan berkas-berkas tersebut.


"Iya-iya, tapi masih diam. Mau gue pecat!" Kesal Aditia.


"Iya bentar, sabar apa! Pikiran gue lagi gak konsen ini."


"Oh iya gue boleh tanya?" Lanjut Reza.


"Apa?"


"Kalau misalkan elo nidurin cewek sampe buntung, terus ceweknya itu pas elo tidurin masih virgin. Nah pas elo mau tanggung jawab dianya nolak. Apa yang mau elo lakuin?"


"Ya udah tinggalin aja, kitakan udah mau tanggung jawab cuman di tolak. Bukan salah kita dong."


"Emang elo gak akan ngerasa bersalah udah ngambil keperawanannya?" Tanya Reza lagi.


"Tunggu-tunggu! Lagian elo nanya gitu buat apaan?" Aditia malah berbalik bertanya, seraya menatap Reza dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Jujur ya. Jadi gini, gue itu diperkosa sama cewek, terus dia sekarang hamil."


"Hahaha," Aditia tertawa lepas, "elo di perkosa?" Lanjutnya disala tertawanya. Bagaimana Aditia tidak tertawa, bayangkan saja Reza seorang Cassanova di perkosa? Astaga, lelucon macam apa ini? Mana ada seorang wanita memperkosa seorang laki-laki, terbalik, aneh bin ajaib.


"Aditia, gue gak bencanda. Sumpah gue gak bohong. Wanita itu dalam efek obat perangsang waktu itu, gue gak tau kalau dia itu masih perawan. Kalau gue tau gue gak mungkin kasih tubuh gue yang sexy ini untuk dia." Sahutnya.


"Itu mah bukan di perkosa begee." Aditia melemparkan bulpoin kearah Reza. "Itu mah elo aja yang mencari kesempatan dalam kesempitan, dimana-mana kalau di perkosa itu terpaksa, lah doi malah sama-sama menikmati. Situ waras!" Ledek Aditia, sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ck, gue juga manusia biasa. Lagian gue itu menyelamatkan dia, nolong dia."


"Nolong apaan? Sama saja bohong itu."


"Eh-eh jangan salah ya, kalau dia gue gak bantuin dia pelepasan, bisa-bisa syarafnya bisa putus tuh cewek. Gara-gara obat ajaib itu." Reza memberikan pembelaannya. Ya walaupun memang yang dikatakan Aditia benar adanya. Menolong dengan cara yang salah, tapi ya bagaimana? Semuanya sudah terlanjut.


"Ya udahlah terserah elo." Pasrah Aditia, berdebat dengan Reza tidak akan menggapai kemenangan untuknya.


"Tapi masalahnya gini, sekarang itu dia hamil. Hamil anak gue, tapi dia udah nikah sama laki-laki lain, eh udah cerai sekarang. Nah tapi dia gak mau pas gue mau nikahin dia," keluh Reza.


"Malah dia nolak gue mentah-mentah. Kan ******! Malah dia bilang di sangat cinta sama tuh mantan suaminya." Lanjutnya dengan kesal.


"Sudahlah, terserah elo aja. Percuma juga gue kasih saran atau apa sama elo. Elo gak pernah denger gue. Sekarang masih banyak kerjaan yang harus elo kerjaan."


"Ck, gak asik elo."


"Silahkan keluar dari ruangan saja bapak Reza, ingat masalah privasi jangan di bawa ke sini oke. Perusahaan lagi kena masalah elo jangan tambah masalah, kalau gak mau tamat riwayat elo!" Tegas Aditia.


Reza menghelai nafasnya, lalu ia berajak dari kursi tersebut, lalu mengambil tumpukan berkas tersebut dan melangkah menggontai keluar dari ruangan Aditia.


"Dasar bos gak punya hati." Ucapnya pelan, namun masih terdengar oleh Aditia.


"Emang, hati gue cuman satu, harus di bagi dua pula sama bini-bini gue! Puas elo." Teriak Aditia.


***


Semantar itu, Dinda kini masih di perjalanan untuk pulang. Dinda duduk termenung di kursi belakang dengan tatapan yang kosong menatap jalan raya. Perkataan Riki terus saja menari-nari di benak Dinda.


'Pelakor? Apa iya aku pelakor. Bukankah pelakor itu julukan untuk wanita yang merebut lelaki orang, suami orang lain. Aku memang orang ketiga, tapi aku bukan perebut suami orang, mbak Lisa yang meminta mas Aditia untuk menikahiku. Bukankah seorang pelakor itu yang menghalalkan segala cara agar bisa menggapai apa yang di inginkannya? Sedangkan aku, aku menikah dengan mas Aditia pun terpaksa. Bukankah seorang pelakor itu selalu menjadi prioritas pertama sang lelakinya? Sedangkan aku, aku hanya mengharapkan sisa-sisa cinta mas Aditia untuk mbak Lisa. Dalam sebuah novel pelakor yang berhasil menjadi istri kedua laki-lakinya, ia selalu memang, dalam hal apa-pun selalu dimanjakan. Sedangkan aku, bahkan sebaliknya, aku selalu di tindas oleh istri pertama suamiku. Apa gelar pelakor itu sah untukku?' batin Dinda.


Entahlah, bagaimana sudut pandang orang lain terhadap seorang pelakor. Yang pasti pelakor versi Dinda seperti itu. Dinda merasa kalau ia bukan pelakor. Walaupun posisinya sebagai istri kedua Aditia, namun ia istri sah secara hukum dan agama.


Lama termenung, tak terasa akhirnya Dinda sudah sampai di depan rumah mertuanya.


"Terima kasih pak!" Ucap Dinda kepada pak hakim yang membukakan pintu mobil untuknya.


"Sama-sama non." Jawabnya dengan ramah. Dinda membalas dengan senyuman, lalu ia berjalan masuk dalam rumah tersebut.


"Asalamualaikum." Ucap Dinda seraya membuka pintu rumah tersebut.


"Walaikum'salam." Jawab mamah Amira, menyambut sang menantunya itu, raut wajah kecemasan terlihat dari wajah wanita parubaya tersebut.


"Ya ampun sayang, kenapa lama sekali? Mamah khawatir."

__ADS_1


"Maaf mah, tadi Dinda ke rumah teman dulu sebentar."


"Mamah sangat mencemaskan kamu sayang, mana tadi mamah telpon kamu gak diangkat-angkat lagi."


"Masa sih mah?" Dinda tak tahu jika sang mertua menelponnya, ia pun mengambil ponselnya dari tas. "Oh iya, maaf mah."


"Tidak apa sayang. Yang penting sekarang kamu sudah pulang dalam keadaan selamat." Ucap mamah Amira seraya mengambangkan senyuman leganya.


"Oh iya mah, Dinda boleh tanya?" Ucap Dinda pada mamah Amira, Dinda bermaksud ingin menanyakan kondisi Lisa.


"Silahkan sayang."


"Mah, kenapa mamah menyembunyikan kondisi mbak Lisa dari Dinda?"


Mamah Amira langsung terdiam, bagaimana bisa Dinda tau. Dari mana Dinda tau kalau Lisa di rumah sakit.


"Mah, kenapa mamah diam. Mah apa benar mbak Lisa mencoba untuk mengakhiri hidupnya mah?" Tanya Dinda lagi.


Mamah Amira sedikit tersentak, perlahan mamah Amira menganggukkan kepalanya pelan.


"Astagfirullah,'' Dinda menutup mulutnya dengan tangan, ia sangat terkejut. Jadi yang dikatakan Riki itu benar.


"Iya sayang, maaf bukannya mamah dan papah serta Aditia menutupi semuanya. Tapi semua ini kami lakukan demi kebaikan kamu nak. Karna kalau kamu tau, kamu pasti akan kepikiran, kami tidak mau kamu dan calon anak kamu kenapa-napa Din." Jelas mamah Amira.


Dinda tak bisa berkata-kata, mereka tidak bisa di salahkan, mereka melakukan itu semua memang untuk kebaikan Dinda. Tapi hanya saja Dinda merasa bersalah. Apa yang dikatakan Riki itu juga benar, Lisa seperti itu gara-gara dia.


"Mah, apa semua ini gara-gara Dinda? Mbak Lisa seperti itu pasti gara-gara Dinda--kan mah!" Lirih Lisa, air mata lolos begitu saja dari pelupuk mata indahnya.


Mamah Amira langsung menarik Dinda kedalam pelukannya. "Tidak sayang, ini bukan salah kamu. Jangan berpikir yang tidak-tidak ya." Mamah Amira mencoba menenangkan Dinda, meyakinkan bahwa semua yang terjadi pada Lisa bukan salahnya.


"Dinda ingin lihat kondisi mbak Lisa." Ucap Dinda, melapaskan pelukannya sang mertuanya.


"Tapi Din--"


"Mah Dinda mohon, jangan larang Dinda." Pungkas Dinda, memotong ucapan mertuanya.


Mamah Amira menghelai nafas beratnya, ia pun mengangguk pelan dan pasrah, "tapi mamah temenin ya!"


"Iya mah. Terima kasih." Ucap Dinda, memeluk kembali mertuanya itu.


Bersambung...


Jangan lupa like, komen, dan Votenya.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2