
Aditia kini sudah di rumahnya, saat masuk keheningan terasa di rumah besar tersebut.
"Bi..." Panggil Aditia.
"Iya tuan," jawab bi Santi, ia langsung menghampiri majikannya itu.
"Lisa belum pulang?"
"Sudah tuan, tapi nyonya pergi lagi tadi.''
"Pergi? Apa dia bilang mau pergi kemana?"
Bi Santi mengelengkan kepalanya, "tidak tuan!"
"Baiklah, siapkan saya makanan bi saya laper!'' titah Aditia diangguki oleh bi Santi. Aditia pun berlalu menuju kamarnya.
"Eh tuan tunggu!'' panggil bi Santi, membuat Aditia langsung menghentikan langkahnya dan menoleh kearahnya.
"Kenapa bi?"
"Anu, emm---" bi Santi menggantungkan ucapnya. 'Aku ceritakan pada tuan tidak ya, tentang nyonya Lisa,' lanjutnya berucap dalam hati.
"Bibi mau ngomong apa?" Tanya Aditia, menatap asisten rumah tangganya itu terheran.
"Anu tuan, tadi ada ibu-ibu datang ke sini. Terus ibu itu mengaku kalau beliau ibu kandungnya nyonya Lisa," ujar bi Santi.
Aditia terdiam sejanak, 'ibunya Lisa? Bukannya Lisa sudah tak punya keluarga, diakan yatim piatu!'
"Apa bibi yakin?" Aditia menatap ragu kepada bi Santi.
"Iya tuan, saya yang membukakan pintu tadi."
__ADS_1
"Apa Lisa menemuinya?"
"Iya tuan, nyonya Lisa menemuinya. Tapi nyonya tak mengakui ibu tuan. Terus saya lihat nyonya Lisa malah bersikap kasar sama ibu itu, sampe ibu itu di jatuh tuan." Jelas bi Santi.
"Tidak mungkin bi, tidak mungkin Lisa bersikap seperti itu. Lagian juga Lisa itu yatim piatu, orang tuanya sudah meninggal. Udah ah bibi jangan ngarang cerita!"
"Astagfirullah tuan, mana ada bibi ngarang cerita. Bibi itu cerita apa adanya, bibi liat sendiri tadi." Ucap bi Santi, 'ya walaupun sebenarnya bibi ngintip tuan,' lanjutnya berucap dalam hati.
"Masa tuan gak percaya sama bibi, bibi mana berani bohong sama tuan, bibi udah lama kerja sama tuan, bahkan sebelum tuan menikah dengan nyonya Lisa."
Aditia terdiam, ia berusaha mencerna semua ucapan asisten rumah tangganya itu. Bi Santi memang sudah lama berkerja dengannya, selama ini bi Santi selalu jujur, tapi masa iya Lisa berbuat seperti itu?
"Kalau tuan tidak percaya, coba liat CCTV di rumah ini saja tuan. Kalau emang bibi bohong, bibi rela tuan pecat." Ucap bi Santi, "kalau begitu bibi permisi kebelakang lagi ya tuan." Lanjutnya berpamitan, seraya melangkahkan kakinya menuju dapur.
***
Kediaman orang tua Aditia.
Dinda terlihat tengah beristirahat di kamar milik Aditia yang berada rumah orang tuanya. Sebenarnya Dinda menolak saat kedua mertuanya menempatkan dirinya disana, karna ia takut Aditia marah.
Tapi entah kenapa Dinda merasa tidak nyaman tidur di kamar tersebut, padahal kamar itu lebih mewah dari pada kamarnya yang berada di rumah suaminya.
Entah mengapa Dinda merasa rindu pada kamarnya itu, rasanya ia lebih nyaman tinggal di rumah suaminya dari pada di rumah mertuanya. Saat ini rasanya Dinda ingin pulang.
"Kenapa aku ingin pulang, kenapa aku merasa rindu pada tempat tidurku?"
"Mas Aditia, kenapa aku ingin sekali bertemu dengan dia?" Ucap Dinda, ia bermonolog dengan dirinya sendiri.
Tok tok tok
"Masuk," titah Dinda, saat mendengar pintu kamar tesebut di ketuk.
__ADS_1
"Sayang, kamu makan dulu ya." Ujar mamah Amira, yang baru saja memasuki kamar tersebut dengan membawa nampan yang berisikan makanan. Mamah Amira membawakan makan malam untuk menantunya itu
"Mah, kenapa mamah tidak panggil Dinda saja, Dinda bisa makan sendiri kok mah."
"Gak apa-apa sayang," sahut mamah Amira tulus, lalu ia duduk di tepi ranjang.
"Kamu makan dulu ya, mamah suapin," lanjut mamah Amira seraya mendekatkan sendok yang yang berisi makanan ke dekat mulut mantunya itu.
"Mah, Dinda bisa makan sendiri kok." Dinda merasa tidak enak dengan mertuanya itu.
"Udah makan dulu sayang," pinta mamah Amira, Dinda mulai membuka mulutnya.
"Mah maafin Dinda, Dinda jadi ngerepotin mamah." Ucap Dinda, matanya terlihat berkaca-kaca, ada rasa bahagia di hati Dinda, ia sangat beruntung mempunyai mertua seperti mamah Amira dan papah Mahendra. Mereka begitu tulus menerimanya dan menyanyinya.
"Jangan minta maaf Dinda, mamah gak merasa direpotkan kok. Justru mamah senang, senang kamu bisa jadi bagian dari keluarga kami." Tutur mamah Amira.
"Terima kasih mah," butiran bening terlihat mengalir dari sudut mata Dinda.
"Sama-sama sayang," mamah Amira mengusap lembut air mata Dinda, "jangan menangis, ayo lanjut lagi makannya." Lanjut mamah Amira, diangguki oleh Dinda.
***
Lisa baru saja sampai di rumahnya. Wajahnya terlihat kesal, bagaimana tidak? Hari ini benar-benar menjadi hari yang paling melelahkan bagi Dinda, mengurus kedua orang tuanya itu, benar-benar menyita waktu dan pikiran.
Dinda berjalan masuk ke dalam rumah, di lihatnya Aditia tengah berdiri, sambil melipat kedua tangannya di depan dada, dan menatap Lisa dengan tatapan yang sulit diartikan.
Dinda mengehentikan langkahnya, ia begitu terkejut melihat Aditia, dari wajahnya Lisa bisa menebak bahwa Aditia sedang dalam amarah, 'kenapa mas Aditia menatapku seperti itu?' gumam Lisa, ia bergidik ketakutan.
"Dari mana kamu?" Tanya Aditia dengan nada dingin namun penuh penekanan.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan Votenya.
Terima kasih.