Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 12. Dusta Lisa


__ADS_3

Aditia kini tengah membereskan meja kerjanya. Hari ini sudah sangat lelah dan memutuskan untuk pulang. Setelah itu, Aditia pun berlalu meninggalkan kantornya itu.


Mobil Aditia mulai membelah jalan raya, jalanan ibu kota di sore hari nampak tidak terlalu padat, Aditia melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Aku harus melakukannya malam ini, semua demi mempertahankan rumah tanggaku dengan Lisa," ucap Aditia.


"Semoga trik yang di berikan Reza berhasil. Dan Dinda cepat hamil."


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Aditia sampai di depan rumahnya. Aditia menakdirkan mobilnya ke garasi, usai itu ia keluar dan berjalan masuk, menuju rumahnya. Keadaan rumah terlihat sangat sepi, Aditia langsung berjalan menaiki anak tangga menuju kamar dan Lisa, yang berada di lantai dua.


Klek...


Aditia membuka pintu kamarnya, namun lagi-lagi kamar itu sepi, tak ada penghuninya. Kenapa Lisa? Pikir Aditia. Karna badannya sudah terasa lengket, Aditia memutuskan untuk membersikan tubuhnya terlebih dahulu, Aditia langsung berjalan ke kamar mandi.


Tak lama kemudian, Aditia selesai. Aditia berganti pakaian. Usai itu ia keluar kamarnya, untuk mencari keberadaan sang istri tercintanya itu. Aditia mencari ke setiap ruangan rumahnya itu, tapi Lisa tak ada di sana. Aditia--pun berjalan menuju dapur, untuk menanyakan Lisa kepada bi Santi.


"Bi..." Panggil Aditia.


"Iya tuan," jawab bi Santi.


"Bibi melihat Lisa?" Tanya Aditia.


"Nyonya Lisa belum pulang tuan, dari siang tadi nyonya pergi!"


"Apa Lisa bilang dia mau kemana?"


"Tidak tuan."


"Kalau dia dimana?"


"Maaf, dia siapa ya tuan?" Bi Santi berbalik bertanya, karna memang ia tak mengetahui, siapa yang 'dia' yang di sebut oleh tuannya itu.


"Dinda." Jawab Aditia.


"Oh nyonya Dinda, nyonya lagi di halaman belakang tuan."


Aditia mengangguk, lalu ia berajak dari hadapan asisten rumah tangganya itu.

__ADS_1


'Sedang apa dia di belakang? Kurang kerjaan sekali,' gumam Aditia. Seraya melangkahkan kakinya menuju halaman belakang.


Aditia sudah sampai di halaman belakang, namun ia sengaja tak menghampiri Dinda, ia hanya melihat istri mudanya itu dari kejauhan. Dinda terlihat sedang duduk di gazebo, senyuman terlihat mengambang dari wajah cantik Dinda, entah apa yang sedang di lakukan wanita. Tak sadar Aditia ikut tersenyum, ia sadar bahwa Dinda memang cantik, jika di lihat lebih detail lagi, memang lebih cantik istri mudanya itu dari pada Lisa.


Namun detik kemudian, Aditia tersadar.


'Stt, apa yang aku pikirkan?' Ucap Aditia membatin. Setalah itu Aditia berajak dari sana. 'Lisa kemana lagi? Kok dia pergi gak izin dulu sih!' lanjut Aditia menggerutu dalam hatinya.


Sebuah mobil terlihat berhenti di depan rumah mewah milik Aditia, sosok sang istri pertama Aditia, yaitu Lisa terlihat turun dari mobil tersebut. Lisa berjalan ke dalam rumah dengan tangan yang menenteng banyak belanjaan. Ya Lisa baru saja pulang dari mall, Lisa memang gila belanja, bahkan barang-barang koleksi bukan barang murahan, tentu saja barang branded dengan harga selangit. Aditia memang selalu memenuhi apa yang di inginkan Lisa, Aditia tidak pernah mempersalahkan soal harga, jika membuat istrinya itu bahagia, so Aditia tidak melarangnya. Dan itu juga yang membuat Lisa tidak ingin kehilangan Aditia, apa lagi sampai berpisah, selain sangat mencintainya, kemewahan yang diberikan oleh suaminya itu kepuasan tersendiri bagi Lisa. Lisa memang bukan terlahir dari keluarga berada bahkan ke dua orang tuanya entah di mana sekarang, ada kabar bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal, namun Lisa menganggap kabar tersebut bagai kicauan burung yang lewat. Tak perduli dengan kedua orang tuanya yang miskin itu, yang penting sekarang hidupnya sudah bahagia bersama Aditia, hidup bergelimang harta. Bahkan Lisa membohongi Aditia, bahwa ia sudah tidak punya orang tua. Lisa malu kalau Aditia tau, apa lagi Aditia sampai tau kalau dirinya terlahir dari keluarga miskin.


"Loh mas, kamu udah pulang?" Tanya Lisa, ia menghentikan langkahnya, saat melihat Aditia yang tengah duduk di sofa ruang tengah.


"Kamu dari mana?" Tanya Aditia, nada bicaranya sedikit ketus, ia sedikit kesal kapada istri pertamanya itu.


Melihat Aditia yang kesal kepadanya, Lisa pun berjalan menghampiri Aditia lalu duduk di samping suaminya itu.


"Aku dari mall mas, habis di rumah jenuh. Terus kebetulan tas terbaru brand favoritku, launching hari ini," jawab Lisa. Seraya bergelayut manja di tangan suaminya.


"Kamu kebiasaan Lisa, harunya kalau mau pergi itu izin dulu, bilang sama aku. Telpon ke atau apa! Kamu tau aku khawatir sama kamu, terlebih tadi pagi kamu bilang, kamu sakit kepala."


Melihat Lisa yang memasang wajah memelas itu, membuat Aditia luluh. Tadinya ia akan memarahi Lisa, namun hatinya tak kuasa rasanya.


"Mas tidak marah sayang! Mas hanya Khawatir sama kondisi kamu." Jelas Aditia.


"Maaf mas, aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Maaf sudah membuat mas khawatir." Sesal Lisa. Aditia tersenyum lalu ia mengelus puncak kepala Lisa.


Sementara itu satu pasang mata, sedari tadi melihat kearah mereka. Dinda menatap nanar dengan senyuman getir kearah Aditia dan Lisa. Kapan Aditia akan memperlakukan dia seperti itu? Mengkhawatirkannya, menyayangi? Apa boleh Dinda iri kepada Lisa? Namun segara Dinda menepis pikiran tersebut.


'Sadar diri Dinda, jangan pernah iri kepada mbak Lisa. Sadar posisimu,' gumam Dinda. Tak mau berpikir lebih dalam lagi, Dinda pun langsung berlalu menuju kamarnya.


Aditia dan Lisa tak menyadari kehadiran Dinda tersebut, mereka masih sibuk mengobrol sambil bermesraan di sana.


"Oh iya sayang, ada yang ingin aku bicarakan!" Ucap Aditia.


"Bicara saja mas."


"Emm--'' Aditia menggantungkan ucapnya. Ia bingung bagaimana cara menyampaikannya pada Lisa, mengenai pembicaraannya tadi pagi dengan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Apa mas?" Tanya Lisa. Ia menatap Aditia heran. 'Apa yang akan mas Aditia bicarakan ya? Apa mengenai ucapannya tadi padi pada mamah dan papah ya! Sial, apa benar mas Aditia akan menyanggupi semuanya! Bagaimana kalau si madu sialan itu tidak hamil dalam waktu yang di tentukan itu? Rumah tanggaku jadi taruhannya, jangan sampai itu terjadi!' lanjut Lisa berucap dalam hatinya.


Aditia masih terdiam, ia masih memikirkan bagaimana cara menjelaskan semua pada Lisa. 'Bagaimana aku menjelaskannya pada Lisa? Apa aku bilang saja semuanya? Tapi jika aku ceritakan semuanya--' batin Aditia.


"Mas, kok malah diam sih?" Tanya Lisa lagi. Melihat gelagat suaminya itu, Lisa bisa menebak pasti suaminya tengah kebingungan mengantarkan semuanya.


"Sayang sebelumnya aku minta maaf," ucap Aditia.


"Maaf untuk apa mas?" Aditia kembali terdiam.


"Masalah Dinda?" Tanya Lisa lagi. Mencoba menebak apa yang akan di bicarakan suaminya itu. Aditia langsung menganggukkan kepalanya pelan.


"Iya sayang, mamah dan pa--"


"Aku sudah tau semuanya mas! Aku dengar pembicaraan kalian tadi," pungkas Lisa memotong ucapan suaminya.


"Maafkan aku sayang!" Sesal Aditia.


"Tidak usah minta maaf mas, aku paham kok kenapa mamah dan papah berbicara seperti itu. Lakukanlah mas, aku ikhlas kok. Dinda jugakan istri kamu, memang sudah kewajiban kamu menghamilinya." Tutur Lisa. Sambil tersenyum meyakinkan Aditia, bahwa dia benar-benar sudah menerima kehadiran Dinda sebagai madunya.


"Terima kasih Lisa. Tapi percayalah aku melakukan semua ini demi kamu, demi keutuhan rumah tangga kita. Aku sangat mencinta kamu Lisa."


"Iya mas, aku mengerti. Segara buat Dinda hamil. Agar mamah dan papah bahagia dan aku juga! Aku sangat merindukan anak di tengah-tengah pernikahan kita mas, walaupun aku tidak melahirkannya, tapi aku janji aku akan menyayangi anak itu, seperti anakku sendiri, jika suatu hari nanti dia hadir."


"Kamu memang wanita yang mulia Lisa, aku beruntung memiliki istri sepertimu." Puji Aditia, seraya mendaratkan kecupan di kening Lisa. Lisa hanya tersenyum, ia marasa bangga mendengar Aditia yang memujinya. Setidaknya perlakuan Aditia itu mampu sedikit meredakan rasa sesak di hatinya.


Dusta semua ucapan Lisa kepada Aditia, mengikhlaskan Aditia tidur bersama madunya? Tentu saja Lisa tidak.


'Baiklah mas, silahkan. Aku tidak akan melarang kamu, tapi kalau emang kamu bisa melakukan hal itu. Aku tau kamu mas, kamu tidak akan mampu melakukan hal itu. Kecuali kalau si madu sialan itu yang sengaja menggoda kamu! Tapi aku yakin pertahanan kamu kuat, kamu tidak akan goyah mas.' Batin Lisa. Lisa percaya kalau Aditia tidak akan berani melakukan hal itu kepada Dinda, semalam saja Lisa mengintip mereka, mereka bahkan tidur terpisah. Lisa yakin itu semua Aditia lakukan hanya formalitas semata. Aditia budak cinta Lisa, sampai kapanpun Aditia tidak akan berpaling darinya. Pikir Lisa dengan angkuhnya.


Bersambung...


Jangan lupa like, komen dan Votenya ya guys ya!!


Yuk kita tunggu sama-sama, apa Aditia melakukan hal itu gak ya sama Dinda? Apa yang tebakan Lisa yang benar? Kalau Aditia tidak akan mampu tidur dengan Dinda? Mau tau jawabannya, pantengin terus ya!! Ikutin terus kelanjutanya.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2