Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 30. Tentang Lisa


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Setelah memastikan kondisi Lisa sudah tenang, barulah Aditia pulang. Aditia sengaja tidak pulang ke rumahnya, ia lebih memilih pulang ke rumah orang tuanya, beberapa hari ia tak jumpa dengan Dinda sang istri keduanya itu, rasa rindu kian melanda, bukan hanya itu, Aditia juga akan memberi tahu kondisi Lisa pada kedua orang tuanya.


Aditia melangkah gontai memasuki rumah orang tuanya, wajahnya terlihat sangat leleh.


Bagaimana tidak? Beberapa hari ini ia benar-benar sibuk, dari mengurus perusahaan yang sedang mengalami masalah, ditambah ia bolak-balik menuju rumah sakit, karna hampir setiap hari istri pertamanya itu selalu mengamuk dan histeris. Waktu 24 jam, rasanya sangat singkat untuk Aditia.


"Loh Aditia, kok kamu di sini?" Tanya mamah Amira, menatap putranya itu dengan bingung. Ini bukan hari ia bermalam dengan Dinda.


Aditia tak menjawab, ia mengusap wajahnya, lalu ia duduk di samping mamahnya. Aditia menghelai nafas beratnya.


"Ada apa?" Tanya mamah Amira lagi, mengamati wajah sang anak yang terlihat banyak beban, serta kelelahan itu.


"Gimana hmm? Pusingkan punya istri dua?" Timpal papah Mendera seraya mengambangkan senyuman, menggoda putranya itu.


"Lisa Pah, mah!" Ucap Aditia.


"Kenapa lagi dia? Bukannya kondisi sudah membaik hmm?"


"Sebaiknya kamu segara ceraikan dia, kalau kondisinya sudah baik. Fokus saja sama Dinda, di saat masa kehamilan mudanya, dia butuh sekali sosok suami." Timpal mamah Amira.


"Iya, aku juga berpikir seperti itu mah, Pah." Jawab Aditia seraya menyugar rambutnya, ia benar-benar pusing, bingung. Mengingat kondisi Lisa, secara pisik memang sudah membaik tapi secara mental, kondisinya sangat mengkhawatirkan dan memprihatinkan.


"Lalu?" Sahut mamah Amira.


"Aku tidak mungkin menceriakan Lisa saat ini mah, kondisinya sangat buruk!"


"Buruk bagaimana maksud kamu? Mamah kemarin ke rumah sakit keadaan sudah baik. Sudah seperti biasa, lalu apa? Kamu berubah pikiran? Apa kamu begitu mencintai dia? Persetan dengan cinta. Bodoh!" Kesal mamah Amira.


"Bukan seperti itu mah, secara pisik memang sudah sembuh, tapi mentalnya tidak, jiwanya terganggu mah. Kata dokter dia mengalami depresi, akibat terlalu tertekan." Aditia mencoba menjelaskan kondisi istri pertamanya itu kepada kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Maksud kamu Lisa gila?" Sahut mamah Amira terkejut, begitu juga dengan papah Mehendra, mereka menatap Aditia penuh tanya.


"Tidak mah, hanya depresi saja. Lisa tidak gila. Hanya saja jika kita berbicara yang membuatnya tak terima, atau hatinya menolak dan pikiran tertekan, Lisa histeris, dia mengamuk di rumah sakit." Jelas Aditia.


"Tertekan? Apa yang membuatnya tertekan. Bukannya selama ini dia itu hidupnya senang. Masalah dia yang di madu, itukan maunya dia. Lagian bukannya dia selalu menindas Dinda, memperlakukan Dinda semana-mena, lalu tertekannya dari mana? Hidupnya juga senang, setiap hari berpoya-poya, hobinya belanja. Tuh beberapa hari lalu, dia memakai uang sampai ratusan juga dalam sehari, gak tau buat beli apa!" Sinis mamah Amira.


"Uang ratusan juta mah?" Aditia terlihat terkejut sekaligus bingung. Untuk apa Lisa menggunakan uang sebesar itu?


"Iya. Sudahlah Aditia, paling dia cuman akting, diakan wanita bermuka dua. Kalau kamu tetap percaya padanya, sandiwara. Fix mamah menyesal sudah melahirkan kamu, ya sangat bodoh!"


"Mah, jangan bicara seperti itu." Sahut papah Mahendra, suaminya.


"Memang kenyataannya Pah," ucap mamah Amira tak mau kalah. Papah Mahendra hanya mengelengkan kepalanya. Sementara Aditia, ia terlihat melamun, dengan wajah yang terlihat frustasi.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?" Tanya papah Mehendra pada putranya.


"Entahlah, mungkin Aditia akan menunda untuk menceraikan Lisa, menunggu kondisi Lisa baik."


"Aditia ke kamar dulu," pamit Aditia. Diangguki oleh papah Mahendra, sementara mamah Amira, ia menatap kesal kepada putranya itu.


Aditia berlalu dari hadapan kedua orang tuanya itu, ia berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya yang kini di tempati oleh sang istri keduanya, yaitu Dinda.


Klek..


Aditia membuka pintu kamar tersebut, lalu masuk ke dalam kamar. Ia mencari sosok sang istri mudanya itu, 'kemana Dinda?' ucap Aditia dalam hatinya.


Aditia berjalan menuju kamar mandi, namun saat ia akan membuka kamar mandi tersebut, pintu kamar mandi terkunci, Aditia mendekatkan telinganya kearah pintu, terdengar suara percikan air dari dalam kamar mandi tersebut, menandakan bahwa ada orang di dalam sana, sudah di pastikan itu Dinda.


Dinda baru saja selesai melakukan ritual mandinya, entah mengapa Dinda merasa malam ini begitu sangat panas, padahal AC di kamarnya itu sudah di buat sangat dingin.


Sebenarnya usai mandi juga Dinda masih merasakan gerah, dan rasanya ia ingin terus berdiam diri di kamar mandi, tapi tidak mungkin. Itu tidak baik, apa lagi ini malam hari.

__ADS_1


Dinda memakai handuk kimono, serta handuk kecil yang di lilitkan di atas kepalanya, menutupi rambutnya yang masih basah itu. Lalu Dinda menarik kenop pintu kamar mandi.


"Astagfirullah," ucap Dinda terkejut. Melihat Aditia sang suami yang sudah berdiri di depannya, Aditia terlihat menarik ujung bibirnya tersenyum kepada Dinda.


"Hay sayang..." Ucap Aditia.


"Mas, kamu ngapain berdiri di situ?" Bukan membalas sapaan suaminya, namun Dinda malah bertanya.


"Pengen aja!" Jawab Aditia apa adanya.


"Terus mas ngapain kesini? Inikan bukan jadwal mas malam sama aku!" Tanya Dinda lagi.


"Pengen aja!" Aditia menjawab dengan ucapannya yang sama. Membuat Dinda terlihat kesal kepadanya. Tapi Dinda tak bisa membohongi dirinya sendiri, ada rasa bahagia suaminya datang, Dinda merindukannya. Eh bukan Dinda, tapi calon anak mereka. Ya begitulah sekarang pemikiran Dinda, jika ia merasakan rindu kepada Aditia, sang anak akan menjadi alasan tentang kerinduan itu, konyol. Tapi mungkin itu salah satu cara membuatnya bisa melupakan rasa cintanya kepada Aditia, semua yang kini Dinda rasakan, itu akibat kehamilannya bukan dirinya, Dinda akan menipis semua rasa cinta untuk Aditia.


"Mas jangan disitu!"


"Kenapa?''


"Aku mau lewat, susah."


"Okelah sayang," ucap Aditia, ia menggeser dirinya memberikan jalan untuk Dinda, "silahkan tuan putri." Lanjutnya seraya membungkuk hormat ala-ala pangeran dan tuan putri.


Dinda hanya terkekeh, lalu ia berjalan melewati suaminya, Aditia menelan silivanya saat melihat Dinda yang hanya menggunakan handuk kimono, leher jenjang yang putih dan mulus terekspose jelas. Membuat adik kecil di sana meronta, menegang seketika. Apa lagi pas ia melihat belahan gundukan kembar yang terlihat indah di sana. Ah sudahlah, Aditia menepis pikiran mesumnya itu, 'payah kau, baru liat segitu saja sudah aktif,' gumam Aditia, seraya memegangi adik kecilnya itu.


Lalu ia pun masuk ke dalam kamar mandi.


Bersambung..


Maaf baru sempat up, setelah anakku sembuh, eh malam aku yang kena. Tapi aku jariku gatel, pen nulis dan up. Hehe...


Jangan lupa like, komen dan Votenya ya.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2