
Karna belum ada tanda-tanda Aditia pulang juga, Dinda semakin menjadi mengkhawatirkan suaminya itu. Ia bangkit dari duduknya, berjalan mondar-mandir di lantai kamarnya itu.
Dengan tangan memajang sesuatu.
"Mas, kamu kemana sih? Kok belum pulang juga! Padahal aku sudah tidak sabar ingin menunjukkan ini sama kamu," gumam Dinda, sambil menatap benda yang di ada di tangan itu. Seulas senyum terukir dari bibirnya saat menatap benda tersebut.
Benda kecil panjang, terdapat dua gadis merah di ditengah-tengah benda tersebut. Ya, benda itu adalah Tespek, atau alat tes kehamilan.
Belakang ini Dinda memang merasakan ada hal yang aneh pada tubuhnya, setiap bangun tidur ia selalu merasa pusing, ada sedikit mual juga. Dan tadi pagi Dinda teringat bahwa ia sudah telat datang pulang hampir dua bulan.
Dinda curiga, dari gejala-gejala yang ia rasakan belakang ini, jadi dia memutuskan untuk mengeceknya. Dan Dinda sampai deg-degan tadi, saat menunggu hasil tes urinnya itu.
Dan ada rasa tak percaya sekaligus bahagia, saat Dinda melihat tanda garis dua di sana. Menandakan kalau dirinya memang positif hamil.
Tadi Dinda mau memberi tau Aditia, menelepon suaminya itu. Namun Dinda urangkan, dia berencana akan memberi tau Aditia, saat suaminya nanti pulang kantor saja. Tapi, sudah jam segini Aditia belum pulang juga.
Tak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar memasuki halaman rumahnya. Dinda yakin bahwa itu mobil suami. Dinda melihat dari jendela kamarnya. Dan benar saja, itu adalah Aditia. Suaminya itu baru saja sampai di rumahnya.
Dinda tersenyum, ia merapihkan penampilan. Entah kanapa ia merasa grogi malam ini. Ada yang aneh rasanya. Apa itu karna, Dinda akan memberi kejutan tentang hasil tes urinnya itu.
Tapi, apa Aditia bahagia gak ya nantinya, apa Aditia sudah siap mempunyai bayi lagi? Gimana kali enggak? Karna setau Dinda, selama ini Aditia tidak pernah membahas soal anak. Tapi dengan segara Dinda menepis semua pikiran buruknya itu.
Tidak mungkin Aditia seperti itu, dia pasti bahagia. Seperti halnya Dinda. Anak itu anugrah dari Tuhan bukan? Tidak ada manusia yang nolak Anugrah-Nya.
Tak lama terdengar suara pintu terbuka.
Klek...
Dinda langsung menoleh, dilihatnya sosok suami tercinta yang ia tunggu-tunggu itu datang juga. D
"Asalamualaikum," ucap Aditia, sambil berjalan menghampiri Dinda.
"Walaikum'salam," jawab Dinda, ia meraih tangan Aditia menyalaminya dengan takzim.
Setalah itu Dinda langsung menghambur memeluk Aditia. Membuat Aditia tertegun sejanak, merasa ada yang aneh, Aditia terlihat kebingungan, namun detik kemudian Aditia membalas pelukan Dinda dengan bahagia.
__ADS_1
Cukup lama Dinda memeluk tubuh suaminya itu, membenamkan kepalanya di dada bidang Aditia. Namun beberapa saat kemudian, terdengar isakkan tangis dari bibir wanita itu.
Membuat Aditia terkejut, ia mengurai pelukan. Lalu memegangi bahu Dinda dengan lembut.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Aditia.
Dinda tak menjawab, ia malah semakin terisak tangis.
"Hiks....hiks..."
Aditia semakin kebingungan. Ia kembali membawa Dinda ke pelukannya, mengusap bahu Dinda, berharap istrinya itu tenang, dan berhenti menangis.
"Sudah jangan menangis, ada apa sayang? Kamu kanapa hmm? Ada yang sakit? Atau ada yang menyakiti mu? Bilang sama Mas, cerita sayang!" cerca Aditia.
Namun dengan cepat Dinda mengelengkan kepalanya.
"Terus kamu kanapa?" tanya Aditia lagi.
Dinda mengusap air matanya, lalu melepaskan pelukannya. Dan menatap Aditia dengan lekat.
Aditia terdiam, ia membalas tatapan Dinda, namun Aditia nampak menatap penuh tanya, seperti ia tidak mengerti apa yang di maksud Dinda, 'Positif' apa maksudnya?
"Positif apa Sayang?'' tanya Aditia.
"Ini Mas," jawab Dinda sambil mengelus perut yang masih rata. Namun sudah di pastikan di dalam sana sudah ada janin yang tumbuh.
"Kamu laper?" tanya Aditia. Masih tak mengerti maksud Dinda, melihat Dinda yang mengelus perutnya, Aditia pikir istrinya itu sedang lapar.
"Bukan Mas, ih!" Dinda nampak kesal, karna suaminya yang tak mengerti apa maksudnya itu.
"Terus apa?"
"Perut kamu sakit?"
"Bukan Mas!" Dinda menekuk wajahnya.
__ADS_1
"Terus apa sayang? Bicara yang jelas dong? Kamu hamil?"
Dinda tersenyum lalu menganggukkan kepala.
"Oh..." sahut Aditia. 'Oh doang'
Dinda melongo, mendapati tanggapan suaminya itu.
Namun detik kemudian, Aditia tersadar.
"Apa Sayang? Kamu hamil?" Dinda kembali mengangguk kepalanya.
Aditia langsung membulat matanya sempurna, ia masih tak percaya. Tapi melihat wajah Dinda, tidak terlihat sama sekali kebohongan di sana.
"Alhamdulillah," seru Aditia bersyukur. Lalu ia kembali memeluk Dinda. Mendaratkan kecupan di kening Dinda berkali-kali.
"Terima kasih ya Tuhan," lanjut Aditia, matanya terlihat berkaca-kaca. Begitu juga dengan Dinda. Wanita itu sudah kembali menitihkan air matanya.
Mereka menangis terharu bahagia. Tak menyangka, bahwa Tuhan kembali mempercayai mereka. Kembali memberikan mereka amanah, yaitu sebuah janin yang masih bersarang di rahim Dinda.
"Mas bahagia sekali sayang. Akhirnya Azka bakal punya Adik juga!" ujar Aditia. Kembali mendaratkan kecupan di pipi kiri dan kanan Dinda.
Dinda tersenyum, seraya menganggukan kepalanya.
"Sudah berapa bulan sayang?" tanya Aditia.
"Tidak tau Mas, tapi aku sudah telat datang bulan selama dua bulanan," jawab Dinda.
"Besok kita ke Dokter ya, kita cek kehamilan kamu," ujar Aditia.
"Iya Mas."
bersambung...
Jangan lupa, like, komen dan vote ya!
__ADS_1
Terima kasih.