
POV Dinda.
Hamil? Aku mendengar sendiri dokter yang memeriksaku, dia mengatakan kalau aku hamil. Entah aku harus bahagia atau tidak mendengar kabar ini. Yang saat ini aku rasakan hanya kesesakan di hatiku yang mendalam. Tapi dalam hati kecilku, aku tidak bisa berdusta, ada rasa bahagia yang ku rasa, aku akan menjadi ibu, seorang ibu. Itu memang impianku sejak dulu, tapi mengingat pernikahanku dan mas Aditia hanya sementara, mengingat perjanjian itu. Rasa bahagia itu kalah dengan rasa kecewa. Karna apa? Karna usai aku melahirkan anak yang masih ada di rahimku ini, aku harus meninggalkannya, aku harus memberikannya pada suamiku dan istri pertamanya. Aku akan menjadi seorang ibu yang sangat tega, membiarkan anakku, terkesan seperti ibu yang tak memperdulikan anakku.
Tuhan, jika aku bisa memilih. Lebih baik aku tidak melahirkannya bayi ini, membayangkan suatu hari nanti aku akan meninggalkan, rasanya sakit sekali tuhan, sakit. Kenapa engkau menghadirkannya terlalu cepat, aku belum siap.
Akankah aku sanggup? Jika hari itu tiba. Aku yang mengandungnya, aku yang melahirkannya. Setalah melewati proses itu semua, lalu mereka yang akan merasakan bahagianya? Tuhan apa aku boleh egois? Rasanya aku ingin pergi dari kenyataan ini.
Skenario hidup yang engkau berikan terlalu sulit untukku tuhan, bisakah aku mengubah alur cerita hidupku? Aku lelah tuhan.
~~~
Aditia memeluk Dinda sangat erat, ia benar-benar bahagia, ia tak menyangka kini ia sudah menjadi calon ayah. Pernikahannya dengan Dinda tak sia-sia, akhirnya Aditia bisa mempunyai keturunan, memberikan cucu pada kedua orang tuanya. Namun melihat Dinda yang tak bereaksi apa-apa, istrinya itu terlihat hanya menitihkan air matanya, isakkan tangis terdengar dari bibirnya, membuat Aditia langsung melepaskan pelukannya.
"Sayang kamu kenapa?" Tanya Aditia, ia menangkubkan kedua tanganya di wajah Dinda, lalu mengusap air mata yang membasahi wajah istri dengan lembut, "kenapa kamu menangis sayang? Apa kamu tidak bahagia?" Lanjut Aditia.
"Apa aku harus bahagia mas?" Dinda berbalik bertanya. Matanya mantap kosong ke sembarang arah.
"Hey, kenapa bicara seperti itu?" Aditia mengarahkan Dinda agar melihat kearahnya.
"Lalu aku harus bicara bagaimana mas? Kamu sudah berhasil membuatku hamil, tujuan kamu dan mbak Lisa sudah tercapai." Dinda kembali memalingkan pandangannya dari suaminya itu, "jadi sudahi sandiwara kamu mas, jangan memberiku harapan yang hanya menambah luka di hatiku mas. Sudah cukup mas, aku lelah.'' Lanjut Dinda mengeluh.
"Sayang, apa maksud kamu? Sandiwara apa?" Cerca Aditia. "Apa kamu masih marah? Maafkan aku sayang, maafkan aku! Semalam aku emosi, aku tak berniat menyakitimu, maafkan aku sudah berkata kasar padamu. Maafkan aku sayang,"
Pintu ruangan terlihat terbuka, orang tua Aditia terlihat memasuki ruangan tersebut. Dinda dan Aditia langsung menoleh kearah mereka. Mamah Amira dan papah Mahendra terlihat langsung menghampiri Dinda, wajah keduanya terlihat sangat mengkhawatirkan kondisi menantunya itu.
"Dinda sayang kamu kenapa nak? Kok bisa sampe masuk rumah sakit sih nak?" Cerca mamah Amira, ia memeluk Dinda.
"Apa Aditia menyakitimu sayang hmm?" Lanjut mamah Amira, usai melepaskan pelukannya. Dinda tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak mah, Dinda tidak apa-apa kok. Mamah dan papah kok bisa tau Dinda di sini?"
"Tadi mamah dan papah dapat kabar dari bi Santi," jawab mamah Amira, mereka menoleh kearah bi Santi yang terlihat menundukan. Ia merasa takut, karna ia tak mengabari nyonya besar dan tuan besar, tanpa sepengetahuan Aditia.
"Maafkan saya tuan muda, saya tidak meminta izin kepada tuan, saat saya mengabari nyonya besar dan tuan besar." Ucap bi Santi kepada Aditia.
"Tidak apa-apa bi," sahut Aditia.
"Lalu apa kata dokter? Dinda sakit apa?" Kini papah Mahendra yang bertanya.
"Ada kabar baik Pah," sahut Aditia, tersenyum bahagia.
"Apa?" Tanya mamah Amira dan papah Mahendra serentak.
"Mamah dan papah sebenatar lagi akan punya cucu!" Seru Aditia. Mamah Amira dan Papah Mahendra saling melemparkan pandangan kepada Dinda, Dinda terlihat menganggukan kepalanya pelan sambil tersenyum tipis. Keduanya langsung membulatkan matanya, detik kemudian mereka tersenyum lebar. Mamah Amira langsung menarik Dinda ke dalam pelukannya.
"Akhirnya Pah, penantian kita selama ini datang juga. Akhirnya kita akan menjadi Oma dan opa." Ucap mamah Amira, diangguki oleh suaminya.
"Oh iya Aditia, sebaiknya Dinda tinggal dengan mamah dan papah saja dulu untuk sementara." Lanjut mamah Amira.
"Maksud mamah?" Aditia menatap keheranan.
"Jika Dinda tinggal di rumah kamu mamah merasa tidak tenang, mamah takut Dinda dan kandungan terganggu di sana."
"Mah, mamah jangan khawatir Aditia akan menjaga Dinda dengan baik kok!''
"Enggak, mamah gak percaya sama kamu. Apa lagi di sana ada istri pertama kamu, si Lisa. Mamah tidak ingin Lisa melakukan hal yang tak di inginkan kepada Dinda." Kukuh mamah Amira.
"Tapi mah---"
__ADS_1
"Tidak Aditia, yang di katakan mamah kamu benar. Papah setuju apa kata mamahmu itu,'' pungkas papah Mahendra, memotong ucapan putranya.
"Tapi Dinda itu istriku Pah, mah."
"Ya sudah, kita tanyakan dulu sama Dinda saja!''
"Bagaimana sayang? Kamu maukan tinggal sama kita? Untuk sementara waktu saja kok!" Lanjut mamah Amira, bertanya pada menantunya itu.
Dinda terdiam, ia menatap kearah Aditia sekilas, lalu beralih menatap pada kedua mertuanya. "Dinda mau kok tinggal sama mamah dan papah, tapi kalau dapat izin dari mas Aditia," ujar Dinda.
Kedua mertuanya tersenyum, "bagaimana Aditia?" Tanya papah Mahendra. Aditia menghelai nafasnya, lalu mengangguk pasrah. Percuma berdebat dengan kedua orang tuanya tidak akan menang, pikir Aditia. Di tambah sang istri berada di pihak mereka.
"Bagus!" Seru mamah Amira.
'Maafkan aku mas, mungkin yang dikatakan mamah dan papah benar, aku juga merasa tidak tenang kalau aku tinggal bersama kamu dan mbak Lisa. Bukan hanya itu, mungkin dengan tinggal bersama mereka, perlahan aku bisa melupakan kamu juga, menjauh dari kamu, itu lebih baik sekarang. Agar aku tidak terlalu berharap pada kamu lagi,' gumam Dinda.
"Tapi aku masih bisa menemui Dinda-kan?" Tanya Aditia.
"Tentu saja, kamukan suaminya, ayah dari bayi yang ada di perut Dinda, kamu bodoh apa gimana?" Sahut mamah Amira.
"Ya udah, aku mau urus administrasi Dinda dulu, Dinda sudah di perbolehkan pulang hari ini juga," ujar Aditia. Seraya melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya tersebut. 'Mereka begitu egois, Dinda--kan istriku! Kenapa mereka tak mengizinkan dia tinggal bersamaku. Lisa? Memangnya kenapa Lisa kenapa mamah dan papah terlihat begitu sinis pada dia, aku harus cari tau apa yang sebenarnya terjadi?' lanjut Aditia berucap dalam hatinya.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan Votenya ya guys ya!!
Aku usahakan up 2-3 bab perharinya. Tapi berkala ya!! Hehe.
Terima kasih
__ADS_1