Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 49. Sakit tapi tak berdarah


__ADS_3

"Dinda, Dinda. Kamu bikin mas khawatir saja!" ucap Aditia seraya berajak dari kursi kebesaran-nya. Setelah mendapatkan telpon dari Dinda tersebut. Aditia memutuskan untuk menyusul istrinya itu. Jujur saja Aditia masih tidak percaya dengan Lisa.


Aditia langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


***


Sementara itu, Dinda dan Lisa sudah terlihat siap berangkat menuju rumah sakit.


"Ayo Din," ajak Lisa seraya menggandeng tangan madunya itu. Dinda mengangguk, lalu mereka pun berjalan menuju mobil.


Dinda dan Lisa masuk kedalam mobil tersebut, Lisa duduk di kursi pengemudi, sementara Dinda duduk di samping Lisa. Lisa mulai melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Dalam perjalanan, mereka mengobrol hangat, sesekali tertawa renyah, mentertawakan cerita mereka. Lisa dan Dinda kini terlihat sudah sangat akrab, bahkan tidak terlihat seperti madu, melainkan seperti sahabat.


Sekitar kurang lebih 40 menit, akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit tujuan mereka. Mereka langsung masuk kerumah sakit tersebut, dan berjalan menuju ruangan dokter yang akan memeriksa kandungan Dinda.


"Siang dok," sapa Dinda saat memasuki ruangan dokter tersebut.


"Siang Bu Dinda," sahut dokter kandungan yang bernama Luna tersebut.


"Saya kira Bu Dinda lupa hari ini ada cek kandungan ibu," lanjut dokter tersebut. Dinda hanya tersenyum sebagai jawaban.


"Mari kita mulai periksa bu," ajak dokter Luna, diangguki oleh Dinda.


"Dok apa saya boleh liat?" tanya Lisa.


"Boleh," jawab dokter Luna dengan ramah. Dinda dan Lisa pun mengikuti langkah dokter Luna. Dokter Luna meminta Dinda untuk berbaring di atas brankar. Lalu dokter Luna mulai memeriksa Dinda. Serangkaian pemeriksaan Dinda jalani, seperti cek tensi darah dan lain sebagainya. Untuk memastikan kondisi Dinda baik-baik saja.


"Kita lihat perkembangan janin ibu ya," ucap dokter Luna, diangguki oleh Dinda. Dokter Luna mulai mengoleskan gel di atas permukaan kulit perut Dinda yang kini terlihat sudah mulai membuncit, kandungan Dinda sudah menginjak bulan ke 5. Tidak terasa memang, Dinda memang tidak terlihat sedang hamil, karna perutnya selalu tertutup dengan pakaian yang longgar sehingga tidak menampakan perut buncitnya yang sekarang.


Setalah itu dokter Lisa mulai menggerakkan alat khusus di permukaan kulit perut Dinda yang sudah diolesi gel tersebut. Pandangan dokter Luna, Dinda dan Lisa kini fokus pada layar monitor yang ada di hadapan mereka. Dinda dan Lisa terlihat begitu antusias saat melihat gambar janin yang nampak di monitor tersebut.


"Perkembangannya bagus, detak jantungnya juga bagus." ujar dokter Luna.


"Dok apa jenis kelamin baby-nya?" tanya Lisa.


"Sebentar ya kita lihat,"


"Sepertinya jenis kelaminnya laki-laki." lanjut dokter Luna.


"Wah, aku sudah tidak sabar menunggu dia lahir!" seru Lisa gembira. Dokter Luna sedikit heran, yang mengandungkan Dinda, kenapa yang tak sabarannya wanita yang bersama Dinda ini, aneh pikirnya. Tapi sudahlah, dokter Luna tidak ingin ikut campur urusan pasiennya itu.


"Apa ada keluhan bu," tanya dokter Luna pada Dinda. Dinda kini sudah selesai melakukan pemeriksaan. Mereka kini tengah duduk berhadapan.


"Tidak ada dok," jawab Dinda.


"Bagaimana dengan morning sicknes, apa masih suka mengalami?" tanya dokter Luna kembali.


"Sudah tidak kok dok,"


"Syukurlah. Kalau begitu saya akan memberikan vitamin untuk ibu ya." ujar dokter Luna, diangguki oleh Dinda.


"Ini resepnya bu," dokter Luna memberikan selembar kertas pada Dinda.

__ADS_1


"Terima kasih dok." Dinda mengambil kertas tersebut.


"Kalau begitu kami permisi ya dok," lanjut Dinda berpamitan. Dokter Luna mengangguk. Lalu Dinda dan Lisa pun keluar dari ruangan dokter tersebut.


"Kita langsung pulang Din?" tanya Lisa. Dinda menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Baiklah, mana resepnya biar aku yang akan mengambil obatnya, kamu tunggu saja di sini."


"Gak apa-apa mbak, aku saja. Mbak aja yang tunggu disini." tolak Dinda halus, ia tak mau merepotkan Lisa, pikirnya.


"Aku saja, kamu jangan cepek-cepek Din," kukuh Lisa.


"Tapi mbak---"


"Sudah, sini mana resepnya." Dinda pun akhirnya pasrah, ia memberikan selebar kertas yang sudah dituliskan resep obat untuk Dinda oleh dokter Luna tadi itu.


"Tunggu disini ya, jangan kemana-mana." Pesan Lisa sebelum ia berajak dari hadapan Dinda.


"Iya mbak. Maaf jadi merepotkan."


"Aku tidak merasa di repotkan Din," sahut Lisa sambil berjalan.


Sementara itu, Aditia baru sampai di rumah sakit. Jarak dari kantor Aditia ke rumah sakit cukup jauh, dibandingkan dari rumahnya. Jadi sudah dipastikan Dinda sampai terlebih dahulu dari pada dirinya.


Dengan langkah yang tergesa-gesa Aditia berjalan menuju ruangan dokter Luna. Sungguh Aditia sangat mengkhawatirkan istri mudanya itu. Setalah hampir sampai di dekat ruangan dokter Luna. Aditia sedikit bernafas lega, melihat wanita yang dikhawatirkannya itu terlihat tengah duduk di depan ruangan dokter Luna. Dengan cepat Aditia langsung menghampirinya.


"Dinda..." teriak Aditia.


"Loh mas Aditia," ucap Dinda pelan, melihat Aditia yang tengah berjalan menghampirinya.


"Din, kamu tidak apa-apakan?" tanya Aditia seraya memperhatikan istri mudanya itu dari atas sampai bawah. Dinda menggelangkan kepalanya, sambil menatap Aditia dengan heran.


"Mas kok ada di sini?" Bukannya menjawab pertanyaan Aditia, Dinda malah berbalik bertanya.


"Mas khawatir sama kamu Din, makanya mas nyusul kesini."


"Ya ampun mas, kamu ini." Dinda mengeleng-gelengkan kepalanya. Setidak percayakah Aditia kini dengan Lisa? Sampai-sampai di sela kesibukan Aditia memaksa ke sini.


"Aku baik-baik aja mas," ujar Dinda seraya mengambangkan senyumannya.


"Syukurlah." Aditia benar-benar merasa lega.


"Lalu dimana Lisa?" Lanjut Aditia bertanya, tadi Dinda bilang ia ke sini dengan Lisa, tapi sedari tadi Aditia tidak melihat istri tuanya itu.


"Mbak Lisa lagi nebus obat aku mas."


"Oh."


"Mas emang gak kerja? Maksudku tidak sibuk?"


"Sibuk sih, tapi mas gak bisa tenang sayang."


"Mas tenang saja, mbak Lisa sudah benar-benar berubah kok mas, jangan khawatir."

__ADS_1


"Iya-iya, kalau begitu mas antarkan kalian pulang ya." tawar Aditia.


"Tidak usah mas, lebih baik mas balik ke kantor saja." tolak Dinda dengan halus.


"Tapi sa---"


"Mas, aku bisa jaga diri kok." pungkas Dinda. Memotong ucapan suaminya itu. Aditia menghelai nafas beratnya.


"Baiklah, tapi janji sama mas. Kamu harus melawan kalau Lisa berbuat yang tidak-tidak." Pesan Aditia.


"Mas mbak Lisa tidak akan melakukan hal itu."


"Sudah sana cepat pergi." Lanjut Dinda mengusir suaminya itu dengan halus.


"Kamu ngusir mas."


"Iya."


"Dasar, awas saja nanti kalau mas pulang, mas akan kasih hukuman sama kamu." Ucap Aditia sambil mencubit hidung mancung istri mudanya itu dengan gemas.


"Aww sakit mas." Rengek Dinda. Aditia hanya terkekeh menanggapinya.


"Ya sudah mas pergi ya," pamit Aditia.


"Iya mas, hati-hati."


"Asalamua'allaikum."


"Walaikum'salam."


Aditia pun berlalu dari hadapan Dinda, sebenarnya Aditia ingin memastikan Dinda baik-baik saja sampai rumah. Namun Aditia juga punya tanggung jawab besar terhadap perusahaannya. Tapi Aditia yakin Dinda bisa menjaga dirinya sekarang.


Semantara itu, sedari tadi dua pasang mata memperhatikan mereka, betapa sakitnya hati Lisa melihat kehangatan antara suami dan madunya itu. Sakit tapi tak berdarah.


"Kamu benar-benar beruntung Din," gumam Lisa. Lisa segara mengusap air matanya yang sedari tadi lolos begitu saja. Setalah itu Lisa berusaha menetralkan hatinya, agar terlihat baik-baik saja. Merasa sudah lebih tenang Lisa pun menghampiri Dinda.


"Din, ayo kita pulang." Ajak Lisa.


"Sudah mbak,"


"Sudah ini vitaminnya." Lisa memberikan satu kantong plastik yang berisi resep yang sudah dituliskan dokter Luna tersebut pada Dinda.


"Terima kasih mbak." Ucap Dinda tulis, mengambil kantong plastik tersebut.


"Sama-sama Din, ayo kita pulang." ajak Lisa lagi. Dinda mengangguk kepalanya. Mereka pun meninggalkan rumah sakit tersebut.


Bersambung...


Jangan lupa like, komen dan Votenya.


Terima kasih buat kalian yang masih setia mengikuti cerita Dinda.


Salam sayang dari author amatiran ini.

__ADS_1


__ADS_2