
"Masih ingat wajahku baby?" Laki-laki itu terlihat menatap Bella dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Oh ya, tentu saja kamu pasti mengingatku, secara aku inikan tampan," lanjutnya memuji dirinya sendiri.
"Mau apa kamu? Kenapa kamu membawa aku ke sini?" Cerca Bella dengan wajah ketakutannya.
"Kau masih bertanya kenapa aku membawamu kesini baby? Tentu saja aku meminta pertanggung jawaban darimu!"
"Pertanggung jawaban apa?"
"Sudahlah, jangan berkilah. Oh iya, apa anak yang berada dikandunganku itu anakku?''
"Bukan!" Jawab Bella dengan cepat.
"Benarkah?" Senyuman smirk terulas dari wajah tampan laki-laki tersebut, "itu bukan anakku, berarti aku boleh dong menyakitinya!" Lanjutnya seraya lebih mendekat kearah Bella.
"Ma--mau apa kamu?"
"Tentu saja aku akan melenyapkan bayi itu, karna itu bukan bayiku, untuk apa aku memeliharanya," jawab laki-laki tersebut dengan santainya.
"Jangan! Jangan sakiti bayiku. Iya ini anak kamu. Lalu kamu mau apa hah?" Teriak Bella masih dengan ketakutan. Walaupun dirinya jauh dari kata wanita baik, tapi Bella tidak mau bayi yang dikandungnya itu disakiti, sekali pun bayi itu bukan benih dari laki-laki yang dihadapinya, tapi sayangnya memang benar bayi yang ada dikandungannya itu benih dari laki-laki tersebut. Laki-laki yang sudah merenggut kesuciannya, eh bukan lebih tepatnya, dirinya sendiri yang telah memperkosa laki-laki itu. Hingga ia kehilangan kesuciannya.
Flashback.
"Ya tuhan kenapa badanku panas semua," ucap Bella seraya membuka kancing kemeja satu persatu, Bella kini tengah berada di salah satu club' malam. Ia dan teman-temannya baru saja bersenang-senang, namun naasnya Bella diberikan obat perangsang oleh salah satu temannya yang tidak menyukainya.
Bella kini tengah duduk di kursi batender, lalu seseorang terlihat menghampirinya, laki-laki tampan, namun bisa dipastikan laki-laki itu seorang Cassanova, sudah bisa dilihat dari cara berbicara dan cara bergayanya.
"Hay nona." Sapa laki-laki tersebut. Namun Bella tak menyahut, Bella benar-benar merasakan hawa tubuhnya sangat panas.
"Hey, kanapa kamu membuka kancing kemejamu?" Tanya laki-laki itu lagi, seraya menelan silivanya, melihat jelas gundukan kembar milik Bella yang sangat sempurna.
"Panas, kenapa tubuhku panas sekali, tolong aku." Ujar Bella.
"Panas?"
"Iya, tolong aku, aaahh..."
'Ada apa dengan wanita ini, dari gelagatnya dia seperti habis minum obat perangsang. Baiklah malam ini memang malam yang menguntungkan bagiku, baru datang sudah dapat mangsa,' gumam laki-laki tersebut.
"Ayo ikut aku," ajak laki-laki itu, seraya menarik tangan Bella. Bella hanya menurut mengikutinya, mereka berjalan ke sebuah kamar khusus yang berada di club' malam tersebut.
******* demi ******* terdengar, dengan sangat agresifnya Bella menyerang laki-laki tersebut, laki-laki itu membalas semua serangan nikmat yang diberikan Bella. Hingga mereka kini sudah polos tanpa sehelai kain pun yang menutupi tubuh keduanya.
"Aww...." Teriak Bella, saat laki-laki itu memasukan pusakanya ke lubang kenikmatan milik Bella.
__ADS_1
"Sial, dia masih perawan." Ucap laki-laki tersebut, ia merasa bersalah telah merenggut selaput dara milik Bella, tapi ia sudah tak bisa lagi menahan hasrat yang sudah membara, hingga ia pun melanjutkannya.
Hingga akhirnya mereka pun melakukan penyatuan, keduanya terkurai lemas. Hingga pada saat laki-laki itu terbangun, ia sudah tidak lagi menemukan Bella disisinya.
'Sial kemana dia? Ah mana aku lupa memakai pengaman lagi, bagiamana kalau dia hamil. Aku tidak akan melepaskan wanita nakal, kamu sudah menikmati tubuhku, bahkan kau tidak mengucapkan terima kasih sama sekali. Aku akan mencari kamu, walaupun sampai ujung dunia!'
Flashback off.
"Akhirnya kamu mau mengaku juga! Aku akan menikahimu, aku akan mempertanggung jawabkan semuanya!" Ucap laki-laki tersebut.
"Apa?" Bella terkejut, ia membulatkan netranya.
"Iya, apa aku salah berbicara seperti itu hmm?'' Laki-laki itu berbicara dengan santainya.
"Tidak, aku tidak mau menikah dengan kamu. Lagian aku sudah menikah kau tau hah!"
"Iya aku tau, tapi kamu juga sudah di ceraikan oleh dia bukan, jadi tidak ada salahnya aku menikahimu.''
"Tidak, tetap saja aku tidak mau. Aku sangat mencintai suamiku, aku tidak mau nikah dengan kamu. Lagian kamu siapa hah?" Keukeh Bella menolaknya, ia sangat mencintai Riki. Walaupun Riki sudah menceraikannya, tapi Bella tidak akan menyerah, ini bukan akhir untuknya, Bella akan mendapatkan Riki kembali.
"Cinta! Persetan dengan cinta." Ejek laki-laki tersebut, "kamu tidak tau aku siapa? Oke mari kita berkenalan dulu," lanjut laki-laki tersebut seraya mengulurkan tangannya kearah Bella.
"Perkenalkan aku Re---"
"Aku tidak mau tau siapa kamu!" Pekik Bella, memotong ucapan laki-laki yang dihadapannya itu, lalu menepis tangannya kasar.
Bella tersenyum sinis, menanggapi ucapan laki-laki tersebut.
"Baiklah, aku masih banyak urusan. Jika kamu butuh apa-apa, panggil saja pelayan. Aku akan kembali nanti malam, jaga anakku dengan benar, jangan sampai dia kelaparan karna ke egoisan kamu." Lanjutnya, lalu berlalu keluar dari kamar tersebut.
Bella menatap kesal kepergian laki-laki tersebut. Bisa-bisanya ia bertemu lagi dengannya, meminta pertanggung jawaban pula, memangnya apa salah Bella? Bahkan Bella sudah memberikan selaput daranya.
"Re--"
"Sial siapa sih tadi namanya?"
"Sudahlah, siapa pun namanya. Aku tidak peduli yang pasti dia seperti tidak akan menyakitiku. Mungkin semantara waktu aku tinggal di sini saja dulu, sampai aku menemukan cara agar aku bisa kembali lagi dengan kak Riki. Nyaman juga disini. Apa laki-laki itu, laki-laki kaya ya?" Ucap Bella ia bermonolog dengan dirinya sendiri.
***
Dinda kini sudah berada di depan gerbang rumah orang tua mantan calon suaminya.
Sebenarnya Dinda ragu akan berkunjung ke rumah tersebut, tapi apa boleh buat demi menemui sang adik. Yang menurutnya tinggal di rumah tersebut.
"Asalamua'allaikum." Teriak Dinda.
__ADS_1
"Walaikum'salam," jawab seorang Security yang berkerja di rumah mewah milik orang tua Riki tersebut.
"Eh nona Dinda," sapanya seraya membukakan pintu gerbang rumah itu.
"Pak hakim, apa kabar?" Tanya Dinda dengan ramah.
"Baik non, kalau non gimana? Sudah lama kita tidak bertemu ya non!"
"Baik kok pak, Alhamdulillah."
"Oh iya, maaf. Non ada apa ya kesini?"
"Saya ada urusan sama mas Riki." Jawab Dinda.
"Oh mas Riki, mas Riki sudah tidak tinggal di sini non. Sejak menikah dengan nona Bella, mas Riki tinggal di apartemennya."
"Oh begitu ya pak. Kalau Tante sama om ada?"
"Kebetulan nyonya sama tuan juga lagi tidak ada di rumah non, mereka sedang pergi."
"Emm, ya sudah. Kalau begitu saya permisi ya pak hakim. Sampaikan salam saya sama Tante dan om." Pamit Dinda, diangguki oleh pak hakim.
"Mari pak, asalamualaikum."
"Iya non, walaikum'salam."
Dinda pun berlalu dari sana, ia berjalan menuju mobilnya, Dinda sengaja menyuruh sopir memarkirkan mobilnya agak menjauh dari sana. Dinda sengaja berbohong kepada sopirnya bahwa ia ingin menemui temannya. Ia terpaksa melakukan itu, agar sopirnya tidak bilang kepada kedua mertuanya dan suaminya, karna sudah dipastikan jika sang sopir tau, dia pasti akan melaporkan Dinda pada kedua mertuanya dan suaminya itu.
Namun langkah Dinda terhenti, saat melihat sebuah mobil berhenti tepat di hadapan.
"Dinda..." Panggil seorang laki-laki yang baru saja keluar dari mobil tersebut.
"Mas Riki..." Ucap Dinda pelan, ia sangat terkejut melihat Riki, sang mantan calon suaminya itu memanggilnya.
Bersambung...
Jangan lupa, like, komen dan Votenya.
Maaf ya belum bisa up banyak-banyak lagi, kondisi saya masih belum pulih.
Terima kasih yang sudah setia mengikuti cerita Dinda.
Semoga kalian suka ya! Hehe
Selama sayang dari author.
__ADS_1
I love you so much.