Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 60. Bertahan sayang


__ADS_3

Aditia kini tengah melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit, sebelumnya Aditia mendapatkan kabar, bahwa Dinda mengalami kecelakaan. Aditia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, umpatan dari pada pengemudi lain terdengar, karna Aditia mengemudi secara ugal-ugalan. Namun Aditia tak peduli, yang ada di pikiran saat ini, bagaimana pun caranya ia harus secepatnya sampai di rumah sakit.


Setalah sampai di rumah sakit, Aditia langsung berlari, menuju UGD. Lagi-lagi umpatan dan makian terlontar dari orang-orang di sana, karna menurut mereka Aditia berlari tidak hati-hati. Namun Aditia tak menghiraukannya lagi.


Aditia terus berlari menelusuri koridor Rumah Sakit, hingga ia sampai di depan ruangan UGD tersebut. Di sana terlihat ada dua orang Polisi dan Sopir taksi online yang mengantarkan Dinda ke rumah sakit tadi.


"Di mana istri saya?" tanya Aditia, napasnya terdengar bergemuruh. Spontan kedua polisi dan sopir taksi online tadi menoleh ka arah Aditia.


"Bapak suaminya Bu Dinda?" tanya Pak Polisi, Aditia langsung menganggukkan kepalanya.


"Istri Bapak sedang di tangani oleh Dokter di dalam."


Wajah kekhawatiran, terlihat jelas terpancar dari wajah Aditia. Perasaan sangat gelisah.


"Kenapa bisa istri saya jadi seperti ini Pak? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Aditia dengan suara memekik.


Polisi meminta, sang sopir taksi online menjelaskan kronologis kecelakaan tersebut.


"Pak tolong, segara temukan pelakunya, saya minta keadilan untuk istri saya," pinta Aditia pada Polisi.


"Baik Pak, kami akan berusaha semaksimal mungkin. Kami juga sudah mendapatkan bukti, Bapak ini sempat memotret plat nomer mobil yang menabrak istri Bapak."


"Saya tunggu, kabar baiknya Pak,"


"Baik Pak, kalau begitu kami permisi." Kedua Polisi tersebut berpamitan pada Aditia. Aditia mengangguk.


Sopir taksi Online di bawa oleh Polisi, untuk di jadikan saksi.


Aditia mendudukkan dirinya di bangku yang berada di depan ruangan UGD tersebut, wajahnya terlihat sangat lesu.

__ADS_1


"Sayang bertahanlah, berjuang untuk anak kita sayang, aku tau kamu pasti bisa melewatinya," gumam Aditia. Cairan bening terlihat mengalir begitu saja dari sudut matanya.


Untuk pertama kalinya, Aditia merasa sangat ketakutan dalam hidupnya.


"Aditia..." panggil seorang wanita. Aditia langsung menoleh kearah sumber suara tersebut.


Dilihatnya Mamah Mawar dan Papah Mahendra tengah berjalan kearahnya.


"Mah," Aditia langsung menghambur memeluk wanita yang sudah melahirkannya itu. Mamah Mawar membalas pelukannya, ia mencoba memberikan semangat untuk Aditia.


"Kenapa bisa seperti Aditia?" kini Papah Mahendra yang membuka suaranya.


"Tidak tau Pah. Tapi tadi polisi sudah datang ke sini, mereka sekarang lagi mencari pelakunya. Mereka juga sudah punya petunjuk, sopir taksi Online, sempat memotret plat nomer mobil yang menabrak Dinda," jelas Aditia.


"Syukurlah, semoga pelakunya cepat di temukan," geram Papah Mehendra.


Lalu pintu ruangan UGD terbuka, Dokter terlihat keluar dari ruangan tersebut, Aditia dan kedua orang tuanya langsung menghampiri Dokter tersebut.


"Iya Dok, bagaimana keadaan menantu dan calon cucu saya," timpal Mamah Mawar.


Dokter terlihat mengehelai napasnya, Aditia dan kedua orang tuanya terlihat tak sabar menunggu Dokter mengatakan kondisi Dinda.


"Begini Pak, Bu. Pasien masih kami tangani. Tapi sebelum kami ingin memberitahu tentang kondisi pasien dan bayi yang ada di kandungannya..."


"Kenapa dengan istri dan calon anak saya Dok?" tanya Aditia. Dokter belum selesai berbicara, Aditia sudah memotongnya.


"Begini Pak, mengingat kondisi keduanya sangat tidak stabil, jadi kemungkinan kami hanya bisa menyelamatkan satu diantara mereka."


Aditia dan kedua orang tuanya saling melemparkan pandangan mereka. Hanya bisa menyelamatkan satu diantara mereka, apa maksud ucapan Dokter tersebut?

__ADS_1


"Kemungkinan untuk menyelamatkan keduanya sangat tipis Pak, jadi kami ingin bertanya, pada Bapak selaku Keluarga pasien, kami akan memberikan pilihan pada Bapak, mau mengalamatkan ibu atau anaknya?" lanjut Dokter.


Aditia dan kedua orang tuanya, terdiam seketika.


Sementara Aditia, berpikir keras. Bingung, keduanya sangat berharga untuk Aditia, tidak mungkin Aditia bisa memilih. Dinda, istri yang sangat dia cintai, dan anak yang ada di kandungan Dinda, itu darah daging Aditia, sudah lama Aditia menantikan calon anaknya itu.


"Ya tuhan tidak adakah pilihan lain, aku tidak bisa memilih, jika bisa gantikan saja posisi mereka denganku, biar aku saja, ambil nyawaku saja tuhan," batin Aditia.


"Bagiamana Pak?" tanya Dokter kembali.


"Dok, apa tidak bisa menyelamatkan keduanya?" tanya Mamah Mawar.


"Bisa saja Bu, tapi itu kemungkinannya sangat kecil, tapi kami akan berusaha semaksimal kami. Hanya saja tindakan medis kami ini sangat beresiko, maka dengan itu, kami membicarakan hal ini terlihat dahulu pada pihak keluarga pasien."


"Selamatkan istri saya saja Dok," Aditia akhirnya bersuara, sambil berdoa dalam hatinya, semoga keputusan itu sudah benar. Namun tetap saja secercah harapan ada, berharap Tuhan memberikan keajaiban. Dinda dan Bayinya bisa di selamatkan.


"Baiklah kalau begitu, mari bapak ikut saya. Ada berkas yang harus bapak tanda tangani terlebih dahulu," pinta Dokter, sambil melangkah kakinya. Aditia berjalan mengikuti langkah dokter tersebut.


Sementara kedua orang tua Aditia menunggunya di sana. Mamah Mawar terlihat menitihkan air matanya, di peluk sang suami.


"Doakan saja Mah, semoga ada keajaiban dari Tuban, dan Dokter bisa menyelematkan menantu dan calon cucu kita," ujar Papah Mahendra. Ia mencoba menguatkan istrinya.


Dinda menantu yang sangat di sayanginya, dan bayi yang di kandung Dinda, calon cucu yang sudah di nanti mereka sejak lama.


Bersambung...


Maaf baru sempat up.


Sibuk banget di real life.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan Votenya ya.


Terima kasih.


__ADS_2