
Sepekan sudah berlalu...
Aditia terus mendesak Reza agar cepat mencari informasi tentang Riki. Namun sampai detik ini anak buah Reza belum mendapatkan bukti apa-apa.
Aditia sudah menceritakan pada Reza tentang kecurigaannya itu pada Reza. Namun sepertinya Aditia salah, tidak ada bukti yang mengarah pada Riki. Seperti Lisa berbohong.
Hari ini Aditia dan Reza sudah berjanjian, di sebuah Caffe. Reza terlihat sudah datang terlebih dahulu, dia menunggu Aditia datang ke Caffe tersebut.
Namun pandangan Reza terhenti pada laki-laki yang baru saja datang ke Caffe tersebut, Reza memalingkan wajahnya saat Riki berjalan melewatinya.
Riki duduk tepat di belakang kursi Reza. Tak lama kemudian datang seorang laki-laki menghampiri Riki.
"Bagaimana apa anda bisa mengeluarkan anak buah saya dari penjara?" terdengar Riki berbicara pada laki-laki tersebut. Sepertinya laki-laki itu seorang pengacara.
Reza dengan setia menguping pembicaraan mereka.
"Seperti itu tidak mudah Pak Riki, saya tidak bisa menjamin anak buah Bapak bebas begitu saja. Saya hanya bisa meringankan hukuman dia, sepertinya."
"Saya akan membayar berapa pun yang Anda minta, asalkan anda bisa mengeluarkan anak buah saya!" pinta Riki.
"Saya akan melakukan semaksimal mungkin Pak, tapi saya tidak berjanji,"
"Baiklah, saya tunggu kabar baik dari anda!"
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi."
Tak lama kemudian laki-laki tersebut meninggal Caffe.
Sementara Riki, ia masih di sana. Melihat dari pantulan kaca yang ada di hadapan Reza, Reza melihat wajah Riki terlihat kesal. Sebenarnya apa rencana Riki?
"Anak buah? Apa maksudnya? Riki meminta pengacara itu membebaskan anak buahnya?" batin Reza bertanya-tanya.
"Hallo, kamu carikan lagi pengacara yang lebih bagus! Seperti dia tidak bisa diandalkan!" titah Riki, berbicara lewat sambungan telepon.
Reza dengan cepat mengambil ponselnya, ia merekam Riki yang sedang berbicara lewat sambungan telepon tersebut. Entahlah, siapa tau ada bukti, pikir Reza. Dari gelagatnya Reza curiga bahwa memang Riki dalang dibalik semuanya.
__ADS_1
"Pokoknya aku tidak mau tau, dia harus segara keluar dari penjara! Kau tau polisi saat ini terus mendesak dia, untuk berbicara yang sejujur-jujurnya. Aku tidak mau kalau sampai polisi itu tau, bahwa akulah dalang di balik semuanya. Aku tidak mau masuk penjara! Kau mengerti!" ucap Riki lewat sambungan telepon itu lagi.
Reza membulatkan matanya, jadi benar Riki dalang di balik semua ini? Lisa benar, dia tidak bohong.
Setalah mendapatkan bukti rekaman suara tersebut, Reza langsung berajak dari sana. Ia harus segara pergi sebelum Riki menyadari bahwa Reza ada di sana.
Reza kini sudah berada di dalam mobilnya, lalu ia mengirimkan pesan pada Aditia, menyuruh Aditia untuk tidak datang ke sana. Balasan pesan makian dan umpatan Reza terima dari Bosnya itu.
Reza langsung melajukan mobilnya meninggalkan Caffe tersebut. Namun baru saja Reza mengemudikan mobilnya beberapa meter, ponsel terdengar berbunyi.
Reza mantap malas layar ponselnya itu, nama Aditia nampak muncul di layar ponselnya.
"Hallo, apaan sih? Gue lagi nyetir ini," ucap Reza pada Aditia lewat sambungan telepon tersebut.
"Apa-apa! Gue harusnya yang tanya! Ada apa? Kanapa elo nyuruh gue balik lagi ke rumah hah? Bikin ribet aja," pekik Aditia.
"Sudahlah, nanti gue jelasin di rumah. Gue otw rumah orang tua elo," ucap Reza. Lalu mematikan sambungan telepon tersebut secara sepihak.
***
Namun sebisa mungkin Aditia menikmati rutinitas barunya itu, anggap saja ini pengorbanan Aditia untuk keluarganya.
"Loh Dit, kok balik lagi?" tanya Papah Mehendra. Aditia sudah baru saja sampai di rumahnya.
"Iya Pah. Tau tuh si Reza, katanya dia mau ke sini," jawab Aditia. Ia mendudukkan dirinya di sofa yang ada di samping Papahnya.
"Aditia..." teriak Reza dengan suara lantang, Reza terlihat berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah tersebut.
"Ada apa Za? Kok kelihatan getir banget?" tanya Papah Mehendra.
"Ini Om, Dit. Aku sudah menemukan bukti," ucap Reza.
"Bukti?" Papah Mahendra, menatap Reza dan Aditia dengan tatapan bingung. Bukti apa maksud Reza?
"Bukti apa Za?'' lanjut Papah Mahendra.
__ADS_1
"Sebentar boleh duduk dulu gak," ucap Reza. Aditia dan Papah Mahendra mengangguk. Lalu Reza duduk bergabung bersama mereka.
"Boleh minta minum dulu gak?" ucap Reza lagi. Namun langsung mendapatkan tatapan tajam dari Aditia.
"Ya sudah tidak jadi, gak usah minum gak apa-apa!"
"Ceritakan!" pinta Aditia, dengan nada suara penuh penekanan.
"Gini Dit, tadi gue udah sampe ke Caffe, 'kan ya! Terus kebetulan tadi juga Riki ada di sana, dia duduk dibelakang gue. Nah, gue sempet menguping pembicaraan Riki sama seseorang, seperti orang itu pengacara. Dia nyuruh pengacara itu, buat secepat membebaskan anak buah yang sekarang lagi di penjara!"
"Nah setalah itu, Riki menelpon, gue gak tau dia menelepon siapa! Tapi sepertinya Riki menelpon orang kepercayaannya," lanjut Reza.
"Lalu?" tanya Riki.
"Ini," Reza memberikan ponselnya pada Aditia.
"Coba elo dengerin baik-baik," lanjut Reza.
Aditia menurut ia mulai memutar rekaman tersebut.
Begitu juga dengan Papah Mahendra. Laki-laki itu ikut serta mendengar.
"Jadi benar, Riki dalang di balik semua ini?" ucap Aditia, wajahnya terlihat memerah. Amarah terlihat jelas terpancar dari wajah laki-laki itu.
"Mungkin," jawab Reza.
"Papah sudah menduganya!" ucap Papah Mahendra.
Bersambung...
Jangan lupa, like, komentar, dan Votenya.
Terima kasih.
Siap-siap Riki dapat balasan.
__ADS_1
Wkakak