Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 58. Titik terendah Lisa


__ADS_3

Lisa masih menangis sendu, saat bibir sudah tidak sanggup berkata, mungkin hanya air mata yang dapat mengungkapkan semuanya.


Haruskah ia menyerah sekarang? Lalu bagiamana dengan surat perjanjian yang pernah di sepakati dengan Aditia? Saat ini Lisa benar-benar ada di titik terendahnya, tidak ada tempat bersandar di saat ia lelah, tidak ada teman bicara saat ia merasa gundah, Aditia bukan lagi miliknya, walaupun kini statusnya masih Istri Aditia, tapi Lisa tidak merasakan itu semua.


Rasanya hidup ini tidak adil untuk Lisa.


"Aku sudah tidak tahan, maafkan aku mas, jika aku melanggar perjanjian kita, aku sudah tidak bisa lagi meneruskan semuanya, aku lelah bersandiwara, pura-pura bahagia, aku akan pergi Mas, semoga kamu selalu bahagia dengan Dinda," lirih Lisa.


***


Sementara itu, Aditia kini tengah duduk di kursi yang ada di ruang kerjanya. Sebenarnya Aditia sudah tidak sanggup lagi berbagi cintanya pada Dinda dan Lisa.


Kini hanya Dinda yang ada di hati Aditia, tidak ada sedikit rasa cintanya lagi untuk Lisa.


Haruskah Aditia mengakhirinya semuanya? Ia tidak mungkin terus seperti ini, sungguh tidak nyaman sama sekali.


Sikapnya yang condong terhadap Dinda, tentu saja itu menyakiti hati Lisa, Aditia tau itu. Lisa hanya pura-pura baik-baik saja. Aditia sangat mengenal Lisa, walau bagaimana wanita itu pernah menemani hari-harinya, bahkan menjadi wanita yang sangat spesial di hatinya.


Aditia tak mengerti, mengapa ia begitu mudah berpaling pada Dinda, padahal dulu ia sangat mencintai Lisa.


"Sabar Aditia, satu bulan lagi. Semuanya akan berakhir," lirih Aditia.


Ya, satu bulan lagi, usia kandungan Dinda menginjak waktunya persalinan. Mereka kembali lagi ke perjanjian awal mereka. Aditia akan mencerikan Dinda.


Dan perjanjian dengan Lisa, Aditia juga sudah berniat akan menceraikan Lisa, Aditia akan menceraikan kedua istrinya. Entahlah setalah itu, Aditia belum merencanakan bagaimana ke depannya.


Yang pasti yang dia harapkan saat ini, suatu hari nanti ia akan kembali lagi dengan Dinda, dan membesarkan anak mereka sama-sama. Melepaskan Lisa, membiarkan wanita itu mencari kebahagiaannya.


***


Malam harinya...


Dinda kini sudah berbaring di tempat tidurnya. Dalam kehamilan yang besar itu, Dinda merasakan tubuhnya gampang sekali lelah, padahal aktifitas setiap harinya tidak berat, bahkan nyaris tidak pernah melakukan apa-apa, hanya tidur makan, paling menonton televisi sambil berbincang dengan Lisa.


"Sehat selalu ya Nak, sampai nanti waktunya tiba. Rasanya bunda sudah tidak sabar menanti kehadiran kamu lahir ke dunia ini," ucap Dinda, sambil mengelus lembut perut buncitnya itu.


"Setalah anakku lahir, aku akan memulai lagi semuanya dari awal," ucap Dinda. Tatapannya menerawang.

__ADS_1


"Walaupun nanti bunda tidak bisa membesarkan kamu, percayalah Nak, bunda sangat menyayangi kamu." Mata Dinda terlihat berkaca-kaca. Rasanya ia tak rela nantinya memberikan anaknya pada Aditia dan Lisa. Tapi janji harus di tepati.


Klekk...


Terdengar suara pintu terbuka, Dinda langsung mengalihkan pandangannya, di lihatnya Aditia masuk ke dalam kamarnya itu.


"Din, kamu belum tidur?" tanya Aditia lembut, seraya berjalan menghampiri istri mudanya itu.


"Belum Mas," jawab Dinda sambil tersenyum.


"Mas ngapain di sini?"


"Mau tidurlah," sahut Aditia, ia membaringkan tubuhnya di samping Dinda.


"Mas lupa?"


"Malam ini, Mas tidur di kamar mbak Lisa," lanjut Dinda.


"Tidak mau, Mas mau tidur sama kamu dan calon anak kita," tolak Aditia. Terdengar sangat egois di telinga Dinda.


Aditia bangkit dari tidurnya, lalu ia membuang napas beratnya, "iya-iya deh, Mas ke kamar Lisa sekarang!" pasrah Aditia seraya turun dari kasur Dinda.


Dinda melengkungkan bibirnya tersenyum.


"Selamat malam Mas, nikmati malammu sama Mbak Lisa," ucap Dinda.


Aditia tersenyum kecut, sambil menganggukkan pelan.


Setalah itu ia keluar dari kamar Dinda, tak lupa menutup pintu kamar tersebut.


Menikmati malam dengan Lisa? Apanya? Bahkan tanpa sepengetahuan Dinda, setiap Aditia tidur di kamar Lisa, mereka selalu tidur terpisah, Lisa tidur di kasurnya sementara Aditia tidur di sofa. Sudah lama, Aditia tidak pernah lagi menyentuh Lisa.


Aditia masuk ke kamar Lisa tanpa permisi, membuat Lisa yang tengah Menganti pakaiannya terkejut.


"Astaga Mas, kamu mengagetkan saja," ucap Lisa. Dengan santainya Lisa kembali melanjutkan memakai pakaiannya.


Gleek...

__ADS_1


Aditia menelan silivanya, melihat tubuh indah milik Lisa. Apa salah jika Aditia menginginkan Lisa?


"Mas, kamu kenapa?" tanya Lisa menatap heran Aditia.


"Emm, tidak..." Aditia menjawab dengan gugup. Lisa mengangkat bahunya, aneh pikirnya. Tapi ya sudahlah.


"Mas mau tidur di kasur apa di sofa?" tanya Lisa.


"Kita tidur satu ranjang saja," jawab Aditia. Sambil berjalan menuju kasur, dan membaringkan tubuhnya disana.


"Tumben sekali Mas Aditia mau tidur satu ranjang lagi denganku? Apa jangan-jangan hatinya mulai menerimaku kembali," batin Lisa.


"Lisa, apa kamu tidak mau tidur?" tanya Aditia. Membuat Lisa langsung tersadar dari lamunannya.


"Eh iya Mas, mau kok!"


"Ya sudah sini," Aditia menepuk kasur, meminta Lisa agar tidur di sampingnya. Lisa menganggukkan kepalanya, ia pun berjalan menuju kasur, dan mulai membaringkan tubuhnya di samping Aditia.


"Tidur membelakangi suami itu, pamali," ketus Aditia. Lisa memang sengaja tidur membelakangi Aditia. Membuat Aditia kesal, entahlah kenapa Aditia merasakan hal yang aneh malam ini?


"Maaf," sahut Lisa lirih, lalu ia mengganti posisinya.


"Menghadap padaku," titah Aditia. Lisa terlihat menurutinya.


"Tolong jangan berikan aku harapan lagi Mas, aku sudah berniat ingin mengakhiri semuanya, kenapa sikap kamu tiba-tiba berubah," ucap Lisa dalam hatinya.


Bersambung...


Like


komen


Vote


Jangan lupa!


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2