
"Jadi kamu lebih percaya Lisa, dari pada kami orang tua kamu hah?" Bentak papah Mahendra.
"Maaf Pah, aku lebih percaya sama Lisa. Karna aku yakin Lisa tidak mungkin melakukan hal seperti yang kalian tuduhkan," jawab Aditia. Bodoh, Aditia bagai di perbudak oleh cintanya kepada Lisa.
Lisa tersenyum smirk. Ia bersorak dalam hatinya, ia berhasil membuat Aditia seratus persen percaya padanya.
"Oh iya bukannya di rumah ini ada CCTV, mari kita buktikan kebenarannya!" Ungkap mamah Amira.
Wajah Lisa mulai berubah, 'sial, jangan sampai mas Aditia melihatnya, aku harus cari cara!' batin Lisa.
"Awww..." Rintih Lisa, sambil memegangi kepalanya. Ya Lisa mulai melancarkan aksinya kembali, berpura-pura sakit. Agar suaminya merasa khawatir dan mereka tak jadi menunjukan rekaman CCTV tersebut kepada suaminya.
"Sayang kamu kenapa?" Tanya Aditia, ia terlihat begitu Khawatir.
"Mas, kepalaku sakit sekali." Dusta Lisa. Berpura-pura kesakitan.
"Sudahlah Lisa, cukup. Jangan berpura-pura lagi," sahut mamah Amira. Dia tau kalau menantunya itu berpura-pura, agar posisinya tidak terancam. Jika sampai Aditia melihat rekaman CCTV tersebut.
"Mah cukup," bentak Aditia.
"Ayo sayang aku antar kamu ke kamar, kamu istirahat." Ajak Aditia, langsung diangguki oleh Lisa. Aditia pun mengantarkan istrinya menuju kamar, menyuruh Lisa beristirahat.
"Sayang maafkan kedua orang tua mas ya! Perkataan mereka pasti sangat menyakitimu," tutur Aditia.
"Tidak apa-apa kok mas, aku sadar kalau aku bukan menantu yang mereka inginkan lagi. Pantas jika papah dan mamah berkata seperti itu, karna wanita yang tak sempurna mas, bahkan aku tidak bisa memberikan kamu anak," lirih Lisa.
__ADS_1
"Hey, jangan bicara seperti itu, kamu wanita paling sempurna sayang." Aditia menangkubkan kedua tanganya di pipi istrinya itu.
"Sekarang kamu istirahat ya, nanti mas suruh bibi untuk mengantarkan obat untuk kamu. Mas berangkat ke kantor lagi ya!" Pamit Aditia, dijawab anggukan kelapa oleh Lisa. Aditia pun berlalu dari kamar tersebut.
'Ya tuhan, kenapa semuanya jadi seperti ini? Kenapa mamah dan papah bersikap seperti itu kepada Lisa? Padahal sebelumnya mereka tak pernah begitu, ini semua gara-gara wanita itu, pasti dia sudah menghasut mamah dan papah,' gumam Aditia. Aditia mengambil berkas yang tertinggalnya tadi, setalah itu ia meminta bi Santi mengantarkan obat untuk istri pertamanya.
Sementara itu, mamah Amira, papah Mahendra dan Dinda mereka kini tengah duduk di ruang tengah. Dinda duduk di ampit oleh kedua mertuanya itu, mamah Amira mengusap punggung Dinda. 'Maafkan saya Dinda, saya tidak tau jika semuanya akan seperti ini,' gumam mamah Amira.
"Aditia papah mau bicara!" Ujar papah Mahendra kepada Aditia yang berjalan menuruni anak tangga.
"Nanti saja Pah, aku harus ke kantor sekarang." Tolak Aditia, memang benar adanya, pagi ini Aditia ada metting penting dan ia sudah hampir telat.
"Aditia kamu sudah berani membatah papah hah?" Papah Mahendra terlihat marah.
"Dengar Aditia kamu harus bisa tegas kepada kedua istrimu, kamu harus adil kepada Dinda juga, sekarang dia istri kamu!" Lanjut papah Mahendra. Aditia terdiam, ia tak menyahut.
"Mah, apa mamah bercanda?" Aditia malah berbalik bertanya, menganggap ucapan mamahnya itu hanya gurauan semata.
"Mamah tidak bercanda Aditia. Kalau sampai kamu tidak bisa membuat Dinda hamil dalam waktu yang mamah berikan itu, maka kamu harus bercerai dengan kedua istri kamu."
Wajah Aditia mulai memerah, amarah mulai bergejolak di diri Aditia. Bagaimana tidak, dalam waktu satu sampai tiga bulan, waktu yang sangat singkat bagi Aditia. Aditia harus bisa membuat Dinda hamil. Bagaimana ia bisa membuat Dinda hamil tidur dengan wanita itu saja enggan rasanya, walaupun Dinda sudah sah menjadi istrinya. Tapi jika tidak, Aditia akan kehilangan kedua istrinya, kehilangan Dinda tidak masalah baginya, mamang itu yang di harapkannya, tapi Lisa? Tidak, sampai kapanpun Aditia tidak ingin berpisah dengan istri pertamanya itu. Aditia sangat mencintai Lisa.
"Oke Aditia akan ikutin permintaan kalian. Tapi ada syaratnya!'' ucap Aditia.
"Jika wanita itu hamil dan melahirkan anakku, maka mamah dan papah harus setuju Aditia menceraikan-nya," lanjut Aditia sambil menunjuk kearah Dinda.
__ADS_1
"Tidak, apa kamu gila hah. Dinda ibunya, kamu tidak bisa memisahkannya." Tolak mamah Amira. Ia benar-benar tak habis pikir dengan pemikiran putranya itu.
"Harusnya setelah Dinda melahirkan anak kamu, yang kamu ceraikan itu Lisa. Bukan Dinda. Ceraikan saja istri pertama kamu itu sekarang! Mamah tidak suka dengan sikapnya yang bermuka dua," lanjut mamah Amira.
"Stop mah, Lisa tidak seperti itu." Tegas Aditia.
Dinda yang melihat pertengkaran suami dan kedua mertuanya itu, akhirnya membuka suara. Dinda tak mau hubungan anak dan orang tua itu menjadi hancur, karna dirinya.
"Saya setuju, jika nanti saya hamil dan melahirkan, mas Aditia bisa menceraikan saya.'' Ucap Dinda, bukan tanpa alasan Dinda berkata seperti itu, mendengar perkataan Aditia seperti sampai kapan pun suaminya itu tidak akan pernah bisa menerimanya.
Dinda pasrahkan semuanya kepada yang maha kuasa, jika memang dia ada jodoh dengan Aditia, tuhan pasti akan mempersatukan kembali mereka, sesulit apapun keadaannya dan jika tidak Dinda akan menerima semuanya.
"Bagus!" Sahut Aditia sinis. Dan ia berlalu dari hadapan kedua orang tua dan istri mudanya itu.
Sementara itu, sedari tadi sepasang mata dan telinga, menyaksikan percakapan mereka. Lisa, Lisa tersenyum penuh kemenangan mendengar semua percakapan Aditia, yang memberikan syarat tersebut. Apa lagi mendengar madunya menyetujuinya. Lisa merasa keberuntungan sangat berpihak kepadanya.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan votenya ya guys ya!!
Terima kasih yang selalu menunggu kelanjutan kisah Dinda. Terima kasih juga buat kalain yang sudah memberi like, komen dan Votenya. Jangan bosen-bosen ya!!
Maaf ya aku gak bisa balas komen kalian satu persatu, tapi percayalah aku selalu membaca komen kalian, komen kalian the best banget deh, aku suka ketawa-ketawa sendiri baca komen kalian. Hehe
Salam sayang dari author remahan ini.
__ADS_1
I love you so much...
Muaacchhhh...