
6 bulan berlalu....
Aditia rasanya lelah, selama 6 bulan ini. Dinda masih enggan terbangun dari komanya.
"Din, aku lelah. Apa kamu tidak mau bangun hah? Jika kamu marah denganku, jangan hukum aku seperti ini Din. Aku tau salahku banyak padamu Din. Tapi jangan seperti ini, aku mohon. Bangunlah untuk Azka, apa kamu tidak ingin melihat bayi kita Din, dia sudah tumbuh menggemaskan."
"Kamu tau Din, aku tersiksa melihat kamu seperti ini. Bangunlah Din bangun. Bangun demi Azka! Apa kamu tidak ingin merawat dan membesarkannya hah? Apa kamu akan larut dalam tidur mu ini. Kasihan Azka Din!"
Ucap Aditia, ia menumpahkan segala isi hatinya. 6 bulan Aditia bersabar, di sela kesibukan, ia selalu menyempatkan untuk merawat Dinda, apakah selama ini, perjuangan akan sia-sia.
"Selamat siang Pak Aditia," sapa Dokter dan dua suster yang baru saja masuk ke dalam ruangan rawat Dinda.
Aditia langsung menghapus air matanya, yang menetes di sudut matanya itu. Sungguh Aditia lelah.
"Siang Dok," balas Aditia.
"Bisa bicara sebentar?" Aditia mengangguk.
"Jadi begini Pak, sudah 6 bulan Bu Dinda koma. Kami ingin meminta izin untuk melepaskan alat medis yang tertempel di tubuh Bu Dinda. Melihat kondisi Bu Dinda yang seperti ini, kami dengan terpaksa harus melepaskan semua alat medis yang ada di tubuhnya. Karna itu percuma Pak, hanya menyakiti tubuh istri Bapak saja," jelas Dokter.
"Tapi Dok..."
"Maaf Pak Aditia, kami harap Bapak mengikuti prosedur rumah sakit kami."
"Baiklah Dok, jika itu yang terbaik silahkan," ucap Aditia pasrah.
"Baiklah, kami nanti akan kembali. Kami akan siapkan terlebih dahulu berkas, yang nantinya akan Bapak tanda tangani."
"Baik Dok."
Setalah kepergian Dokter dan suster itu pun.
Aditia kembali menghampiri Dinda. Air mata lolos begitu saja dari pelupuk mata Aditia. Sebenarnya Aditia tidak ingin mengiyakan permintaan Dokter. Namun mengingat kembali, kondisi Dinda dan produser Rumah sakit, terpaksa Aditia mengiyakannya.
"Maafkan aku Din, aku tidak bisa menolak keinginan Dokter," lirih Aditia.
Setalah puas menatap Dinda, entahlah perasaan Aditia kini susah di jelaskan dengan kata-kata.
Entah bagiamana nantinya jika semua alat medis yang menempel di tubuh istrinya itu di lepaskan. Apa Aditia mampu menerima kenyataan.
Pasrah, itulah jalan satu-satunya. Aditia hanya bisa pasrah. Percaya semuanya pada sang maha pencipta.
Kita tidak tau Takdir akan membawa mereka kemana.
__ADS_1
Namun Aditia berharap ada keajaiban yang datang, membuat Dinda terbangun.
"Hallo Mah," ucap Aditia lewat sambungan telepon. Aditia baru saja selesai menanda tangani surat pernyataan yang diberikan oleh Dokter.
"Iya Dit, ada apa?"
"Mamah bisa ke Rumah sakit sekarang? Bawa Azka juga ya Mah," pinta Aditia.
"Loh emangnya ada apa Dit? Dinda sadar?"
"Tidak Mah, hari ini Dokter akan melepas semua alat medis yang ada di tubuh Dinda. Dan..." Aditia menjeda ucapannya. Ada rasa sesak yang membara di hatinya.
"Hallo, Dit.. hallo.."
"Iya Mah," jawab Aditia. Matanya kini terlihat berkaca-kaca.
"Dit kamu baik-baik sajakan. Mamah dan Papah akan segara ke sana sekarang. Kami juga akan membawa Azka."
Dan Tut...
Panggilan berakhir.
"Ya tuhan, aku mohon berikan keajaiban untuk Dinda, sadarkan istri hamba, buat dia bangun Tuhan, Azka sangat membutuhkan Dinda," batin Aditia.
Usai mendapatkan kabar dari Aditia. Kini Mamahnya dan Papah Aditia, serta Azka. Mereka langsung menuju Rumah sakit.
"Pah, bisa lebih cepat. Perasaan Mamah tidak enak Pah," pinta Mamah Aditia pada suami.
"Iya Mah, ini juga Papah sudah ngebut. Kita harus tetap hati-hati Mah. Ingat kita membawa cucu kita," sahut suaminya.
30 menit kemudian, mereka sampai. Kedua orang tua Aditia langsung menuju ruangan Dinda.
"Aditia..." panggil Mamahnya.
Aditia menoleh, ia berjalan menghampiri orang tuanya, lalu mengambil Azka dari gendongan sang Mamah.
"Bagaimana kondisi Dinda?" tanya Papah Mehendra.
"Dokter sebentar lagi akan melepaskan semua alat medis yang ada di tubuh Dinda Pah," jawab Aditia.
Setalah menunggu beberapa saat, Dokter terlihat memasuki ruangan tersebut, berserta 2 suster yang nantinya akan membantu melepaskan semua alat medis.
Suasana di dalam ruangan tersebut tiba-tiba tegang. Aditia memeluk erat baby Azka. Dalam hati Aditia tidak berhenti berdoa, semoga ada keajaiban untuk Dinda. Begitu juga dengan kedua orang tua Aditia, harapan mereka sama dengan Aditia. Mamah Aditia terlihat sudah terisak tangis di pelukan suaminya.
__ADS_1
Dokter di bantu oleh suster mulai melepaskan satu persatu alat medis yang menempel di tubuh Dinda.
Dan...
Tit........
Alat pendeteksi jantung berbunyi sangat nyaring.
Di layar monitor yang berada di samping Dinda, hanya bergaris lurus, menandakan jika detak jantung Dinda berhenti.
"Dok, apa yang terjadi?" tanya Aditia panik.
"Maaf, Pak..." ucap Dokter tersebut dengan lirih.
"Tidak, tidak. Ini tidak mungkin Dok..." teriak Aditia. Ia langsung menghampiri Dinda.
"Din, bangun Din. Apa kamu mau menyerah hah? Apa kamu tega akan meninggalkan aku dan Azka. Din lihatlah, ini Azka sayang, ini anak kita. Apa kamu tidak mau melihatnya, apa kamu tidak ingin memeluknya, apa kamu tidak ingin merawatnya Din. Bangun Din, Azka sangat membutuhkan kamu, Din bangun aku mohon..." teriak Aditia.
Sementara kedua orang tua Aditia tak kuasa menahan kesedihannya, air mata mereka tumpah.
"Aditia, jangan seperti ini Nak," Mamahnya memeluk Aditia.
"Relakan Dinda Nak, biarkan dia tenang," lanjutnya.
Aditia terlihat mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak Mah, Tidak. Azka Mah, bagaimana dengan Azka?" ucap Aditia. Air mata kini terlihat sudah membasahi wajah Aditia.
Air mata terlihat menetes dari sudut mata Dinda, jari-jari tangan Dinda terlihat bergerak, dan alat pendeteksi jantung kembali menyala.
Tit...tit...tit..
Mereka langsung mengalihkan pandangannya pada Dinda, begitu juga dengan Dokter dan suster.
"Mas..." ucap Dinda dengan suara lirihnya. Perlahan mata Dinda terbuka.
"Dinda..." ucap Aditia dan kedua orang tuanya.
Bersambung....
Jangan lupa like, komen dan Votenya ya.
Terima kasih.
__ADS_1