
"Maafkan aku, aku tidak bisa menjemputmu tadi," ucap seorang laki-laki, pada Lis seraya menampakkan wajah penyesalannya.
"Tidak apa-apa, aku mengerti kamu sibuk!" jawab Lisa seraya tersenyum melihat laki-laki itu.
"Ya sudah ayo kita ke masuk," ajaknya seraya mengandeng tangan Lisa dengan mesra. Lisa mengangguk, mereka pun berjalan masuk ke Rumah sakit tersebut. Ya, hari ini Lisa ada jadwal cek kandungan.
Ditemani oleh Ayah dari si jabang bayi, mereka terlihat mengantri, menunggu panggilan dari Dokter.
Bayu Maulana, berusia 30 tahun. Dia adalah suami Lisa. Mereka sudah beberapa bulan menikah, dan syukurnya mereka langsung di berikan kepercayaan oleh Tuhan, hadirnya calon anak mereka, yang masih di kandungan Lisa, menjadi anugerah di tengah-tengah mereka.
Bayu sebenarnya Kakak angkat Lisa, tepatnya anak angkat orang tua Lisa dulu. Namun saat mau menginjak sekolah menengah atas, Bayu menemukan orang tua kandung, orang tua Bayu membawanya, Bayu ke kota B. Jadi saat itu Bayu sempat hilang komunikasi dengan kedua orang tua angkatnya itu.
Setalah lulus kuliah, kedua orang tua kandung Bayu meninggal. Saat itu Bayu bertekad untuk mencari orang tua angkatnya, tapi Bayu tidak menemukannya.
Hingga beberapa tahun kemudian, Bayu mendapatkan informasi tentang orang tua angkatnya itu, namun naasnya saat Bayu menemui mereka. Keadaan Bapak angkatnya sedang tidak baik, hingga akhirnya menghembuskan napas terakhirnya. Namun sebelum itu, orang Bapak angkatnya meminta Bayu untuk memenuhi permintaan terakhir. Yaitu menikahi Lisa.
Awalnya Bayu ragu, karna ia sama sekali tidak mencintai Lisa, dan yang ia ketahui dari informasi yang ia dapat, bahwa Lisa sudah menikah.
"Bayu, Bapak minta satu permintaan sama kamu, sebelum Bapak pergi," lirih sang Ayah lemah, kala itu.
"Pak, jangan bicara seperti itu, Bapak pasti sembuh," dengan wajah yang ketakutan, Bayu menggenggam tangan Bapak angkatnya itu.
"Tolong, menikahlah dengan Lisa," lirihnya semakin lemah.
"Tapi Pak..." Bayu menjeda ucapannya, ia melihat pada Bapak angkatnya, lalu melihat kepada Lisa. Ragu, tentu saja Bayu sangat ragu mengiyakan permintaan Bapaknya itu.
'Menikah dengan Lisa?' Bukankah wanita itu sudah bersuami.
"Kak Bay, tolong turuti saja permintaan Bapak," mohon Lisa, saat Bayu melihat kearahnya.
"Aku bersedia menikah dengan Kakak," lanjutnya. Entahlah, Lisa mengatakan hal itu tanpa berpikir, berkata begitu saja. Padahal permintaan itu, bukan permintaan sembarangan.
Akhirnya Bayu mengangguk. Membuat seulas senyum tipis terulas dari wajah pucat Bapak angkatnya itu.
Namun senyuman itu seketika menghilang, dan beberapa detik kemudian, Bapaknya menutup matanya perlahan. Dan setelah itu, Bapak dinyatakan meninggal dunia.
Hingga setelah kepergian mendiang sang Ayah, Bayu menikahi Lisa. Awalnya antara mereka hanya biasa-biasa saja. Tidak ada perasaan cinta di antara keduanya, pada saat itu, hati Lisa masih terikat dengan Aditia. Melupakan tak semudah membalikan telapak tangan bukan? Namun perhatian, sikap baik Bayu, perlahan bisa mengikis hati Lisa untuk Aditia, perlahan Lisa mulai tergoyah, hingga akhirnya Bayu berhasil mencuri hati Lisa. Keduanya saling jatuh cinta.
__ADS_1
Kehidupan Lisa dan Bayu, bisa di bilang, Sederhana tapi Bahagia. Kehidupan bisa di bilang sudah cukup, walaupun jauh dari kata Mewah.
Bayu benar-benar bisa membuat Lisa merasa di cintai kembali. Bayu pun tidak pernah mempersalahkan status Lisa yang seorang janda dan dirinya perjaka.
Bayu menjadi sosok suami yang sangat di cintai Lisa saat ini.
"Ibu Lisa..." panggil Dokter. Membuat Lisa langsung buyar dari lamunannya.
"Ayo Sayang," ajak Bayu. Ia merangkul Lisa, lalu mereka berjalan masuk ke dalam ruangan Dokter tersebut.
Lisa menjalankan pemeriksaan seperti wanita hamil pada umumnya. Dokter mengatakan kalau bayi twins yang ada di kandungan Lisa, perkembangan sangat bagus. Lisa dan Bayu tersenyum bahagia saat mendengar ucapan Dokter tersebut.
Setelah selesai, Bayu dan Lisa langsung berpamitan pada Dokter tersebut, mereka melangkah keluar dari ruangan Dokter.
"Kakak langsung ke kantor lagi?'' tanya Lisa, mereka kini tengah berjalan menelusuri kolidor Rumah sakit, menuju keluar.
"Tidak Lis."
"Tadi pas Kakak izin mau nemenin kamu ke sini, atasan Kakak malah mengizinkan Kakak untuk tidak ke kantor lagi hari ini. Jadi sekarang kita pulang!"
"Iya Lis, Alhamdulillah."
"Eh tapi Kak, kita mampir ke Mall bentar ya! Lisa mau beli sesuatu."
"Iya boleh Sayang, sekalian belanja bulanan saja gimana? Kebetulan Kakak hari ini sudah terima gajih plus dapat tambahan bonus lumayan besar!"
"Boleh Kakak, tapi kita belanja kaya biasa aja ya. Uangnya kita simpan saja, tabungkan saja Kak. Buat biaya persalinan Dede bayi nanti."
"Kamu tenang saja. Insyaallah, untuk biaya persalinan Kakak sudah siap, dan untuk kali ini Kakak mau bahagia kamu, Kakak janji kamu mau apa aja, Kakak akan belikan!"
"Tidak usah Kak. Aku sedang tidak ingin apa-apa sekarang. Aku hanya ingin Kakak terus di sampingku," ucap Lisa menatap mata Bayu lekat.
"Kalau itu jangan di minta, tanpa kamu minta pun, Kakak akan terus di samping kamu." Bayu mengelus puncuk kepala Lisa, Lalu mendaratkan kecupan di kening istrinya itu.
"Terima kasih, Kak."
"Sama-sama, ayo pakai dulu helm-nya." Bayu mengarahkan helm pada kepala istrinya itu, dan memakainya. Lisa nampak senyuman bahagia.
__ADS_1
"Ayo naik," lanjutnya. Lisa mengangguk, lalu ia naik ke motor suaminya itu. Bayu yang sudah siap mulai menghidupkan mesin kuda besinya itu. Lalu melaju motornya meninggalkan Rumah sakit tersebut.
Lisa melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya itu. Mereka berbincang sambil menikmati perjalanan mereka.
Lisa sadar, kebahagian itu tidak bisa di ukur dengan uang, kemewahan, dan jabatan. Bahagia itu sederhana, menurut versi Lisa yang sekarang, naik motor bersama suaminya itu, sudah lebih dari cukup bahagia untuk Lisa.
Berbeda dengan Lisa versi dulu, tentu saja dia tidak akan Sudi, naik motor seperti. Apalagi dengan cuaca yang sangat panas seperti sekarang.
POV Lisa.
Semua orang pernah membuat kesalahan, begitu juga aku. Aku hanya manusia biasa, yang tak luput dari dosa.
Aku tidak pernah mengira, jika aku akan kembali merasakan indahnya dunia, apa lagi dengan orang yang aku cintai.
Kak Bayu, dia suamiku.
Kami menikah tanpa cinta, tapi seiring berjalanya waktu cinta itu datang mengikat hati kita.
Memang benar, Tuhan maha membolak-balikkan hati manusia.
Dan, Mas Aditia. Jujur awalnya aku pikir aku dia adalah laki-laki terbaik untukku, iya dia memang baik. Aku tidak berkata dia buruk! Terbaik menurut seseorang itu mempunyai versi berbeda-beda bukan?
Ada yang mengatakan, lebih baik di cintai dari pada di mencintai. Dan, lebih baik mencintai dari pada di cintai. Tapi menurutku, itu tidak ada lebihnya. Percayalah, kedua ucapan itu, sama-sama menyakiti.
Menurutku, 'Lebih baik saling mencintai' itu kata yang tepat, untuk menggambarkan kebahagiaan.
****
Bersambung...
Like
Komen
Vote
Terima Kasih.
__ADS_1