Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 94. Hasil pertempuran semalam


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh pagi, namun Dinda masih terlihat berbaring di atas kasur.


Setelah ia melakukan shalat subuh tadi, Dinda tidur kembali. Karna semalam, Dinda benar-benar tidak di izinkan tidur oleh Suaminya.


Dinda benar-benar merasa ngantuk, serta lelah, badannya terasa remuk. Bagaimana tidak, semalam Aditia benar-benar tidak memberikan Dinda, kesempatan untuk beristirahat, ataupun memejamkan matanya, hingga subuh menjelang.


Semalam Aditia benar-benar ganas, ia menerkam Dinda berkali-kali, ya walau gak sampai 7 ronde sih.


Sementara itu, Aditia terlihat tengah mengobrol hangat sambil menjaga Azka dan Baby-nya Bella, bersama kedua orang tuanya.


"Dit, Dinda belum bangun?" tanya Mamah.


"Belum kayanya Mah," jawab Aditia.


"Ini udah siang lho, bangunin gih, suruh sarapan dulu, kalau udah sarapan mau tidur lagi juga gak apa-apa," titahnya.


"Iya, Mah." Aditia berajak dari sana, ia berjalan menuju kamarnya.


Setelah sampai kamar, di lihatnya sang Istri masih tertidur lelap. Aditia berjalan mendekati Dinda, untuk membangun istrinya itu.


"Sayang... bangun..." Aditia mengusap lembut wajah Dinda.


"Emmm..." Dinda menggeliat tubuhnya, lalu perlahan ia membuka matanya.


Aditia tersenyum, saat Dinda membuka matanya.


"Sarapan dulu, nanti lanjut lagi bobonya,'' titah Aditia.


"Ini jam berapa Mas?"


"Jam 10."


Dinda terkejut, dengan mata yang membulat sempurna.


"Apa Mas? Ya ampun, kenapa gak bangunin aku dari tadi sih Mas!" Dinda mengangkat tubuhnya, bermaksud untuk bangun.


Namun entah kenapa, Dinda merasa tidak bertenaga, ia merasa sangat lemas, badannya juga masih terasa pegal-pegal. Apa lagi daerah sensitif miliknya, Dinda benar-benar merasa perih.


"Aww..." rengek Dinda, sambil berusaha, bersusah payah mencoba untuk bersandar.


Aditia yang melihat sang istri seperti kesulitan itu, dengan sigap membantunya.


"Kenapa Yang? Ada yang sakit?'' tanya Aditia panik, usai membantu Dinda bersandar tersebut.


"Badanku rasanya pada sakit Mas, terus ini, bagian bawah punyaku, rasanya kok ngilu banget ya, perih lagi," jawab Dinda, ia berbicara secara gamblang tentang apa yang ia rasakan itu.


"Coba Mas liat!''


"Liat apa?" Dinda menatap heran.


"Ya itu Yang, masa gak ngerti. Takutnya luka. Sini Mas liat."


"Gak apa-apa kok Mas, nanti juga pasti baikkan kok," tolak Dinda. Ia masih merasa malu, masa iya, Aditia mau liat area sensitif-nya itu.


Emang sih Aditia itu suaminya, bahkan Aditia sudah melihat semua yang ada di diri Dinda, tapi ah. Sudahlah, pokoknya Dinda malu.

__ADS_1


"Cepat Yang, sini biar Mas liat. Takutnya nanti ada apa-apa!" Aditia memaksa Dinda.


"Tapi Mas..."


"Sudah ah, jangan nolak terus," pungkas Aditia memotong ngucapin Dinda, yang belum selesai. Aditia langsung menyingkapkan selimut yang menutupi tubuh istrinya itu. Lalu Aditia menyingkapkan gamis Dinda, dan setelah itu ia membuka pakai dalam milik istrinya itu.


Dinda hanya menunduk malu, menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah seperti tomat.


Ya Tuhan, apa Aditia tidak keterlaluan? Dinda sungguh merasa malu. Namun apalah daya, Dinda hanya pasrah saja. Walaupun menurutnya Aditia terlalu berlebih.


"Ya ampun sayang, bengkak ini," ucap Aditia, dengan wajah yang terlihat cemas, matanya masih menatap area sensitif milik istri itu dengan sangat teliti.


"Kita ke dokter saja ya Yang..." lanjut Aditia, mengalihkan pandangannya melihat kearah Dinda.


"Gak usah Mas, aku malu," talok Dinda dengan cepat.


Iya kali, masa iya, ke dokter cuman mau memeriksa anu. Konyol gak sih?


"Lah terus gimana dong?"


"Pasti sakit banget ya Yang, maafin aku ya," lanjut Aditia lirih, ada wajah rasa bersalah terpancar dari wajahnya.


"Gak apa-apa, Mas. Nanti juga pasti sembuh kok," ucap Dinda tersenyum lebar.


"Ya sudah gini aja, kalau kamu gak mau periksa ke dokter, Mas belikan obat aja ya, siapa tau ada obat buat obatin itu," ujar Aditia.


"Emang Mas gak malu nanti, kalau beli obat itu?" tanya Dinda.


"Enggak ngapain malu, apa pun demi kamu, asal kamu sembuh, Mas gak tega. Ini semua gara-gara Mas."


"Aku gak berlebihan Sayang, aku khawatir tau!" Aditia menekuk wajahnya.


"Sudah jangan protes, Mas mau beli obatnya dulu."


Dinda hanya mengangguk pasrah, setalah itu Aditia pun berlalu dari kamarnya. Tak lupa Aditia mengambil dompet dan kunci mobilnya.


"Lho Dit, mau kamana?" tanya Mamah, saat Aditia berjalan melewatinya.


"Dinda-nya mana?" timpa Papah.


"Dinda masih di kamar Mah, Pah. Dia sakit," jawab Aditia seraya menghentikan langkahnya, dan melihat kearah kedua orang tuanya itu.


"Sakit?" ucap Mamah dan Papah secara bersamaan. Mereka terlihat terkejut.


"Sakit apa?" tanya mereka kembali, secara bersamaan.


Aditia terlihat menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Bingung? Mau jawab apa! Mas iya Aditia bilang kalau Dinda sakit anunya. Eh...


"Aditia, ditanya kok malah diam sih!" pekik Mamah.


"Eh, iya Mah. Anu..." Aditia menjeda ucapannya, sial bangaimana menjelaskannya?


"Anu, anu, anu apa sih? Yang jelas apa kalau ngomong?" cerca Mamah tak sabaran, raut wajahnya terlihat penuh kekhawatiran.


"Itu, Dinda kayanya kelelahan," jawab Aditia.

__ADS_1


"Ya sudah bawa ke dokter saja," titah Mamah. Diangguki oleh Papah.


"Dinda-nya gak mau."


"Kalau gak mau, ya suruh dokternya aja ke sini Aditia!"


"Maksud aku, Dinda-nya gak mau di periksa sama Dokter.''


"Lah kenapa? Mending suruh di periksa aja, biar jelas sakitnya apa!"


Aditia terlihat semakin bingung.


"Eh iya, kamu mau kemana?" tanya Mamah kemudian.


"Mau keluar sebentar Mah," jawab Aditia.


"Kemana? Katanya Dinda sakit, kok malah ditinggal sih, suami macam apa kamu hah?" Mamah terlihat kesal.


"Ini, aku keluar mau beli obat untuk Dinda Mah," jelas Aditia.


"Obat apa? Emangnya kamu tau Dinda sakit apa?"


"Ya tau dong Mah, makanya aku mau beliin obatnya," jawab Aditia memalas.


"Sakit apa?"


"Itu bagian sensitifnya Dinda bengkak M..." Aditia menghentikan ucapan, sialan seperti dia keceplosan.


"Apa?" teriak Mamah dan Papah. Lalu mereka melongo menatap Aditia.


Aditia terlihat salah tingkah, sambil terus mengerut dalam hatinya, bisa-bisa ia keceplosan. Ah sungguh memalukan bukan!


"Ya ampun Aditia, bisa-bisa kamu ganas begitu? Kamu siksa menantu Mamah!'' pekiknya.


"Tapi kamu hebat Dit, laki-laki perkasa," timpa Papah sambil tersenyum bangga. Namun langsung mendapatkan tatapan tajam dari istrinya.


Aditia tersenyum kikuk, mendengar pujian dari Papahnya itu.


"Laki-laki emang sama saja! Gak mikir apa kita wanita gimana!" kesal Mamah.


"Aku titip Azka dulu ya Mah, mau keluar beli obat dulu bentar," pamit Aditia.


Mamah nampak diam tak menyahut, hanya Papah yang menganggukkan kepalanya. Setalah itu Aditia pun berlalu dari sana. Keluar untuk membeli obat, untuk istrinya.


Bersambung...


Like


Komen


Vote


Jangan lupa ya!


Terima Kasih.

__ADS_1


__ADS_2