Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 25. Kamu benar-benar keterlaluan


__ADS_3

"Dari mana kamu?" Tanya Aditia dengan nada dingin namun penuh penekanan.


"Eh mas, kamu sudah pulang!''


"Jangan mengalihkan pembicaraan Lisa, aku tanya dari mana kamu?" Bentak Aditia.


"Emm, aku habis jalan sama teman-teman aku mas, biasa arisan." Jawab Lisa berdusta.


Aditia tersenyum sinis, "jangan berbohong Lisa! Katakan dari mana kamu sebenarnya?"


"Aku tidak bohong mas. Kamu kenapa sih tiba-tiba marah-marah gak jelas begini? Sudahlah aku capek mau istirahat." Jawab Lisa seraya melangkahkan kakinya. Namun baru saja ia melangkah, Aditia menarik tanganya.


"Apa ini cara kamu berbicara dengan suami kamu Lisa?" Pekik Aditia.


"Aww, sakit mas." Rintih Lisa, ia merasakan sakit di bagian pergelangan tanganya yang di genggam oleh Aditia. Aditia langsung melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar.


"Jelaskan semuanya padaku Lisa?"


"Apa yang harus aku jelaskan mas? Kamu kenapa sih hah? Tiba-tiba gak jelas begini?" Cerca Lisa.


"Tidak jelas? Siapa yang tidak jelas Lisa. Aku bertanya padamu, sekarang jelaskan semuanya padaku. Kamu jangan pura-pura tidak tau!"


"Ya aku memang tidak tau mas!" Kilah Lisa.


"Oke, ayo ikut aku." Aditia menarik tangan Lisa. Menyeret Lisa agar mengikuti langkahnya.


"Mas apa-apaan sih kamu? Kenapa kamu jadi kasar begini!" Ujar Lisa, sambil mengikuti langkah suaminya dengan terpaksa.


Aditia tak menjawab, ia terus menarik Lisa hingga mereka tiba di ruangan kerja Aditia.


Setelah sampai di ruang kerja tesebut, Aditia melepaskan tangan Lisa, lalu ia mengambil leptop dan menunjukannya kepada Lisa.


Lisa membulatkan matanya, saat melihat layar leptop tersebut, yang memutarkan rekaman CCTV rumah tersebut. Dimana disana terlihat semua kebusukannya, dari mulai memperlakukan Dinda semena-mena, adegan dimana dirinya menampar Dinda hari itu dan juga adegan dirinya yang mengusir ibu Rima dengan kasar.


Flashback.

__ADS_1


Usai mendengar ucapan sang asisten rumah tangganya. Aditia merasa sangat gusar, kata-kata bi Santi terus terngiang-ngiang.


"Apa yang dikatakan bi Santi itu benar? Tapi tidak mungkin Lisa sekejam itu, aku kenal siapa Lisa. Tapi kenapa cerita Bu Santi sama persis dengan cerita bu Rima? Apa jangan-jangan bu Rima..." Aditia tak melanjutkan ucapnya, ia segara bergegas menuju ruang kerjanya. Untuk memastikan bahwa yang di pikirkannya itu tidak benar.


Aditia mulai mengecek semua rekaman CCTV di setiap sudut ruangannya. Tak butuh waktu lama akhirnya Aditia menemukannya, betapa terkejutnya Aditia saat melihat rekaman CCTV tersebut. Apa yang dikatakan asisten rumah tangganya itu benar. Dan dugaannya juga benar, bahwa memang Ibu Rima adalah ibu kandung Lisa.


Tak berhenti sampai di situ, Aditia juga mengecek semua rekaman CCTV saat ia berdebat dengan kedua orang tuanya, darah Aditia bergejolak, ia kini melihat sendiri kebenaran. Bodoh, Aditia menggerutuki dirinya sendiri. Benar apa yang dikatakan orang tuanya saat itu, Lisa memang bermuka dua.


"Lisa kamu benar-benar keterlaluan," ucap Aditia geram.


Flashback off.


"Apa kamu masih mau berkilah Lisa?" Tanya Aditia, terlihat jelas raut wajah penuh amarah terpancar dari wajahnya.


"Ma--mas, a--ku bisa jelaskan semuanya." Jawab Lisa terbata-bata.


"Apa? Apa yang akan kamu jelaskan Lisa. Jadi selama ini seperti itu kelakuan kamu sama Dinda? Aku benar-benar kecewa pada kamu Lisa. Ternyata selama ini aku salah menilai kamu. Bukannya kamu yang menyuruhku untuk menikahi Dinda, menerimanya, memberi keadilan untuknya! Tapi apa, lihatlah? Kamu sendiri yang membuatnya menderita!"


"Dan satu lagi, kenapa kamu berbohong tentang orang tua kamu Lisa, kenapa kamu bilang mereka sudah meninggal? Dimana hati nurani kamu Lisa? Dimana? Bahkan kamu tidak memberikan tahu mereka saat kamu menikah dan wali kamu bukan bapak kamu, apa pernikahan kita selama ini sah Lisa?"


Aditia terdiam, hatinya tak bisa dijabarkan. Entah apa yang harus ia lakukan sekarang.


Matanya juga terlihat berkaca-kaca, 'ya tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?' batin Aditia.


"Bangun!" Titah Aditia penuh penekanan. Namun bukannya menurut Lisa malah mempererat pelukannya di kaki suaminya itu.


"Lisa, aku bilang bangun!" Bentak Aditia.


"Tidak mas, aku tidak akan bangun, sebelum kamu memaafkan aku mas. Aku akan bersimpuh di kaki kamu. Aku mohon maafkan aku mas, aku menyesal mas. Beri aku kesempatan mas, aku akan memperbaiki semuanya."


Aditia menghelai nafasnya, lalu ia melepaskan tangan Lisa dari kakinya. Lisa memberontak, namun tenaga Aditia lebih besar, hingga tangan Lisa akhirnya terlepas dari kakinya. Lisa terlihat akan memeluk kembali kaki Aditia, namun dengan cepat Aditia menjauhkan kakinya dari Lisa.


"Bangun atau aku tidak akan pernah memaafkan kamu Lisa." Tegas Aditia. Akhirnya Lisa pun menurut.


Kini mereka sudah duduk saling berhadapan. Tatapan Aditia masih penuh kemarahan, ia benar-benar marah dan kecewa kepada Lisa.

__ADS_1


Lisa menatap nanar suaminya itu, air mata masih setia mengalir deras dari pelupuk matanya.


"Mas, maafkan aku. Aku tau aku salah---"


"Iya kamu memang salah Lisa!" Pungkas Aditia.


"Aku bukan tanpa alasan mas melakukan itu. Aku berusaha ikhlas menerima Dinda, tapi hatiku tetap tidak menerimanya. Aku terluka mas, hatiku sakit saat melihat kamu bersama Dinda. Aku cemburu saat kamu memperhatikan dia mas. Aku tidak rela saat kamu tidur dengannya dan aku marah saat kamu mulai tak memperhatikan aku lagi, setelah kamu menikahi Dinda sikap kamu berubah mas, sikap kamu lebih condong pada dia dari pada aku mas, bahkan kamu lupa apa tujuan kamu menikahinya. Aku tau aku egois mas dan keegoisan itu menguasaiku, hingga aku melakukan itu pada Dinda. Tapi aku khilaf mas, aku menyesal. Beri aku kesempatan mas, aku akan memperbaiki semuanya, aku akan meminta maaf pada Dinda, kalau perlu aku bersujud mas di kakinya." Ucap Lisa. Meluapkan segala isi hatinya.


"Bukankah kamu sendiri yang menginginkan pernikahan ini Lisa, kamu yang memaksaku untuk menikah lagi, bahkan aku sudah menolak ide gilamu itu ribuan kali, tapi kamu tetap memaksamu. Lalu kenapa kamu sekarang bersikap seperti ini?"


"Mas aku hanya wanita biasa, apa aku salah bersikap seperti itu hah? Harusnya kamu juga bisa menjaga batas kamu dengan Dinda. Aku tau kamu sudah jatuh cinta sama diakan?"


"Kamu sendiri yang berjanji tidak akan melibatkan perasaan kamu dengan Dinda, tapi apa? Kamu melanggarnya mas."


"Ya aku memang sudah jatuh cinta sama dia, aku sudah melanggar janjiku. Tapi jangan salahkan aku, karna itu salah kamu Lisa, kamu sendiri yang membawa Dinda dalam rumah tangga kita." Pekik Aditia.


"Dan yang membuat aku lebih kecewa sama kamu Lisa, kamu membohongiku tentang orang tuamu, bukan hanya aku tapi kamu juga membohongi mamah dan papah, orang tuaku Lisa!" Lanjut Aditia penuh amarah.


"Mas aku terpaksa membohongi kamu, papah dan mamah. Aku takut kalian tidak menerimaku, jika kalian tau status keluargaku. Orang tuaku miskin mas." Jelas Lisa.


"Lebih baik kita berpisah Lisa!"


Bersambung...


Like


Komen


Vote


Jangan lupa ya!! Hehe


Terima kasih sudah setia ngikuti cerita author yang amatiran ini.


Kalian yang terbaik, I love you full pokoknya.

__ADS_1


__ADS_2