Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 16. Semuanya Dusta, membuat luka


__ADS_3

Hari demi hari berganti, tak terasa pernikahan Dinda dan Aditia sudah memasuki bulan ke dua. Sikap Aditia kepada Dinda tak sedingin dulu, Aditia kini sudah mulai bersikap Adil kepada dua istrinya itu, dalam satu Minggu ia membagi waktunya untuk ke dua istrinya, Senin sampe Rabu Aditia akan tidur bersama Dinda dan Kamis sampai Minggu bersama istri pertamanya Lisa. Walaupun dalam seminggu itu Lisa mendapatkan jatah waktu yang cukup lama di banding Dinda, bahkan di hari weekend Aditia selalu menghabiskan waktunya dengan Lisa, tapi Dinda tak apa-apa, Aditia sudah meluangkan waktu untuk dirinya pun itu sudah lebih dari cukup, karna memang Dinda harus mengalah, Lisa lebih berhak terhadap Aditia, dari pada Dirinya, Dinda sadar Aditia sangat mencintai Lisa. Walaupun hanya malam harinya saja, karna siang sampai sore Aditia berkerja. Malam harinya baru ia meluangkan waktu untuk istri mudanya itu, dan tentu saja setiap malam Aditia selalu bercocok tanam dengan istri mudanya itu, berharap benihnya segara tumbuh dalam rahim istri mudanya itu. Jika di pikir-pikir, waktu Dinda dan Aditia, Dinda hanya dijadikan pemuas nafsunya saja. Sempat terlintas pikiran itu dalam benak Dinda, tapi ia menepis pikirnya tersebut, Jika memang itu pun benar, tak apa. Aditia memang sudah sah menjadi suaminya.


Namun dalam Minggu ini ada yang berbeda pada Aditia, Aditia lebih banyak meluangkan waktu untuknya, bahkan weekend Minggu ini Aditia mengajak Dinda jalan-jalan. Membuat Dinda merasa sangat bahagia, apakah kini Aditia sudah benar-benar menerimanya? Atau lebih dari tatapannya Dinda melihat, tatapan Aditia seperti tatapan seseorang yang mencintainya, jika itu memang benar. Dinda benar-benar berterima kasih, doa-doanya di dengarkan oleh tuhan, apakah ini tandanya badai itu sudah berlalu? Apa mungkin kini pelangi itu akan tiba? Apa indah pada waktunya itu, akan tiba?


Kini Aditia dan Dinda tengah berada di salah satu mall ternama yang ada di kota tersebut. Sempat terjadi perselisihan antara Aditia dan istri pertamanya Lisa, saat Aditia memberitahu Lisa hari ini ia akan weekend bersama madunya itu, namun pada akhirnya Lisa mengalah, asalkan seminggu yang akan datang Aditia harus tidur bersamanya dan Aditia tidak memberi waktu untuk madunya itu, Aditia menyanggupi, hingga akhirnya. Walaupun dalam hatinya ia merasa berat, tapi tidak apa-apa hari ini Aditia akan menghabiskan waktunya bersama Dinda, membahagiakan istri mudanya itu.


Aditia tak melepaskan genggaman tanganya Dinda, dari sampai mall sampe sekarang ini.


Entah mengapa rasanya Aditia tidak mau melapaskan tangan istri mudanya itu. Mereka kini baru saja selesai makan, pas makan Aditia sangat manja bahkan ia meminta di suapi oleh Dinda. Hari ini benar-benar menjadi hari paling bahagia menurut Dinda. Dinda sadar ia sudah jatuh hati kepada Aditia.


"Sayang kita mau kemana lagi?" Tanya Aditia. Dinda langsung menetap kearah Aditia, apa Dinda tak salah dengar? Aditia memanggilnya dengan sebutan sayang?


"Kenapa menatapku seperti itu, emang aku tidak boleh memanggil istriku dengan sebutan sayang?" Tanya Aditia.


Wajah Dinda langsung merah merona, jantungnya serasa ingin copot mendengar ucapan suaminya itu.


"Boleh kok mas," jawab Dinda menundukan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang memerah itu.


"Ya sudah kita beli baju yuk!" Ajak Aditia, diangguki oleh Dinda. Mereka pun berjalan menuju salah satu toko pakaian ternama.


"Pilih yang kamu suka," titah Aditia. Usai mereka sampai di toko tersebut.


"Aku mas?" Dinda tak menatap tak percaya.


"Iya sayang, inikan khusus pakaian untuk wanita muslimah seperti kamu. Memangnya kita mau beli baju untuk siapa hmm? Untuk mas, masa mas pake gamis syar'i begini? Apa untuk Lisa? Lisa bisa pingsan kalau pake baju seperti ini!" Canda Aditia, membuat Dinda terkekeh.


"Kali aja mas mau beli buat mbak Lisa, mbak Lisa juga istri mas! Seharusnya mas juga harus bisa membuat mbak Lisa memakai pakaian seperti ini. Biar auratnya gak diliat sama laki-laki yang bukan muhrimnya," tutur Dinda. Aditia tersenyum, ia mengelus kepala Dinda yang terbalut jilbabnya itu.


"Iya nanti mas akan coba bicara sama Lisa." Ucap Aditia diangguki oleh Dinda.


Dinda pun mulai memilih baju-baju yang terpajang disana, semuanya sangat bagus di tambah ini memang brand ternama yang desain pakaian di sukai Dinda. Dinda terlihat bingung memilihnya. Jika boleh Dinda ingin membeli semuanya.


"Mas aku bingung mau pilih yang mana? Semuanya bagus, mas bisa bantu pilihkan?" Tanya Dinda.

__ADS_1


"Mas gak ngerti sayang soal ginian. Kamu pilih saja yang menurut kamu bagus!"


"Tapi semuanya bagus mas,"


"Ya sudah beli saja semuanya!" Jawab Aditia begitu entengnya dan Dinda langsung membulatkan matanya.


"Kenapa hmm? Kamu tidak tau apa suamimu ini sangat kaya! Bahkan toko ini bisa masa beli semuanya!" Lanjut Aditia dengan sombongnya.


"Jangan sombong mas, semua itu hanya titipan!"


"Iya sayang, mas tau. Mas sombong cuma sama kamu!" Jawab Aditia tak mau kalah.


Lama kemudian akhirnya mereka keluar dari toko tersebut, Aditia membawakan belanjaan istrinya itu, tidak banyak hanya empat buat feperbag saja.


"Kita kemana lagi sayang?" Tanya Aditia.


"Pulang saja mas!" Jawab Dinda.


"Iya mas, aku sudah lelah."


"Ya sudah ayo kita pulang!" Mereka pun langsung meninggalkan mall tersebut dan pulang.


Sekitar 40 menit kemudian akhirnya mereka sampai. Aditia memberitahu Dinda bahwa malam ini sampai satu Minggu ia akan tidur bersama istri pertamanya Lisa dan Minggu depannya Aditia akan membagi waktunya seperti semula, Dinda menerima semuanya ia tak keberatan, ia mengerti posisi Lisa.


Aditia mengantarkan terlebih dahulu istrinya itu kekamarnya sambil membawakan belanjaan milik istrinya itu.


"Kamu langsung istirahat ya!" Titah Aditia, lalu mendaratkan kecupan di kening istri mudanya itu.


"Iya mas, mas juga!" Jawab Dinda, Aditia mengangguk kepalanya.


"Ya sudah mas keluar ya," pamit Aditia. Dinda memberikan senyuman. Aditia mulai melangkahkan kakinya menuju arah pintu kamar tersebut, entah mengapa langkahnya terasa sangat berat meninggalkan kamar istri mudanya itu. Karna dalam satu Minggu berikutnya Aditia tidak akan tidur di kamar milik istri mudanya itu.


***

__ADS_1


Malam harinya, Lisa dan Aditia tengah duduk di ruang tengah, Lisa bergelayut manja sambil bersandar di dada bidang suaminya itu. Akhirnya Lisa bisa bersama Aditia dalam seminggu ini, tanpa di ganggu oleh Dinda, ya bagi Lisa madunya itu adalah pengganggu. Dia tak sadar dirinya sendiri bahkan yang membawa Dinda kerumah tangganya dengan menyuruh Aditia menikahinya.


"Mas aku senang akhirnya kita bisa berduaan seperti ini, aku rindu kamu mas!" Ucap Lisa.


"Iya sayang, mas juga."


"Oh iya mas, perasaan mas masih samakan sama Dinda?"


"Maksud kamu?"


"Iya, mas gak cintakan sama dia? Aku ngerasa belakang ini sikap mas berbeda!" Jelas Lisa.


"Itu mungkin perasaan kamu saja Lisa, kamu terlalu cemburu kepada Dinda." Sangkal Aditia. Padahal dia sendiri mengakui kalau sikapnya berubah, bahkan Aditia sendiri mengakui kalau ia sudah mencintai Dinda. Namun ia tak mungkin mengatakan sejujurnya kepada Lisa, ia tak ingin melukai istrinya itu. Dan jika boleh jujur Aditia merasa tidak nyaman Lisa bergelayut manja seperti sekarang ini.


"Apa iya mas? Tapi mas benarkan gak cinta sama Dinda?"


"Benar Lisa! Tujuan mas menikahi diakan hanya untuk membuat dia hamil, memberikan anak pada kita." Dusta Aditia.


"Setalah itu mas akan menceraikannya, iyakan?" Lisa melanjutkan ucapan suaminya. Aditia tersenyum lalu mengangguk pelan.


Namun dalam hatinya ia menolak ucapan tersebut. Ada sesak saat ia mengatakan hal itu kepada Lisa.


Sementara itu sepasang mata melihat kearah mereka berdua, hatinya benar-benar hancur, sehancur-hancurnya.


Bersambung...


Jangan lupa like, komen dan Votenya.


Aku gak bosen-bosen minta like, komen dan vote sama kalian. Wkwkwk


Salam sayang dari author.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2