Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 23. Lisa??


__ADS_3

Lisa menutup pintu kamarnya dengan keras. Wajahnya terlihat kesal bercampur amarah.


"Sial, kenapa ibu bisa tau rumah ini? Jangan sampai mas Aditia tau! Aku harus pastikan kalau ibu tidak datang kesini lagi." Ujar Lisa, ia langsung meraih tas dan kunci mobilnya.


Lisa melajukan mobilnya membelah jalan raya ibu kota yang tak lepas dari kemacetan. Di tambah jam-jam saat ini, jam pulang orang-orang kerja. Beberapa kali Lisa menekan klakson mobilnya, "macet sialan," pekiknya.


Cukup lama Lisa terjebak kemacetan yang cukup panjang, hingga akhirnya dia pun bisa bebas dari kemacetan tersebut, Lisa melajukan mobilnya ke sebuah tempat yang berada di pinggiran kota. Setalah sampai Lisa memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, lalu ia memasuki sebuah gang sempit. Hingga ia tiba di sebuah rumah yang terlihat sudah kumuh, namun Lisa menghentikan langkahnya, ia bersembunyi di balik ding-ding sebuah rumah sebelahnya.


'Kenapa mas Aditia ada di sini?' gumam Lisa, ia mengintip di balik ding-ding tersebut, terlihat Aditia memapah ibunya, mereka memasuki rumah kumuh tersebut.


"Terima kasih ya nak Aditia, kamu sudah mengantarkan ibu pulang," ucap ibu Rima tulus.


"Sama-sama bu," jawab Aditia seraya memberikan senyuman tulusnya, Aditia mengamati rumah tersebut, pandangnya menelusuri setiap sudut rumah tersebut. Rumah kecil, dengan atap yang terlihat sudah bolong, sudah di pastikan jika hujan turun pasti air itu akan masuk ke dalam rumah.


"Maaf ya nak, rumah ibu begini adanya." Ujar ibu Rima, "ibu ambilkan minum dulu ya!" Lanjutnya diangguki oleh Aditia.


'Ya tuhan, kasian sekali ibu ini. Rumahnya sudah tidak layak huni,' gumam Aditia perihatin.


Tak lama ibu Rima kembali dengan membawa segelas air putih untuk Aditia. "Maaf ya nak Aditia, ibu cuman punya air putih saja!" Ucapnya seraya meletakan gelas yang berisi air putih tersebut di meja.


"Tidak apa-apa bu, terima kasih!" Aditia mengambil gelas yang berisikan air putih tersebut dan meneguknya.


"Oh iya, ibu tinggal di sini sendiri?" Lanjut Aditia bertanya.


"Tidak nak, ibu tinggal sama suami ibu!" Jawabnya.


Aditia mengangguk-anggukan kepalanya, " dimana suami ibu sekarang?"


"Ada di kamar beliau sedang sakit," jawabnya lirih dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


"Sakit apa bu?"


"Asma sama lambung nak,"


"Sudah lama bu bapak sakit?"


"Sudah hampir dua tahun nak," jawab Bu Rima, kini butiran bening terlihat menetes dari pelupuk matanya.


"Sudah di bawa ke rumah sakit?" Tanya Aditia, ibu Rima terlihat mengelengkan kepalanya.


"Loh kenapa Bu?"


"Dulu ibu pernah membawa bapak ke rumah sakit, hanya sekali. Kami tidak mampu membayar biaya rumah sakit, yang menurut kamu sangat banyak. Jangankan untuk biaya rumah sakit nak, sudah bisa makan setiap hari saja kami sudah bersyukur."


Hati Aditia benar-benar teriris mendengar ucapan ibu Rima tersebut. "Apa ibu tidak mempunyai anak?"


"Punya nak," jawab ibu Rima.


"Lalu dimana anak ibu?" Tanya Aditia terheran.

__ADS_1


"Anak ibu sudah lama tidak tinggal bersama ibu dan bapak."


"Maksud ibu, sudah menikah?" Ibu Rima menganggukkan kepalanya.


"Apa mereka tidak pernah berkunjung?"


"Jangankan berkunjung nak, dia menikah saja kami tidak tau, kami hanya dapat kabar dari orang-orang. Katanya dia sudah menikah dengan, suaminya orang berada." Jelas ibu Rima.


"Kenapa ibu tidak mengunjunginya?"


"Selama ini ibu tidak tau dia tinggal dimana, bertahun-tahun ibu mencarinya, tapi tidak pernah ketemu, dan kemarin ibu mendapatkan alamatnya dari teman lamanya dia,"


"Ibu sudah menemuinya? Kalau belum saya akan antarkan ibu dan bapak!"


"Sudah nak, tadi ibu habis dari rumahnya."


"Syukurlah, kalau begitu."


"Tapi---"


"Tapi, kenapa Bu?"


"Dia mengusir ibu, bahkan dia tak mengakui ibu sebagai orang tuanya," jawabnya lirih diiringi isakkan tangis.


"Ya ampun bu, ibu yang sabarnya!" Ujar Aditia ia mengelus bahu ibu Rima.


"Ibu jangan bicara seperti itu, roda kehidupan pasti berjalan, saya yakin suatu saat nanti anak ibu akan menyesal sudah memperlakukan ibu seperti ini."


"Iya nak, tapi tidak apalah, dia tak menganggap kami orang tuanya. Kami sudah bahagia melihat dia bahagia sekarang, hidup dengan berkecukupan. Hidup yang ia impikan sejak dulu. Kami memang orang tua yang tidak pantas untuknya, bahkan sejak waktu kecil kami tidak pernah bisa membahagiakannya."


"Begini saja bu, besok saya akan suruh sekertaris saya datang ke sini, besok kita bawa suami ibu ke rumah sakit. Ibu tidak usah mengkhawatirkan soal biaya, saya yang akan menanggungnya. Dan jika ibu mau, saya juga akan memberikan rumah yang layak untuk ibu dan bapak! Bagaimana?"


"Tidak usah nak, kami tidak mau merepotkan nak Aditia." Tolaknya dengan halus.


"Tidak bu, saya tidak merasa di repotkan. Pokonya ibu gak boleh nolak,"


"Tapi na---"


"Sudah bu, besok sekertaris saya akan datang ke sini." Pungkas Aditia.


"Baiklah jika nak Aditia memaksa, terima kasih sebelumnya. Tapi untuk tempat tinggal, kami tidak apa-apa tinggal di sini, terlalu berat untuk kami meninggalkan rumah ini, rumah ini terlalu banyak kenangan untuk kami."


"Baiklah terserah ibu, kalau begitu saya permisi dulu ya Bu!" Pamit Aditia.


"Iya nak, sekali lagi terima kasih. Terima kasih banyak."


"Sama-sama bu," ucap Aditia. "Saya pulang dulu ya bu." Lanjut Aditia seraya meraih tangan ibu Rima, menyalaminya.


"Hati-hati ya nak Aditia." Aditia menganggukan lalu ia pun berlalu meninggalkan rumah tersebut.

__ADS_1


'Ya tuhan, melihat keadaan ibu Rima dan suaminya, aku merasa hidupku sudah jauh lebih baik dari mereka, maafkan aku ya tuhan selama ini aku kurang bersyukur. Engkau sudah memberikan aku kehidupan yang lebih baik, terkadang aku masih sering mengeluh. Maafkan aku tuhan, bahkan aku sering lupa melaksanakan kewajibanku' gumam Aditia.


Lisa membalikan tubuhnya saat ia melihat Aditia yang berjalan melewatinya. Setalah di rasanya aman, Aditia sudah menjauh, Lisa langsung menuju rumah ibunya.


Tok tok tok


Lisa mengetuk pintu rumah tesebut. Ibu Rima yang baru saja menutup pintu rumahnya itu, terheran.


Klekk...


Bu Rima membuka pintu tersebut, "iya nak Ad---" ibu Rima menggantungkan ucapnya, saat melihat Lisa yang berdiri di depan pintu sana, ia pikir yang mengetuk pintu itu Aditia, mungkin ada barang yang ketinggalan atau apa, tapi ternyata tebakannya salah.


"Lisa..." Ucap ibu Rima terkejut.


"Ayo masuk nak, ibu senang kamu kesini nak, ayo lihat bapakmu nak!" Lanjut ibu Rima menarik tangan Lisa.


"Apaan sih bu!" Sahut Lisa sinis, ia menepis tangan ibunya dengan kasar.


"Siapa laki-laki yang baru saja keluar dari rumah ini?" Lanjut Lisa.


"Oh itu, dia nak Aditia."


"Siapa dia? Sejak kapan ibu mengenalnya? Lalu untuk apa dia kesini?" Cerca Lisa.


"Nanti ibu ceritakan semuanya ya nak, tapi kita temui bapak kamu dulu yuk Lisa, dia sangat merindukanmu!''


"Katakan sekarang? Atau Lisa tidak mau menemui bapak!" Ancam Lisa.


Ibu Rima menghelai nafasnya, "nak Aditia tadi tak sengaja menyerempet ibu di jalan, terus dia nganterin ibu pulang, ibu baru tadi mengenalnya, dia sangat baik. Bahkan dia bilang dia akan membantu bapakmu berobat ke rumah sakit." Jelas ibu Rima.


'Syukurlah seperti mas Aditia tidak tau kalau ibu dan bapak orang tuaku. Jangan sampai mas Aditia tau.' gumam Lisa, ia merasa hatinya sedikit lega.


"Ibu jangan terima bantuannya, Lisa yang akan membawa bapak ke rumah sakit membiayai pengobatan bapak. Dan satu lagi sebaiknya ibu dan bapak pindah dari rumah ini, Lisa akan membelikan rumah untuk kalian!" Tegas Lisa.


"Tapi nak, ibu tidak---"


"Mau nurut apa enggak? Kalau gak mau ikutin apa kata Lisa, Lisa tidak akan menemui kalian lagi!" Pungkas Lisa. Akhirnya ibu Rima mengangguk pasrah.


"Bagus!" Ucap Lisa tersenyum penuh kemenangan, "kemasi baju kalian sekarang, kita pindah hari ini juga!" Titah Lisa.


Ibu Rima hanya menurut pasrah, yang terpenting sekarang ia bisa kembali bersama Lisa. Sementara Lisa, jujur saja ia malas mengurus kedua orang tuanya itu. Namun demi keamanan posisinya, agar Aditia tak menemui lagi orang tuanya, agar rahasianya tetap terjaga, terpaksa Lisa melakukan hal ini.


Bersambung...


Dinda suruh istirahat dulu ya, kita orek-orek dulu si Lisa aja. Wkwkwk


Jangan lupa like, komen dan Votenya ya guys ya.


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2