Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 67. Tolong selidiki Riki


__ADS_3

Satu bulan berlalu...


Lisa merasakan dinginnya lantai penjara. Hakim sudah memutuskan pidana pada Lisa, Lisa dijatuhi hukuman 5 tahun penjara. Semua bukti memang mengarah pada Lisa, tidak ada cela untuk Lisa membela dirinya.


Aditia menyerahkan semuanya pada pihak yang berwajib. Aditia juga sudah menjatuhkan talak pada Lisa.


Sementara Dinda, sampai detik ini wanita itu masih berbaring di rumah sakit. Namun ada kabar baik juga, bayinya sudah di perbolehkan pulang. Kedua orang tua Aditia untuk sementara yang mengurus bayi mungil tersebut.


Riki benar-benar menghilangkan jejaknya, bahkan sampai detik ini Papah Mendera berusaha mencari bukti, namun belum sama sekali mendapatkan bukti tersebut.


Hari ini Aditia berniat akan menemui Lisa, memberikan surat perceraian mereka.


"Aditia, kamu jadi hari ini ke kantor polisi?" tanya Mamahnya. Mereka baru saja selesai melakukan sarapan pagi.


"Jadi Mah," jawab Aditia sambil berajak dari tempat duduknya.


"Aku titip baby Azka ya Mah. Dan setalah dari kantor polisi, aku langsung ke rumah sakit," lanjut Aditia. Lalu ia berpamitan pada Mamah dan Papahnya.


"Hati-hati," ucap Mamahnya. Aditia mengangguk.


"Asalamua'allaikum."


"Walaikum'salam."


Azka Mehendra, itulah nama yang diberikan oleh Aditia pada Putranya bersama Dinda. Bayi mungil itu kini kondisinya sudah membaik, sudah seperti bayi normal pada umumnya.


Aditia pun melajukan mobilnya menuju kantor polisi.


Sekitar menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam. Akhirnya ia sampai. Aditia langsung masuk ke dalam, dan menunggu Lisa di ruangan besuk.


"Ibu Lisa, ada yang ingin bertemu dengan anda," ucap Pak polisi.


"Siapa Pak?" tanya Lisa.


"Bapak Aditia," jawabnya. Lalu polisi membuka pintu jeruji besi itu, mengiring Lisa menuju ruangan khusus.


"Mas," panggil Lisa.


Aditia melihat kearah Lisa. Memperkenalkan wanita itu, badannya kini terlihat sangat kurus, mata sembab serta wajah yang pucat. Lisa berjalan kearah Aditia, lalu duduk, mereka duduk saling berhadapan.


"Apa kabar Mas?" tanya Lisa. Senyuman tipis terpancar dari wajah pucat Lisa.


"Baik," jawab Aditia singkat.

__ADS_1


"Ini," lanjutnya, Aditia memberi Map pada Lisa.


"Apa ini?" Lisa mengambil Map tersebut, lalu membukanya. Setetes air mata terlihat mengalir dari pelupuk matanya, menjadi wajah Lisa.


Kini Lisa dan Aditia sudah resmi bercerai secara hukum, Lisa tak bisa menahan sesak di dadanya. Sakit, tentu saja. Sakit hatinya sudah tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Tapi Lisa tidak bisa berbuat apa-apa. Mencoba berlapang dada menerima semuanya, mungkin ini takdir Lisa. Ia dan Aditia bukan jodoh. Sekuat apa pun Lisa mempertahankan semuanya, jika Tuhan tidak merestui mereka bersatu, Lisa bisa apa? Hanya bisa pasrah, statusnya sekarang resmi menjadi janda.


Sudah tidak ada harapan untuk Lisa, apa lagi kini kondisinya yang menikam di penjara. Mungkin ini hukuman untuk Lisa, karma, karna dulu ia pernah menyakiti Dinda. Memang Tuhan maha Adil.


Tapi ada setitik harapan di hati Lisa, kebenaran yang sesungguhnya cepat terungkap. Bahwa bukan Lisa pelaku sebenarnya.


Aditia hanya terdiam, melihat Lisa yang menangis.


Namun melihat kondisi Lisa saat ini, Aditia benar-benar merasa iba. Tapi Aditia juga tidak bisa berbuat apa-apa.


"Terima kasih Mas, selama ini kamu sudah pernah mengisi hari-hariku. Aku ikhlas berpisah dengan mu," lirih Lisa, seraya mengusap air matanya. Berusaha untuk tersenyum di hadapan Aditia.


Aditia hanya mengangguk.


"Bagaimana kabar Dinda?" lanjut Lisa bertanya.


"Masih koma," jawab Aditia.


"Semoga Dinda cepat bangun ya Mas, aku di selalu mendoakan Dinda," ucap Lisa.


"Apa maksud mu? Bukankan ini yang kamu mau Lisa? Kamu yang mencelakai Dinda!"


"Sudahlah Lisa, jangan drama! Buktinya sudah jelas, kamu bersalah. Kamu dalang di balik semuanya!" pekik Aditia.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak Mas. Yang pasti aku mengatakan yang sebenarnya sama kamu."


"Lalu? Jika bukan kamu siapa?" tanya Aditia, ia tersenyum sinis pada Lisa.


"Riki," jawab Lisa.


"Mas taukan Riki? Mantan calon suami Dinda? Dia Mas pelaku, dia yang menjebak aku, dia yang sudah mencelakai Dinda, dia dalang di balik ini semua," lanjut Lisa.


"Sudahlah jangan mengarang cerita Lisa. Sudah cukup!"


"Aku tidak mengarang cerita Mas, aku bicara jujur," ucap Lisa.


"Maaf waktu besuk sudah habis," ucap Pak polisi, lalu ia membawa Lisa kembali ke dalam jeruji besi.


"Mas, tolong selidiki Riki," ucap Lisa sebelum meninggal Aditia.

__ADS_1


Aditia menatap kepergian Lisa, dengan beribu pertanyaan di benaknya. Apa iya Riki? Rasanya tidak mungkin? Aditia tau Riki memang masih mengharapkan Dinda, Riki masih mencintai Dinda, tidak mungkin Riki setega itu.


"Sudahlah, tidak mungkin. Lisa pasti mengarang cerita. Aku tak habis pikir, apa penjara ini tidak membuat Lisa jera!" gumam Aditia.


Setalah itu Aditia pun meninggalkan Kantor Polisi. Ia melajukan mobilnya ke Rumah sakit, untuk menemui Dinda, yang masih terbaring koma.


Namun saat diperjalanan, Aditia terus memikirkan ucapan Lisa. Entah mengapa Aditia menjadi penasaran, apa iya Riki pelakunya?


Aditia mengeluarkan ponselnya, lalu ia menelepon seseorang.


"Hallo Za," ucap Aditia dalam sambungan telepon tersebut.


"Iya, kenapa?"


"Elo bantu gue,"


"Bantu apaan lagi? Kerjaan gue banyak ini. Gara-gara elo galau, kerjaan di kantor numpuk ni," sahut Reza disambungan telepon tersebut.


"Elo suruh orang kepercayaan elo buat mata-matain di Riki," titah Aditia.


"Riki? Riki mana?"


"Mantan calon suami Dinda, elo taukan?"


"Oh iya, tau-tau! Emang kenapa sama tu orang?"


"Udah elo jangan banyak tanya. Lakukan cepat!" tegas Aditia.


Terdengar helaian napas Reza dari sebrang sana.


"Oke, Bos!"


Setalah mendapatkan jawaban dari Reza, Aditia langsung mematikan sambungan telepon tersebut secara sepihak.


"Baiklah, jika memang benar apa yang dikatakan Lisa. Bahwa Riki pelaku, aku akan menghabisinya!" pekik Aditia.


Bersambung...


Jangan lupa klik jempolnya dulu, tinggalkan jejak kalian di kolom komentar dan vote kalau ada.


Gift hadiah jiga boleh, bunga misalnya, tau kopi. Hehe


Happy Weekend semua.

__ADS_1


Jangan lupa bahagia.


Terima kasih.


__ADS_2