
"Tunggu Dinda!" Teriak Lisa lagi. Lisa menarik Dinda sekuat tenaga hingga Dinda jatuh dihadapannya. Dinda terdiam, merasakan tangan Lisa yang melingkar di tubuhnya, wanita itu terisak tangis.
"Dinda, aku mohon bantu aku, jangan biarkan mas Aditia menceraikan aku. Aku mencintainya." Lirih Lisa. Memohon dalam pelukan madunya itu.
'Astaghfirullah, ya tuhan. Maafkan aku, aku sudah berpikir yang tidak-tidak pada mbak Lisa, aku pikir mbak Lisa akan melukaiku.' Batin Dinda.
"Ada apa ini?" Terdengar suara mengelegar dari arah pintu masuk ruangan tersebut. Lisa melepaskan pelukannya pada Dinda perlahan, lalu mereka menoleh kearah sumber suara tersebut.
"Mas," ucap mereka bersamaan.
Ya Aditia baru saja datang, karna ia takut terjadi yang tidak-tidak kepada Dinda, takut Lisa menyakiti istri mudanya itu, mengingat kondisi Lisa, Aditia--pun memutusakan untuk menyusul Dinda ke rumah sakit, meninggalkan semua perkerjaan di kantor.
Dan Aditia sangat terkejut, melihat istri tuanya yang menangis sendu di pelukan sang istri muda.
"Tidak ada apa-apa kok mas," jawab Dinda sambil tersenyum, lalu diangguki oleh Lisa yang mengiyakan ucapan madunya itu.
"Syukurlah, Dinda sebaiknya kamu pulang." Titah Aditia.
"Tapi mas--"
"Saya bilang pulang!" Aditia meninggikan volume suara, sedikit membentak Dinda. Bukan apa-apa, Aditia hanya takut jika Dinda lama-lama bersama Lisa, hal buruk akan menimpa pada istri mudanya itu.
__ADS_1
Dinda pun akhirnya mengangguk pasrah, lalu ia berpamitan kepada Lisa dan Aditia.
"Mbak Lisa, aku pulang dulu ya. Cepet sembuh mbak," ujar Dinda.
Lisa menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum. "Din, tolong pikirkan soal yang tadi."
Dinda hanya mengangguk sebagai jawaban, "mas, aku pulang." Pamit Dinda pada suaminya.
"Hmm," sahutnya. Dinda meraih tangan Aditia menyalami dengar takzim. "Kamu diantar oleh sekertaris saya saja. Dia sudah menunggu kamu di depan." Lanjut Aditia.
"Iya mas. Asalamua'allaikum."
"Walaikum'salam."
"Mari nyonya." Ujar Reza, mempersilahkan Dinda berjalan terlebih dahulu. Mereka pun berjalan keluar dari rumah sakit tersebut.
"Bicara apa kamu sama Dinda?" Tanya Aditia, dengan suara yang terdengar dingin.
"Tidak bicara apa-apa kok mas, aku hanya meminta maaf pada Dinda, atas semua yang sudah aku perbuat selama ini." Jawab Lisa, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Mas, apa kita bisa seperti dulu lagi?" Lanjut Lisa bertanya, ia meraih tangan suaminya itu.
__ADS_1
"Mas kita mulai lagi dari awal rumah tangga kita, maksudku rumah tangga kita bertiga. Aku, kamu dan Dinda, aku berjanji akan memperbaiki semuanya." Lisa menggenggam tangan suaminya dengan erat.
Aditia terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Sebelum kehadiran Dinda, memang rumah tangganya dengan Lisa sudah sangat bahagia, Lisa wanita yang paling di cintainya.
"Mas tuhan saja maha pemaaf, tuhan saja selalu memberikan kesempatan ke setiap umat yang ingin memperbaiki hidupnya, aku mohon mas, beri aku kesempatan itu, aku masih mencintaimu mas. Sangat mencintaimu, aku tidak mau berpisah dengan kamu." Lirih Lisa lagi, dengan air mata yang kini sudah mengalir deras, penyesalan begitu terlihat dari sorot matanya. Tapi apakah Lisa benar-benar sudah menyesali semuanya? Entahlah, hanya dia dan tuhan yang tau, eh hanya dia dan author yang tau.
Namun lagi-lagi Aditia masih terdiam, benar. Apa yang dikatakan Lisa memang benar, haruskan Aditia memberikan kesempatan untuk Lisa? Jika untuk memaafkan, Aditia memang sudah memaafkannya. Tapi jika Aditia memberikan kesempatan itu, apa Lisa akan benar-benar berubah? Selama bertahun-tahun Lisa bisa menyembunyikan indentitas keluarganya, bukankah wanita itu pembohong yang sangat handal. Membohongi Aditia dan kedua orang tuanya. Mengatakan kalau dirinya yatim piatu, padahal pada kenyataannya, orang tuanya masih hidup. Bahkan Lisa tega menelantarkan kedua orang tuanya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan, sementara dirinya hidup bergelimang harta. Ya walaupun harta tersebut bukan miliknya, tapi milik Aditia suaminya. Tapi bukankan uang suami adalah uang istri!
"Mas kenapa kamu diam? Apa sebegitu bencinyakah kamu sama aku mas? Apa segitu besarkah kesalahanku, sehingga kamu tidak mau memaafkan aku?" Lisa semakin menangis sendu, hatinya bagai teriris sembilu. Dulu, suaminya itu begitu memujanya, mencintainya, menyayanginya. Dan kin lihatlah. Begitu cepatlah tuhan membalikan hati suaminya itu?
"Lisa, aku tidak membencimu, aku sudah memaafkan kamu," jawab Aditia. Kembali membuka suaranya, ada rasa tak tega melihat Lisa, Aditia pun langsung mendekapnya. Dilema itulah yang Aditia rasakan sekarang, memang setiap orang pernah berbuat salah, bahkan manusia memang tempatnya dosa, apa Aditia harus menerima dan memberi kesempatan untuk Lisa kembali?
"Lalu kenapa mas? Kenapa kamu tak memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya?" Lirih Lisa, disela isak tangisnya.
'Tuhan, harus bagaimana aku sekarang? Haruskah aku menerima Lisa kembali, berikan aku jalan yang terbaik tuhan!' gumam Aditia. Seraya mempererat pelukannya pada Lisa.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan Votenya.
Terima kasih.
__ADS_1
Hayoloh, Lisa ternyata masih punya nurani guys. Author jadi bingung ini? Ada rasa kasian juga sama si Lisa, ah author jadi ikut-ikutan Aditia deh, Dilema. Huurfff
Crazy up gak nih?