Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 44. Surat perjanjian


__ADS_3

Sudah beberapa hari Aditia tidak pulang kerumahnya. Hari ini usai selesai mengerjakan urusan kantor, Aditia berniat untuk pulang terlebih dahulu ke rumahnya itu. Ia ingin memastikan bahwa keadaan rumah baik-baik saja. Setalah itu Aditia berniat untuk menemui Lisa ke rumah orang tua Lisa.


Tak terasa jam kerja pun habis, Aditia membenahi berkas-berkas yang ada di atas mejanya. Setelah selesai ia segara bersiap untuk pulang. Namun pada saat Aditia akan melangkah keluar dari ruangannya itu, pintu ruangan terlebih dahulu terbuka, nampak sosok Reza muncul dari sana, memasuki ruangan tersebut.


"Loh mau kemana bos?" tanya Reza, mendekati Aditia.


"Pulang!"


"Masih sore ini."


"Ada urusan yang harus segara di selesaikan, aku duluan,'' pamit Aditia melanjutkan langkahnya.


"Eh-eh, tunggu dulu." Tahan Reza.


"Ada apa?"


"Ada sesuatu yang pengen aku tanyakan."


"Apa?"


"Sini duduk dulu," ajak Reza. Ia menarik tangan Aditia membawanya agar duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.


"Apaan sih, aku buru-buru ini," kesal Aditia.


"Bentaran aja kok. Gini aku mau tanya, tentang Dinda."


"Dinda? Ngapain kamu tanya-tanya soal Dinda hah? Jangan bilang tertarik sama bini gue?" ujar Aditia, ia menatap tajam pada sekertaris sekaligus sahabatnya itu.


"Ya ampun, pikiran elo gak waras apa? Kagaklah."


"Terus?"


"Apa Dinda punya Adik?" Tanya Reza.


"Tidak tau!"


"Masa elo gak tau sih! Elo--kan suaminya!"


"Ya emang gue gak tau! Gue gak pernah tanya-tanya soal itu."

__ADS_1


"Elo beneran gak tau seluk beluknya bini muda elo itu?"


"Enggak Reza! Lagian kenapa sih elo tiba-tiba nanya soal keluarga Dinda?" Aditia menatap Reza menyelidik.


"Pengen tau aja! Oh iya satu lagi, elo bisa gak ceritain gimana awal mulanya elo bisa nikah sama Dinda?"


"Sebenarnya apa sih tujuan elo Reza? Kenapa elo tiba-tiba jadi wartawan dadakan seperti ini hah?"


"Ck, gue serius Aditia Mehendra. Cepat ceritakan, gue butuh banget informasi!"


"Ogah, udah ah gue mau cabut dulu," tolak Aditia dengan cepat, ia langsung berajak dari sana. Berjalan keluar dari ruangannya.


Reza menatap kesal kepergian Aditia tersebut, sambil menggerutu sendiri. "Ck, dasar pelit. Gitu aja kagak mau ngasih tau gue. Okelah, seperti gue nanti tanya langsung sama Dinda saja! Tapi kalau emang bener Dinda itu kakaknya Bella, lah berarti si Aditia jadi kakak ipar gue dong. Ya ampun, dunia sempit sekali rasanya."


***


Aditia langsung melajukan mobilnya meninggalkan gedung kantornya itu, melajukan mobilnya menuju rumah mewah miliknya.


"Kenapa si Reza tanya-tanya soal Dinda ya? Apa iya Dinda punya adik? Kenapa dia tidak pernah bercerita padaku!" ucap Aditia, seraya menyetir mobilnya. Ia teringat dengan pertanyaan Reza tadi. Aditia suaminya Dinda, dia tidak tau sama sekali tentang keluarga istri mudanya itu. Suami macam apa dia?


30 menit kemudian akhirnya Aditia pun sampai di rumahnya itu. Ia langsung masuk ke dalam rumah yang sudah beberapa hari tidak ia injak. Namun betapa terkejutnya Aditia, saat melihat Lisa berada di sana, wanita itu terlihat sedang asik memainkan gawainya sambil duduk santai.


"Kenapa Lisa ada di sini? Bukannya seharusnya dia pulang ke rumah orang tuanya! Apa ibu Rima tak menjemput Lisa?" Gumam Aditia.


"Kenapa kamu ada di sini?" Suara Aditia terdengar, membuat Lisa terkejut ia langsung meletakan memalingkan pandangannya dari gawai-nya itu dan melihat kearah Aditia.


"Mas kamu sudah pulang?'' Bukanya menjawab pertanyaan Aditia, Lisa malah berbalik bertanya. Lisa berajak dari duduknya, lalu ia berjalan mendekati Aditia. Lisa tersenyum begitu bahagia melihat kedatangan suaminya itu.


"Jangan mengalihkan pembicaraan Lisa!" pekik Aditia.


"Maaf mas," senyuman Lisa pudar begitu saja, ia langsung menundukan kepalanya, "aku tidak mau pulang ke rumah mereka." Lanjut Lisa.


"Kenapa?"


"Aku ingin tinggal bersama kamu mas, aku tidak mau berpisah dengan kamu, aku sangat mencintai kamu mas. Maafkan aku," jawab Lisa dengan mata berkaca-kaca.


"Aku tidak akan menceraikan kamu!"


Deg...

__ADS_1


Lisa langsung mengangkat wajahnya, ia menatap Aditia, mencari tau apa yang di ucapkan Aditia itu benar? Jika bener, Lisa begitu sangat bahagia.


"Mas, serius?"


"Ya, " jawab Aditia singkat. Lisa langsung mengambangkan senyumanya, lalu ia menghambur memeluk Aditia.


"Terima kasih mas."


"Lepaskan Lisa," Aditia mencoba melapaskan pelukan Lisa. Lisa langsung melepaskan pelukannya, ada rasa sesak Aditia tak membalas pelukannya itu.


"Tapi aku ingin kita menikah ulang lagi, secara agama saja dan harus bapak kamu yang menjadi walinya."


"Tentu saja mas. Itu tidak sulit."


"Dan ini," Aditia memberikan sebuah map kepada Lisa. Lisa menerimanya dan langsung membuka map tersebut.


"Apa ini mas?"


"Surat perjanjian. Baca baik-baik dan tanda tangan di sana."


Lisa menuruti apa yang dikatakan Aditia, ia membaca dengan detail isi surat perjanjian tersebut, dimana di sana tertulis, bahwa Lisa akan memperbaiki sikapnya, meminta maaf dengan tulus pada kedua orang tuanya serta mertuanya, juga pada Dinda. Garis besar isi surat perjanjian tersebut sebenarnya hanya ingin membuat Lisa berubah dengan sungguh-sungguh, agar menjadi wanita lebih baik. Bukan hanya itu, keselamatan Dinda dan bayi yang ada dikandungannya itu tujuan yang utama yang tertulis di sana. Jika Lisa sampai melanggar janji-janji yang tertulis di sana, maka Lisa akan menerima sangsinya, dimana sangsi tersebut sangat memberatkan Lisa. Aditia akan langsung mencerikan Lisa, tak memberi Lisa harta apa--pun, bahkan akan berurusan dengan hukum.


"Bagiamana Lisa?" Tanya Aditia. Setelah melihat Lisa selesai membaca semua surat perjanjian tersebut.


"Aku setuju mas, aku tidak keberatan sama sekali dengan surat perjanjian ini. Isinya memang mengharuskan aku berubah, aku memang sudah berniat akan memperbaiki semuanya. Jadi aku setuju!" Jawab Lisa tak berpikir panjang lagi, ia langsung menanda tangani surat perjanjian tersebut. Setelah surat perjanjian itu di tanda tangani Lisa kembali memberikannya kepada Aditia.


"Bagus!" ucap Aditia seraya menerima map itu kembali, "aku ingatkan lagi ya Lisa, kamu tidak akan bisa melanggar perjanjian kamu ini, selama aku tidak ada di rumah, jangan berpikir aku tidak memantau kamu," lanjut Aditia.


"Iya mas, aku mengerti."


"Ya sudah, aku ganti pakaian dulu. Kita berangkat ke rumah orang tua kamu sekarang," ujar Aditia diangguki oleh Lisa. Lalu Aditia pun berajak dari hadapan Lisa.


Lisa tak bisa membohongi hatinya bahwa ia benar-benar begitu bahagia. Aditia tak menceraikannya. "Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Semoga ini awal yang lebih baik," ucap Lisa penuh kebahagian.


Bersambung...


Jangan lupa like, komen dan Votenya.


Gift hadiah juga boleh, bunga, atau kopi mungkin. Hehe

__ADS_1


Terima kasih.


Salam sayang dari author.


__ADS_2