
"Lihat tuh Pah, kelakuan anak kamu," ketus Mamah pada Papah, setelah Aditia berlalu dari sana.
"Wajahlah Mah," sahut Papah dengan santainya.
"Wajar, wajar, wajib di hajar! Kalian emang sama saja, ganas. Mamah mau liat Dinda dulu, jagain Azka nih," ucap Mamah, seraya memberikan Azka pada suaminya itu.
Papah mengehelai napasnya, lalu mengendong Azka. Sementara istrinya berlalu dari sana, berjalan untuk melihat kondisi menantunya itu.
"Din, apa Mamah boleh masuk Nak?" tanya Mamah, setelah mengetuk pintu kamar Dinda.
"Masuk saja Mah," sahut Dinda dari dalam sana.
Klekk...
Mamah membuka pintu kamar tersebut, lalu melangkah masuk ke dalam kamar.
"Mah," ucap Dinda tersenyum pada Mama mertuanya itu.
"Kamu gak apa-apa Din?" tanya Mamah sambil mendudukkan pantatnya di tepi ranjang Dinda.
"Gak apa-apa kok Mah, Dinda hanya lelehan saja," jawab Dinda sambil melebarkan senyumnya.
"Lain kali, kalau udah sakit jangan maksain Din, kasih aja Aditia pengertian ya, jadinya seperti ini'kan," ucap Mamah lembut, seraya mengelus bahu menantunya itu.
Dinda nampak mengerutkan keningnya, ia menatap bingung, tapi ada rasa canggung serta malu juga.
"Maksud Mamah?" Dinda bertanya seolah-olah ia tak mengerti dengan ucapan mertuanya itu.
Eh, apa jangan-jangan Aditia cerita sama Mama mertuanya itu. Ah, kalau iya! Sungguh malunya Dinda.
"Tadi Aditia bilang, katanya itu kamu bengkak.''
Deg...
Ah sumpah demi apa, jadi benar suaminya itu bicara pada Mamah mertuanya. Wajah Dinda terlihat langsung memerah, malulah, masa enggak.
"Sudah gak usah malu gitu, Mamah ini juga wanita, kayanya Aditia sama Papah itu sebelah dua belas Din," ucap Mamah, seperti mengerti bahwa menantunya itu merasa malu, karna membahas hal yang sangat sensitif itu.
Dinda hanya mengangguk, lalu tersenyum kikuk.
Sudah tidak bisa berkata-kata, mau mengelak juga gak bisa, toh suaminya sudah membocorkannya.
"Oh iya Mah, Azka di mana?" tanya Dinda, sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.
"Sama Papah, tadi Aditia pamit mau beli obat buat kamu katanya."
"Mah, maaf ya Dinda ngerpotin kalian terus."
"Apa sih Din, Azka itu cucu kita, gak ngerasa direpotkan, justru kita senang, bisa membantu kalian mengurus Azka," ujar Mamah lembut, seraya tersenyum tulus.
"Terima kasih Mah."
"Sama-sama Din."
"Ya sudah, kamu istirahat saja. Tenang aja, Azka biar Mamah yang urus," lanjut.
Dinda menganggukan. Dinda tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, merasa bersyukur memiliki mertua seperti mereka. Menyayangi Dinda, dan sangat perhatian padanya.
"Oh iya, kamu belum sarapan ya?" tanya Mamah kemudian.
__ADS_1
Dinda terlihat menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, nanti biar Mamah suruh Bi Santi buat nganterin sarapan ke sini," ucap Mamah.
"Gak usah Mah," tolak Dinda dengan cepat.
"Nanti biar Dinda saja turun kebawah," lanjutnya.
"Yakin?"
Dinda terdiam, yakin gak yakin sih. Tapi, ngerasa manja benget. Gak enak, malu, pikirnya.
"Sudah, kamu diam saja di kamar. Jangan banyak gerak dulu biar cepat sembuh."
"Mamah pernah ngerasain posisi seperti kamu ini, jangankan berjalan, mau geser aja susah, ngilu, iya 'kan?" lanjutnya.
Iya benar juga, apa yang di katakan oleh Mamah mertuanya itu. Persis, sama pokoknya. Akhirnya Dinda pun mengangguk pasrah.
"Ya sudah, Mamah tinggal dulu ya,'' pamit Mamah.
"Iya Mah."
Setalah itu, Mama pun berajak dari sana, melangkahkan kakinya keluar dari kamar Dinda.
Dinda menghelai napasnya, laga. Itulah yang ia rasakan sekarang.
Tapi Dinda masih merasa malu, bisa-bisa Aditia memberitahu mertuanya itu.
"Awas ya Mas, aku kasih hukuman nanti kamu,'' geram Dinda.
"Aduh, sakit banget. Hasil pertempuran semalam ini menyiksa ku," lirih Dinda. Sambil menahan perih di bagian bawahnya itu.
Tak lama kemudian, pintu kamar Dinda terdengar ada yang mengetuk. Dinda menyahut, dan menyuruh masuk.
"Ini makanannya, Nyonya," ujar Bi Santi ramah.
"Taro di situ aja dulu bi," titah Dinda.
Bi Santi mengangguk, lalu ia meletakan makanan tersebut di atas nakas yang berada di samping ranjang majikannya itu.
"Ada yang bisa saya bantu Nyonya?" tanya Bi Santi.
"Gak ada kok Bi, makasih ya."
"Iya, Nyonya. Kalau begitu saya permisi."
Dinda mengangguk, lalu Bi Santi berlalu, wanita itu melangkah kakinya keluar dari kamar majikannya itu.
Perlahan sambil menahan perih di area bawah sana, Dinda menggeser tubuhnya, tanganya mencoba meraih makanan yang di bawa oleh Bi Santi tadi.
Ya sakit area bawahnya saja, yang lain tidak, hanya badannya saja yang terasa sakit semua. Jadi untuk urusan perut, tentu saja Dinda sudah merasa sangat lapar, sedari tadi cacing-cacing di perutnya sudah meronta-ronta.
Dengan susah payah, akhirnya Dinda berhasil mengambil makanan tersebut, tak banyak kata, tak lagi menunda, Dinda langsung melahapnya.
***
Sementara itu, Aditia menghentikan mobilnya di depan salah satu toko obat, yang tak jauh dari rumahnya.
Aditia keluar dari mobilnya itu. Lalu melangkahkan masuk ke dalam toko obat tersebut.
__ADS_1
"Selamat siang Pak," sapa penjaga toko obat dengan ramah, menyambut kedatangan costumernya itu.
Aditia tersenyum, lalu ia berpikir sejenak. Bagaimana cara bicara, eh maksud, membeli obat untuk Dinda. Obat apa namanya, Aditia tidak tau.
"Ini, eeemmm... anu..." Aditia nampak gugup dan masih bingung.
"Iya Pak, mau cari obat apa?" tanya penjaga toko itu lagi, masih dengan ramah.
"Aduh, gimana ya bilangnya?"
"Gini, saya mau cari obat untuk istri saya," lanjut Aditia.
"Obat apa Pak? Istri sakit apa? Apa ada resepnya?" cerca penjaga toko, masih berbicara dengan ramah, penjaga toko itu, nampak sabar menghadapi Aditia.
"Itu, area sensitif istri saya bengkak, apa ada obatnya?'' tanya Aditia.
Para pembeli lain, terlihat langsung melihat kearah Aditia. Aditia menyadarinya, namun berusaha bersikap biasa saja. Orang-orang itu terlihat berbisik-bisik.
"Oh itu, ada Pak. Sebenernya saya ambilkan," ucap penjaga toko.
Aditia langsung mengangguk, lalu penjaga toko itu pun mengambil obat yang di maksud oleh Aditia.
"Ya ampun, sampe bengkak, bayangin deh, berapa ronde itu."
"Iya, hebat sih. Tapi kasian juga bininya.''
Tersebut ibu-ibu yang ada di sana, membicarakan Aditia. Mereka berbicara pelan, namun masih dapat Aditia dengar.
"7 ronde Bu," sahut Aditia pada mereka. Aditia tersenyum bangga.
Para ibu-ibu itu terlihat membulatkan mata mereka, dengan mulut ternganga.
Penjaga toko yang terlihat sudah kembali, mengelengkan kepalanya, sambil menahan tawanya.
"Ini Pak, obatnya."
"Oh iya, terima kasih," ucap Aditia, lalu membayar obat tersebut.
"Cara pakenya gimana?" tanya Aditia.
"Tinggal dioleskan saja Pak, di situ juga tertera cara-caranya, bisa dibaca Pak," jawabnya, sambil menjelaskan.
Aditia mengangguk-anggukan kepalanya. Setalah itu, ia pun keluar dari toko obat tersebut.
Aditia langsung berjalan menuju mobil, masuk dan melaju mobil tersebut meninggalkan toko obat tersebut.
"Demi istri tercinta," gumam Aditia.
Jujur saja, Aditia tadi malu. Bahkan ia sempat ragu.
Tapi ada rasa senang juga sih, tadi ibu-ibu itu nampak kagum padanya.
Huh dasar Aditia.
Bersambung...
Like
komen
__ADS_1
Vote
Jangan lupa ya.