
"Din kok malah diam sih?" tanya Aditia.
"Iya boleh Mas," jawab Dinda malu-malu tapi mau eh.
Tak menunggu waktu lama Aditia mulai menyerang istrinya itu.
Suara ajaib terus keluar dari mulut keduanya, keringat panas terlihat bercucuran dari tubuh Dinda dan Aditia. Malam itu menjadi malam yang paling membahagiakan untuk mereka, di mana ranjang bergoyang, membawa mereka terbang melayang, nikmatnya tidak bisa diungkapkan. Surga dunia yang benar-benar sangat memabukkan setiap insan yang sudah berpasangan. Yang jomblo ya wasalam. Eh...
Dinda merasakan tubuhnya menegang, ada rasa yang susah di jelaskan oleh dirinya, sepertinya Dinda akan menuju puncak kenikmatannya, Aditia yang mengetahui hal tersebut, ia mempercepat gerakannya, membuat Dinda semakin tidak tahan. Dan...
"Ahhh...." suara ajaib panjang terdengar keluar dari bibir keduanya. Mereka mencapai titik puncak kenikmatan secara bersamaan.
"Terima kasih sayang..." ucap Aditia dengan napas yang masih memburu, lalu Aditia mendaratkan kecupan di kening istrinya itu.
Dinda hanya mengangguk lalu tersenyum, dengan mata yang setangah tertutup. Aditia melepaskan tubuhnya dari tubuh Dinda, lalu menjatuhkan tubuhnya itu di samping Dinda. Lalu membawa Dinda ke dalam pelukannya. Dinda sudah tidak bersuara, nampaknya wanita itu sudah tertidur, karna lelah.
Aditia mengusap pelipis kening Dinda yang terdapat keringat sisa bercinta mereka.
"Selama tidur istriku, aku mencintaimu," ucap Aditia. Lalu Aditia mulai menajamkan matanya. Tak lama Aditia pun menyusul Dinda, masuk ke dunia mimpi mereka masing-masing.
***
Pagi harinya...
Dinda kini tengah menyiapkan sarapan untuk suaminya itu. Setalah selesai menyiapkan makanan, Dinda berjalan menuju kamar untuk membangunkan Aditia.
Saat Dinda masuk, nampaknya Aditia sudah terbangun, serta sudah terlihat rapi dengan setelan jas ya.
__ADS_1
"Pagi Sayang..." sapa Aditia seraya tersenyum lebar pada istrinya.
"Pagi Mas, aku kira Mas belum bangun," ucap Dinda.
"Udah dong, dari tadi malah. Lihat suamimu ini sudah terlihat ganteng bukan." Aditia mengedipkan sebelah matanya pada Dinda.
"Apaan sih Mas lebay," ledek Dinda tersenyum kekeh.
"Biarin!"
"Azka masih tidur ya Mas?" tanya Dinda.
"Tuh, masih pules banget. Anak ganteng Ayah kayanya agak-agak pemalas ini," ucap Aditia seraya menatap gemas baby Azka yang masih tidur di ranjang.
"Sut, ngomong jangan sembarang Mas," nampaknya Dinda tak suka, dengan ucapan suaminya berusan.
"Ya sudah, ayo kita serapan," ajak Dinda diangguki oleh Aditia. Mereka pun berlalu dari kamar, turun ke bawah menuju meja makan.
Seperti biasa Dinda mengambilkan sarapan untuk Aditi, melayani suaminya itu.
"Morning eperibadeh..." terdengar suara teriakan seseorang, dari arah ruangan depan. Dinda menatap Aditia, sorot matanya seolah bertanya.
Aditia terlihat mengehelai napasnya, Aditia sudah bisa menebak itu siapa.
"Pagi, kakak Ipar...." benar saja, Reza terlihat berjalan ke arah meja makan, menghampiri Dinda dan Aditia.
"Pagi Rez," balas Dinda tersenyum ramah.
__ADS_1
"Ngapain elo kemari?" tanya Aditia ketus.
"Mau numpang sarapan!" jawabnya seraya menarik salah satu kursi meja makan tersebut, lalu duduk.
"Jauh-jauh cuman mau numpang sarapan? Kere banget Lo!" ledek Aditia. Seraya mulai menguapkan roti ke dalam mulutnya.
"Kagak-kagak. Gue becanda, gue udah sarapan kok tadi. Di buatin sama yayang Bella."
"Cepat halalkan Bella Za, gak baik elo tinggal satu atap belum ada ikatan, gue gak yakin sama elo," ujar Aditia.
"Hehe, siap kakak ipar. Ini maksud kedatangan ku pagi-pagi kesini, mau membicarakan hal itu," sahut Reza, sambil mengambangkan senyumannya.
Bersambung...
Maaf ya, baru up.
Sebenarnya up dari kemarin, cuman di tolak sistem Mulu. Bab ini jadi pendek karna aku pangkas setengah. huhu..
Jangan lupa like, komen dan vote ya.
Terima Kasih.
Oh iya guys...
Sambil nunggu kelanjutannya Dinda dan Aditia.
Boleh mampir dulu ke novel aku yang lainya yuk.
__ADS_1