Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 45. Terima kasih.


__ADS_3

Aditia kembali mengucap ijab kabul untuk Lisa.


Di kediaman orang tua Lisa, tidak dihadiri banyak orang, hanya ustad yang menikahkan mereka serta beberapa orang saksi saja. Usai selesai orang-orang tersebut pergi, kini di sana hanya tinggal kedua orang tua Lisa, Lisa dan Aditia.


"Ibu, bapak..." panggil Lisa lirih, ia bersujud di kaki kedua orang tuanya itu, isakkan tangis kini terdengar dari mulut Lisa.


"Maafkan Lisa, selama ini Lisa sudah menjadi anak durhaka. Maafkan Lisa..." lanjut sangat lirih.


Ibu dan bapak Lisa mengusap lembut kepala Lisa, mata keduanya terlihat berkaca-kaca.


"Sebelumnya kamu minta maaf, kami sudah memaafkan kamu nak, sudah jangan seperti ini nak, berdirilah," ucap ibu Rima.


"Terima kasih ibu, bapak..." Lisa langsung menghambur memeluk kedua orang tuanya itu.


"Lisa berjanji tidak akan mengulanginya lagi, Lisa janji pak, bu. Lisa menyesal. Maafkan Lisa,"


"Yang lalu biarkan berlalu nak, jadikan pelajaran untuk kamu. Jangan sampai kamu menginjak lobang yang sama. Ibu senang kamu menyesali semuanya."


"Nak Aditia, bapak titip Lisa ya! Tolong bimbing dia dengan baik, jika dia salah, nak Aditia jangan segan-segan untuk mengingatnya," ucap bapaknya Lisa berpesan pada menantunya itu.


Aditia menjawab dengan anggukan kepalanya, lalu tersenyum.


"Dan kamu Lisa, perbaiki semuanya. Patuhlah pada suami kamu, dia adalah surga kamu,"


"Iya pak."


"Lisa sebaiknya kita pulang, ini sudah malam." Ajak Aditia diangguki oleh Lisa.


"Loh kalian gak menginap toh?" Tanya ibu Rima.


"Tidak bu, lain kali saja ya. Lisa dan mas Aditia pasti nginep di sini. Ibu dan bapak baik-baik ya di sini, Lisa janji akan sering mengunjungi kalian."

__ADS_1


"Ya sudah kalain hati-hati ya!"


"Iya Bu."


Aditia dan Lisa pun beranjak, mereka berpamitan terlebih dahulu, mencium tangan ibu dan bapaknya Lisa. Setalah itu mereka pun berlalu dari sana.


***


Sementara itu, Dinda terlihat tengah mengemas semua pakai. Wajahnya terlihat sangat gembira.


Tok tok tok


"Masuk."


Pintu terbuka nampak mamah Amira memasuki kamar tersebut, mamah Amira menatap Dinda penuh tanya.


Melihat Dinda yang tengah memasukan pakaian ke dalam koper.


"Loh Din, kamu mau kemana?" tanya mamah Amira seraya berjalan mendekat kearah Dinda.


"Emangnya kamu mau kemana?"


"Pulang!"


"Pulang, maksud kamu?"


"Iya mah, Dinda mau pulang ke rumah mas Aditia. Tidak enak jugakan masa Dinda tinggal disini lama-lama," jelas Dinda.


"Tapi Din, kamu tau sendirikan disana ada Lisa! Mamah gak mau sampai terjadi apa-apa nantinya. Lagian kenapa mesti gak enak sih, rumah mamah, rumah kamu juga sayang."


"Terima kasih mah, tapikan Dinda ada ada kewajiban untuk mengurus mas Aditia, diakan suami aku mah. Masalah mbak Lisa, mamah tidak usah khawatir, Dinda bisa kok jaga diri. Lagian mbak sekarang tidak akan berani melakukan itu lagi mah,"

__ADS_1


"Tetap aja Din, mamah itu khawatir sama kamu dan calon cucu mamah. Sekali busuk tetap busuk Din, Lisa gak akan pernah berubah. Lagian mamah aneh banget sama kamu dan Aditia, mau-maunya kalian memberi kesempatan pada wanita ular itu," sinis mamah Amira.


"Mah jangan bicara seperti itu, ucapan adalah doa. Dinda yakin kalau sebenarnya mbak Lisa itu baik, ia hanya tidak bisa menahan egonya saja. Jadi mbak Lisa seperti itu. Tapi setelah semua yang sudah terjadi, Dinda yakin mbak Lisa pasti beneran berubah."


"Terserah kamu sajalah Din, yang terpenting kamu harus janji sama mamah, kalau Lisa melakukan kamu semana-mana lagi, kamu bilang sama mamah. Dan kamu jangan diam saja, lawan saja dia."


"Iya mah. Mamah tenang saja. Dan satu lagi mah, mamah jangan melupakan kebaikan mbak Lisa selama ini, hanya karna satu kesalahan yang mbak Lisa perbuat."


"Satu dari mana, Lisa itu banyak sekali salahnya Din. Sudah ah, ngomong sama kamu, mamah gak akan pernah menang."


"Sekarang apa yang bisa mamah bantu?" Lanjut mamah Amira.


"Sudah selesai kok mah."


"Ya sudahlah, kalau begitu kamu tidur ini sudah malam. Mamah juga mau tidur!"


"Iya mah,"


"Selamat malam sayang." Ucap mamah Amira, seraya mengecup kening menantunya itu dengan lembut.


"Malam juga mah."


Mamah Amira tersenyum, lalu ia pun berajak keluar dari kamar tersebut. Dinda menatap kepergian sang mamah mertuanya itu dengan senyuman bahagia. Betapa beruntungnya dia mempunyai mertua seperti mereka. Tapi sayangnya, Dinda selalu membantah keinginan mereka.


"Maafkan Dinda mah," lirih Dinda.


Bersambung...


Maaf baru sempat up.


Penyakit aku kambuh lagi. Ini juga aku maksa nulis, karna aku gak mau kalain kecewa.

__ADS_1


Jangan lupa Like, komen dan Votenya ya!


Terima kasih.


__ADS_2