
Riki sudah di bawa oleh Poisi, kini Aditia dan Papahnya serta Reza, menyusul mereka.
Mobil Aditia di bawa oleh sopirnya, mereka menggunakan mobil Reza.
"Bagiamana, kamu bisa membawa Polisi ke sini Za?" tanya Aditia.
"Reza, 'kan pintar, tidak seperti kamu," sahut Papah Mahendra. Membuat Reza tertawa, sementara Aditia memutar bola matanya, kesal.
"Sudah puas ketawa!" pekik Aditia, memberikan tatapan tajam pada sekertarisnya itu.
Reza mengacungkan, kedua jarinya. Lalu berhenti tertawa.
"Sebenarnya, pelaku yang sudah menabrak istri kamu juga sudah mengakui, yang sebenarnya menyuruhnya untuk mencelakai Dinda itu, Riki. Ditambah dengan bukti yang aku serahkan kepada mereka, jadi sekarang Riki sudah di tetapkan sebagai tersangka utama," jelas Reza.
"Lalu, Lisa?"
"Lisa masih di penjara, katanya sih. Lisa masih tetap harus menjali hukuman, karna dia juga terlibat dalam rencananya si Riki," jelas Reza lagi.
Aditia terlihat menganggukkan kepalanya. Setalah itu tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Reza terlihat fokus menyetir. Sementara Aditia dan Papah Mahendra, larut dalam pemikirannya mereka masing-masing.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di kantor Polisi. Riki sudah di masukan ke dalam jeruji besi.
Aditia meminta izin pada pihak polisi untuk bertemu dengan Riki. Setalah di perbolehkan, Aditia pun menemuinya.
Raut wajah penuh amarah terpancar dari wajah Riki, saat Aditia menghampirinya. Sementara Aditia, ia berjalan dengan santai, sambil memberikan senyuman puas, penuh kemenangan.
"Mau apa kau kemari?" tanya Riki, dengan nada suara terdengar tidak bersahabat.
"Bagaimana Riki?" Bukannya menjawab pertanyaan Riki, Aditia malah berbalik bertanya.
"Lihat saja, aku akan balas perbuatan kamu Aditia. Aku tidak rela jika Dinda hidup bersama kamu," pekik Riki.
"Hahahah," tawa Aditia menggema, membuat Riki semakin di penuhi amarah, namun sayangnya Riki tidak bisa berbuat apa-apa. Jeruji besi itu menghalanginya.
__ADS_1
"Masih berani mengancamku?" ucap Aditia, tersenyum mengejek Riki.
"Kamu pikir aku takut Riki? Tidak, aku tidak takut sama sekali. Seharusnya kamu sadar! Berpikir sebelum melakukan sesuatu!" lanjut Aditia.
"Dengan ya, aku pastikan aku akan merebut Dinda kembali, setalah aku keluar dari sini!" pekik Riki.
"Silahkan, aku tidak takut. Karna aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Harusnya kamu sadar Riki, kamu itu bukan mencintai Dinda, tapi terobsesi dengan Dinda. Jika benar kamu mencintainya, kamu tidak akan melukainya. Paham kamu!"
"Nikmati jeruji besi, Riki!" lanjut Aditia. Lalu ia meninggal Riki. Sumpah serapah keluar dari mulut Riki, sambil menatap kepergian Aditia. Aditia tak menghiraukannya.
"Ayo kita pulang," ajak Aditia pada Reza dan Papahnya yang sudah menunggu di luar.
Tanpa kata lagi, mereka pun langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kantor Polisi tersebut.
Sementara itu, Lisa dipanggil oleh pihak polisi. Kini wanita itu sudah duduk berhadapan dengan kepala polisi.
"Ada apa ya pak?" tanya Lisa.
"Begini Bu Lisa, kami sudah menemukan tersangka utama di balik kecelakaan yang menimpa Bu Dinda," jawab Pak Polisi.
Polisi itu mengangguk, Lisa benar-benar merasa lega. Ada setitik harapan di hatinya, apa ini tandanya Lisa bisa bebas?
"Lalu, apa saya bisa bebas Pak?" tanya Lisa dengan antusias.
"Maaf Bu Lisa, kami belum bisa membebaskan Anda, karna Anda tetap terlibat, anda membantu saudara Riki melancarkan aksinya itu," jelas Pak Polisi.
Setitik harapan itu tiba-tiba sirna. Wajah kekecewaan terpancar jelas dari wajah Lisa.
"Tapi, kami akan mengurangi masa tahanan Bu Lisa. Bu Lisa hanya mendapatkan hukuman 6 bulan saja," lanjut Pak polisi.
"Benarkah Pak?" tanya Lisa, "syukur, terima kasih Tuhan," lanjut Lisa dalam hatinya.
"Tapi saya tidak tau Pak tentang rencana Riki yang ingin mencelakai Dinda, saya hanya membantunya meretas CCTV rumah Aditia saja, itu pun saya terpaksa Pak, karna Riki mengancam saya. Apa hukumnya tidak bisa di kurangi lagi?" tanya Lisa. Wanita itu bernegosiasi, berharap keringanan hukuman lagi dari Pak Polisi.
__ADS_1
"Nanti akan kami pertimbangkan lagi Bu, nanti silahkan Ibu jelaskan di persidangan yang akan datang, Ibu bisa memohon kepada hakim, dan menjelaskan semuanya," ucap Pak Polisi. Lisa menganggukkan pasrah. Setalah itu Lisa di bawa lagi ke dalam jeruji besi.
***
Sementara itu, Aditia tidak langsung pulang ke Rumahnya, seperti biasa, setalah urusannya selesai pasti ia akan ke Rumah sakit, menemui Dinda.
"Asalamua'allaikum," ucap Aditia saat memasuki ruangan rawat Istri itu.
Namun hening, tidak ada jawaban. Karna Dinda masih koma. Aditia memang sengaja mengucap salam, setiap ia masuk atau pun keluar dari ruangan rawat istrinya itu. Berharap ketika ia mengucap salah, ada sahutan dari sang istri. Namun sampai detik ini Dinda masih setia dalam tidurnya itu.
Aditia berjalan menghampiri Dinda, di genggamannya tangan Dinda, yang kini terlibat kurus.
"Din, bangunlah sayang. Apa kamu tidak lelah tidur terus? Apa kamu tidak lapar? Apa kamu tidak haus?"
"Din, kamu tau. Orang yang sengaja mencelakai kamu itu Riki, sekarang dia sudah diadili Din, dia sudah ada di penjara."
"Din, bangunlah. Aku merindukan kamu, Azka juga sangat membutuhkan kamu sayang..."
Aditia berbicara pada Dinda, berharap istrinya itu mendengar dan cepat sadar dari komanya.
Bersambung....
Like
Komen
Vote
Jangan lupa ya!!!
Terima kasih.
Komen yang banyak, bilang Dinda bangun!
__ADS_1
Biar dia denger, terus cepat bangun! Kwkwkwwm