
Dinda terisak tangis di dalam kamarnya, hancur. Hatinya benar-benar hancur. Sakit tapi tak berdarah, bodoh. Dinda benar-benar dirinya merasa bodoh, ia bisa begitu mudahnya percaya pada suaminya itu. Harusnya Dinda sadar tujuan Aditia menikahinya itu untuk apa? Memanfaatkan rahimnya saja bukan? Harusnya Dinda tak berharap kepada Aditia, Aditia sendiri yang memberi harapan itu kepadanya. Sekarang siapa yang harus di salahkan dalam situasi seperti ini? Lelah, Dinda sungguh sangat lelah, jika ia bisa meminta kepada Tuhan, Dinda akan meminta mengakhiri saja semuanya, mengakhiri hidupnya saja mungkin itu lebih baik.
Sikap Aditia yang selalu memberi perhatian kepadanya, sikap Aditia yang menunjukan bahwa laki-laki mencintainya, sikapnya yang manis itu, bagaimana tidak membuat Dinda tak mengharapkannya? Bagaimana hati Dinda tidak luluh olehnya? Aditia membuatnya seakan terbang namun kini dia juga yang mematahkan sayap-sayap cinta Dinda, lalu menghempaskan-nya ke dasar jurang yang paling dalam. Apa masih Dinda di sini yang di salahkan? Wanita di ciptakan oleh tuhan menjadi makhluk yang sensitif dalam berperasaan. (Baperan)
Dinda wanita biasa, hatinya tak sekuat baja.
Dan saat ini Dinda lelah, lelah akan jalan hidupnya, menanti indah pada waktu dan entah sampai kapan waktu itu tiba. Apakah selamanya akan seperti ini? Mengapa takdir seolah mempermainkan-nya? Cobaan ia hadapi bertubi-tubi mencoba tegar menghadapinya, senyuman palsu selalu menghiasi wajahnya, tanpa ada yang tau hatinya rapuh.
POV Dinda.
Hancur, hatiku hancur tuhan. Perih rasanya, aku pikir sikap mas Aditia belakang ini kepadaku itu tulus, tapi ternyata aku salah. Semuanya palsu. Apa disini aku yang terlalu mengharapkan kamu mas?
Harusnya aku sadar, aku hanya butiran debu dalam hidupmu, kamu bisa kapan saja menyingkirkan aku, membersikan debu itu.
Aku cincin keduamu, sampai kapanpun tidak akan bisa menggapainmu.
Dua Cincin, Aku yang tak dirindukan.
~~~
Malam itu Dinda menangis sendu meratapi nasib pilu, menjadi wanita yang tak pernah di rindu. Hingga lelah menangis tak sadar matanya terpejam.
***
Pagi harinya Dinda terbangun seperti biasanya. Namun ia tak melakukan aktifitas seperti biasanya, seperti menyiapkan sarapan untuk suaminya. Dinda masih berdiam diri di kamarnya, matanya masih terlihat sembab.
Dinda sengaja melakukan itu semua, ia malas bertemu dengan Aditia dan Lisa. Bukan membencinya, hanya saja Dinda lelah, lelah menghadapi semuanya.
Sementara itu, Lisa dan Aditia kini tengah menikmati sarapan pagi mereka, tanpa kehadiran Dinda. Aditia bertanya-tanya dalam hatinya, ada apa dengan istri mudanya itu? Tak biasanya Dinda seperti ini.
Aditia merasa tidak nafsu memakan sarapannya itu, hambar rasanya.
Lisa yang memperhatikan suaminya sedari tadi, ia pun bertanya-tanya. Ada apa dengan Aditia? Hingga akhirnya Lisa pun mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
"Mas kenapa?" Tanya Lisa.
"Tidak apa-apa," jawab Aditia tanpa menoleh kearah Lisa. Bahkan raut wajahnya sangat dingin.
"Ya sudah habiskan makanan ya," pinta Lisa seraya menyuapkan satu sendok makanan kearah mulut Aditia.
"Aku kenyang," Aditia menepis pelan tangan Lisa, "aku berangkat dulu." Lanjutnya, lalu berjalan dari kursi yang ia duduki. Aditia langsung berlalu meninggalkan Lisa tanpa sepatah katapun yang terucap lagi dari bibirnya.
Lisa membanting sendok tersebut dengan keras, matanya menatap punggung Aditia yang terus menjauh dari pandanganya. Kesal, marah, kecewa, itulah yang saat ini Lisa rasakan. Bagaimana tidak, sikap Aditia benar-benar berubah kepada. Bahkan semalam pun Lisa mengajak Aditia untuk melakukan hubungan suami istri tapi Aditia menolaknya, beralasan cepeklah, lelahlah. Padahal sudah lama Lisa tak di sentuh oleh suaminya itu, dan semalam Lisa mengharapkan sentuhan panas suaminya itu. Tapi apa? Semuanya tak sesuai yang Lisa harapankan, semalam Lisa hanya bisa menahan hasrat yang sangat mendalam dengan perasaan yang sangat kesal.
"Semua ini gara-gara si madu sialan itu, lihat saja aku akan membuat perhitungan denganmu Dinda." Ucap Lisa penuh amarah, Lisa berajak dari tetap duduknya lalu ia berjalan menuju kamar Dinda.
Lisa mengedor-gedor pintu kamar Dinda dengan keras, ia sudah tak bisa lagi menahan emosi jiwanya. Wajahnya terlihat merah dengan maja yang tajam, seperti akan menerkam.
"Dinda... Dinda..." Teriak Lisa.
"Keluar kamu, madu sialan..." Teriaknya lagi. Sambil terus menggedor-gedor pintu kamar tersebut.
"Ada apa dengan mbak Lisa?" Ucap Dinda, Dinda berjalan menuju arah pintu kamarnya, lalu membuka pintu tersebut.
Kleeek...
"Ada ap---"
Plakk...
Belum saja Dinda melanjutkan ucapannya, sebuah tamparan mendarat di pipinya, Lisa mendaratkan tamparan yang sangat keras di pipi madunya itu. Dinda terkejut, tangannya mengusap pipinya yang ditampar oleh Lisa, yang terasa sangat perih, bekas tanda tamparan itu pun terlihat merah di pipi mulus nan putih milik Dinda.
"Dengar Dinda, kamu itu wanita yang tidak tau diuntung, wanita tidak tau diri. Harusnya kamu sadar posisi kamu di sini, di rumah ini. Kamu hanya menumpang dan kamu jangan pernah merebut suamiku. Harusnya kamu itu berterima kasih, karna aku sudah menyelamatkan kamu dan keluarga busukmu itu dengan menyuruh mas Aditia menikahimu." Bentak Lisa, sambil menunjuk-nunjuk wajah Dinda dengan penuh amarah.
"Mbak kalau ngomong itu di jaga ya! Mbak boleh menghinaku, tapi tidak keluargaku. Selama ini aku selalu sabar menghadapi sikap mbak Lisa yang semana-mana padaku. Dan untuk pernikahan itu, aku tak pernah memaksa mas Aditia untuk menikahiku dan aku juga tidak berniat untuk merebut mas Aditia dari mbak Lisa. Saya hanya mengikuti kemauan orang tua saya untuk menikahi mas Aditia dan saya tidak tau kalau mas Aditia sudah menikah. Justru saya di sini marasa di tipu oleh kalian. Kalain bahkan hanya berniat memanfaatkan aku saja! Siapa di sini yang tidak tau diri hah?" Dinda meluapkan semua isi hatinya, Lisa sudah memancing kemarahan Dinda dengan menghina keluarganya, Dinda tak terima dengan hinaan tersebut. Mereka boleh menghinanya tapi tidak dengan keluarganya.
"Berani kamu ya sekarang? Apa yang aku katakan memang benar adanya, keluarga kamu memang busuk, buktinya saja adikmu sendiri menghianati kamu bukan? Hamil anak calon suami kamu, apa itu namanya kalau bukan busuk!" Ucap Lisa dengan sinis.
__ADS_1
"Cukup mbak!!" Bentak Dinda, kesabarannya sudah benar-benar habis.
Lisa yang tak terima dirinya di bentak oleh Dinda, Lisa terlihat mengangkat tangannya akan menampar Dinda. Namun dengan cepat Dinda menahannya dan mencengkeram tangan Lisa dengan kencang. Membuat Lisa meringis kesakitan.
"Katakan apa mau mbak?" Tanya Dinda menatap tajam istri pertama suaminya itu.
"Aww, lepaskan." Ringis Lisa, ia berusaha melapaskan pergelangan tanganya dari cengkeraman Dinda. Dinda yang melihat Lisa kesakitan ia langsung menghamoaskan tangan Lisa dengan kasar.
"Aku minta kamu jangan sentuh lagi suamiku, jika mas Aditia meminta haknya kamu harus menolaknya, jika tidak aku tak segan-segan menyakiti adik kesayangannya kamu itu," ancam Lisa.
"Dengar ya mbak Lisa, jangan pernah sentuh adikku, jika sampai kamu berani menyentuh dan menyakiti adikku, aku juga tak akan segan-segan menyakiti mbak Lisa bahkan aku akan merebut mas Aditia dari mbak." Dinda mengancam balik Lisa.
"Kau berani mengancamku hah?" Lisa tersenyum sinis pada madunya itu seraya melipatkan kedua tangannya di depan dada, "kamu pikir aku takut, tidak Dinda. Sanggupi permintaanku maka aku tidak akan menganggu adikmu," lanjutnya.
"Oke baik, aku tidak akan melakukan apapun lagi dengan mas Aditia dan aku pastikan mas Aditia tidak akan menyentuhku." Tegas Dinda.
Terpaksa Dinda mengiyakan permintaan Lisa, Dinda tau Lisa wanita seperti apa, wanita seperti Lisa pasti akan melakukan apa saja demi mencapai keinginannya, Dinda tak mau kalau Lisa nekad menyakiti Bella adiknya. Walaupun Bella sudah membuatnya kecewa tapi Bella tetap adik kandungnya. Bella satu-satu keluarga yang Dinda punya saat ini.
Bukan itu juga Dinda malas berdebat dengan Lisa ia takut tak bisa mengontrol dirinya, serta mengingat lagi pembicaraan Aditia dan Lisa semalam, membuat Dinda memutuskan hal tersebut.
Mungkin ini salah satu cara, agar Dinda bisa menjauh dari Aditia dan tidak berharap lagi pada suaminya itu. Dinda akan menjaga jarak dengan Aditia. Agar semuanya baik-baik saja, walaupun Dinda tau jika nantinya ia menolak Aditia yang meminta haknya, itu akan menjadi dosa pada Dinda.
"Bagus!" Ucap Lisa. Ia tersenyum penuh kemenangan, lalu berajak dari hadapan madunya itu.
Bersambung...
Like dulu
Komen dulu
Vote juga, kalau ada.
Terima kasih.
__ADS_1