
Reza dan Bella terlihat sudah kembali. Mereka sudah selasai berganti pakaian. Bella mengunakan gaun berwarna peach, yang terlihat elegan dan mewah, dengan ekor gaun yang menjuntai panjang kebawah.
Sementara Reza, ia menggunakan tuxedo dengan warna senada, dasi kupu-kupu terlihat menempel di lehernya. Reza dan Bella terlihat seperti Raja dan Ratu.
Para tamu undangan, terlihat mulai mengantri untuk memberikan ucapan selamat pada mereka bersalaman pada kedua pasangan pengantin baru tersebut. Wajah penuh kebahagian jelas terpancar dari wajah Bella dan Reza, mereka menyambut para tamu undangan dengan sangat ramah.
Begitu juga dengan Aditia dan Dinda, Dinda dengan setia berada di samping suaminya, menyabut para tamu undangan.
"Terima kasih Pak, sudah menyempatkan datang ke acara ini," ucap Aditia pada laki-laki dengan setalah jas rapi, laki-laki parubaya namun terlihat masih berwibawa. Dia adalah salah satu rekan bisnis Aditia.
"Sama-sama Pak Aditia, saya merasa sangat terhormat bisa di undang ke acara pernikahan Pak Reza ini," ujarnya.
Lalu laki-laki itu melihat kepada Dinda, yang berdiri di samping Aditia dengan lengan yang melingkar di lengan Aditia.
"Oh iya, ini istri Bapak?" tanya Laki-laki itu. Aditia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
Laki-laki itu tersenyum tipis, namun raut wajahnya nampak memancarkan kebingungan.
Aditia tersenyum kembali, nampaknya Aditia tau apa yang sedang di pikirkan rekan bisnisnya itu.
Pasti dia bertanya-tanya, tentang Dinda.
Mereka memang tidak tau prihal Dinda yang kini menjadi istrinya, mereka hanya tau kalau Lisa-lah istri dari seorang Aditia Mehendra.
"Ini Dinda, istri saya," ucap Aditia dengan bangga memperkenalkan Dinda pada rekan bisnisnya itu.
"Dinda..,"
"Maaf sebelumnya Pak, bukannya istri Bapak itu..." lanjut laki-laki tersebut, namun ia menggantung ucapannya.
"Saya dan Lisa sudah bercerai lama Pak, ini Dinda istri saya yang sekarang," pungkas Aditia.
Laki-laki itu nampak tersenyum, dan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ya sudah, saya permisi dulu. Silahkan nikmati pestanya," lanjut Aditia berpamitan.
Laki-laki itu mengangguk, "terima kasih Pak."
"Ngomong-ngomong istri Bapak sangat cantik," lanjutnya berbisik pada Aditia.
Namun sepertinya Dinda juga mendengarnya, Dinda langsung menundukan kepalanya. Malu? Entahlah, rasanya Dinda tidak nyaman ada laki-laki yang memujinya selain suaminya sendiri.
Aditia hanya tersenyum, lalu ia mengajak Dinda berlalu dari sana.
Tak terasa waktu berlalu, akhirnya pesta pernikahan Bella dan Reza selesai. Para tamu undangan sudah meninggal tempat tersebut. Kini hanya tinggal pekerja WO yang tengah membongkar dan membereskan sisa-sisa pesta tersebut.
Semantara Aditia dan Dinda, memutuskan untuk langsung pulang ke rumah mereka, karna Baby Azka, juga baby-nya Bella tadi sudah di bawa terlebih dahulu pulang oleh Bi Santi dan keponakan, pulang bersama orang tua Aditia.
Sebelum pulang, Dinda dan Aditia berpamitan terlebih dahulu pada Bella dan Reza.
Mereka kini sudah berada di kamar hotel, yang sudah di sulap menjadi kamar pengantin untuk Reza dan Bella.
"Kamu tenang saja Bell, baby kamu aman sama kita, kalian nikmati saja malam indah kalian," ucap Dinda, kepada Bella yang menanyakan bagaimana kondisi baby-nya, Bella merasa tidak tenang jika meninggalkan anaknya itu bersama orang lain.
"Tapi, emangnya gak ngerpotin Kakak? Kakak juga harus jaga baby Azka."
__ADS_1
"Sudah Bell, tenang saja. Di rumah kita banyak orang kok. Ada Bi Santi sama keponakannya, Mamah dan Papah juga kebetulan akan menginap di rumah kami," sahut Aditia.
"Iya Bell, benar kata Mas Aditia," sambung Dinda.
"Tapi kalian juga pasti lelah 'kan? Sebaiknya baby ku antarkan saja ke sini Kak," keukeh Bella.
"Udah, kakak bilang tenang aja," tegas Dinda.
"Udah Bell, benar kata mereka. Kamu gak perlu cemas, Baby pasti aman sama mereka," sahut Reza. Mencoba menangkan sang istri, yang sedari tadi mengkhawatirkan anaknya.
"Baiklah, maaf kalau kami merepotkan kalian," lirih Bella pasrah.
"Tidak Dek, kami tidak merasa di repotkan."
"Ya sudah, kalau begitu kami pamit ya," lanjut Dinda berpamitan.
"Iya Kak, hati-hati," pesan Bella. Diangguki oleh Dinda dan suaminya.
"Za, ingat jangan terlalu banyak ronde, kasian Bella," bisik Aditia sebelum berajak keluar dari kamar mereka.
"Terserah gue dong, bini, bini gue," ucap Reza tanpa dosa seraya merangkul bahu Bella.
Dinda hanya mengelengkan kepalanya, melihat tingkah suaminya, yang selalu menggoda Reza.
"Udah Mas, jangan di goda terus, kasian," ucap Dinda seraya menarik tangan Aditia.
"Siapa yang menggoda Sayang," sahut Aditia sambil terkekeh, dan mengikuti langkah istrinya itu.
"Bella ingat dia mantan casanova, kamu harus bisa menaklukkan dia," ucap Aditia sambil bercanda pada Bella, sebelum menutup pintu kamar mereka.
"Mas, kamu ini ih.." kesal Dinda, lalu melapaskan tangan Aditia dan berjalan terlebih dahulu meninggalkannya.
"Sayang... tunggu!" teriak Aditia, sambil berjalan menyusul Dinda.
"Ih, kok ngambek sih," Aditia menarik tangan Dinda.
"Lepas ih, aku mau pulang cepek!" Dinda menepis tangan Aditia, dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Sayang ih, tunggu!"
"Maafin Mas, Mas cuman bercanda tadi, Mas suka liat wajah si Reza, lucu rasanya," lanjut Aditia, seraya tertawa dan membayangkan wajah Reza, yang kikuk jika di sebut mantan Casanova.
"Bencanda Mas gak lucu tau," ucap Dinda, masih dengan suara terdengar kesal.
Bukan apa-apa, Dinda hanya takut, jika Reza dan Bella bertengkar nantinya kalau suaminya itu, selalu mengungkit masa lalu Reza, yang Aditia bilang Casanova. Dinda tau sifat Bella, adiknya itu sangat sensitif, pencemburu pula.
Ya, walaupun Dinda tau, Aditia bercanda, tapi tetap saja harus jaga-jaga kalau bicara.
"Iya maaf, Mas janji gak bakalan kaya gitu lagi."
"Iya, aku maafkan, tapi awas kalau gitu lagi. Becanda boleh Mas, tapi jangan keterlaluan, apa lagi bercandain masa lalu orang, gimana kalau nanti Reza tersinggung hmm?"
"Terus Bella, aku tau sifat adikku itu, Bella kadang masih kaya anak kecil Mas, aku takut nanti dia salah paham sama Reza, mereka bertengkar gimana?" lanjut bertanya-tanya.
Aditia terdiam, sambil berusaha mencerna ucapan istrinya itu. Ada benarnya juga sih.
__ADS_1
"Iya Sayang, Mas gak bakalan gitu lagi, janji." Aditia mengacungkan kedua jarinya.
Dinda mengangguk, lalu tersenyum.
"Ya sudah, ayo cepat kita pulang."
"Ayo."
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka, melangkah kaki mereka menuju mobil.
Setalah sampai mobil, mereka langsung masuk, dan Aditia mulai melaju mobilnya meninggalkan hotel tersebut.
Dalam perjalanan, Aditia terlihat fokus menyetir. Sementara Dinda ia duduk bersandar, Dinda terlihat begitu sangat lelah.
"Yang..." panggil Aditia pada Dinda.
"Ya, Mas," jawab Dinda menoleh kearah Aditia.
"Capek ya?"
"Sedikit Mas," jawab Dinda jujur, memang ia merasa tubuhnya sangat lelah hari ini.
"Baby Azka gimana? Maksud Mas, apa dia udah tidur? Mamah ada ngabarin gak?" cerca Aditia.
"Ada, tadi Mamah kirim pesan, Azka sama Baby sudah tidur Mas," jawab Dinda.
"Syukurlah."
"Emmm, nanti sampai rumah mau langsung tidur?" lanjut Aditia bertanya.
Dinda terlihat mengerutkan kedua alisnya, sambil menatap Aditia penuh tanya.
"Ya, kalau udah sampai rumah, aku mau mandi, ganti baju, terus istirahat, tidur, emangnya mau apa?"
"Ih kamu pura-pura gak ngerti ya?" Aditia malah berbalik bertanya.
"Ih emang aku gak ngerti Mas, emangnya mau apa? Mau malam pengantin ngikut Bella sama Reza?"
"Iya!" seru Aditia.
"Pokoknya, Mas gak mau kalau sama pengantin baru!" lanjut Aditia.
Membuat Dinda melongo, menatap suaminya itu.
Yang nikah Bella sama Reza, kenapa yang ngebet pengen anunya, Aditia.
Bersambung....
Like
Komen
Vote
Terima kasih.
__ADS_1