Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 88. Ingin cepat-cepat


__ADS_3

Hari ini libur, Aditia menghabiskan hari liburnya bersama dengan istri dan anaknya. Orang tuanya sudah pulang.


Mereka kini tengah bersantai di ruang keluarga, sambil mengasuh baby Azka yang sudah mulai aktif merangkak.


"Gak kerasa ya Mas, Azka sudah besar saja," ucap Dinda.


"Iyalah, kamu baru beberapa bulan besarin Azka, coba tanya Mamah deh, Mamah yang lebih lama ngurusin Azka," sahut Aditia, bercanda.


Dinda langsung memajukan bibirnya, dengan wajah yang di tekuk. Aditia malah tersenyum melihat ekspresi wajah istrinya itu.


"Bencanda Cintaku," lanjutnya, seraya mencubit gemas hidung mancung milik sang istri.


"Tau ah!"


"Idih marah, gitu aja marah. Mas bercanda Sayang. Iya-iya emang gak kerasa ya, sekarang Azka sudah besar aja."


"Kayanya kita harus bikin adik lagi buat Azka," lanjut Aditia berbisik pada Dinda.


"Ihhh, apaan sih Mas." Dinda tersenyum lalu mendaratkan cubitan kecil di perut suaminya itu.


Ditengah perbincangan tersebut. Tiba-tiba terdengar suara bell rumah mereka berbunyi. Aditia dan Dinda saling mengalihkan pandangan mereka masing-masing. Seakan bertanya-tanya, siapa yang datang dan bertamu ke Rumah mereka.


Tidak mungkin, kalau orang tua mereka, karna mereka baru saja pulang tadi pagi.


"Siapa ya Yang?" tanya Aditia.


"Tidak tau Mas, coba lihat sana," titah Dinda. Aditia langsung mengangguk kepalanya.


Namun baru saja Aditia berajak dari sofa, Bi Santi terlihat melewati mereka, akan membukakan pintu tersebut.


"Biar saya saja Tuan," ucap Bi Santi.


"Oh, iya udah Bi." Aditia duduk kembali.


Bi Santi berjalan menuju arah pintu, dan membukakan pintu tersebut. Nampak seorang laki-laki dan perempuan yang mengendong baby, sudah berdiri di depan pintu tersebut.


"Asalamualaikum."


"Walaikum'salam."


"Aditia sama Dinda ada Bi?" tanya mereka.


"Ada, silahkan masuk." Bi Santi mempersilahkan mereka masuk dengan sopan. Mereka menganggu. Lalu berjalan masuk ke dalam rumah tersebut.


"Di mana mereka Bi?" tanyanya.


"Di ruang tengah." Mereka berjalan menuju ruang tengah, Bi Santi mengikuti langkah mereka dari belakang.


"Selamat siang menjelang sore Kakak ipar," ucap Reza lantang saat sudah sampai di ruangan di mana Aditia dan Dinda berada.


Spontan Dinda dan Aditia menoleh kearahnya.


"Bella..." teriak Dinda.


"Kakak..." Bella berjalan mendekati sang Kakak.


"Apa kabar Kak, maaf aku baru bisa berkunjung," ucap Bella setelah menyalami kakaknya itu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Dek. Kabar kamu gimana?"


"Alhamdulillah baik juga Kak. Seperti yang kakak liat."


"Syukurlah."


"Hay ganteng, udah besar ya," lanjut Dinda sambil mengusap gemas anak Bella.


Adik dan kakak itu terlihat saling melepas rindu sambil bermain dengan anak-anak mereka. Sementara Aditia dan Reza mereka hanya menyimak, sambil sesekali tertawa, melihat tingkah anak-anak mereka, yang mulai aktif tersebut.


"Ini di minum dulu," ujar Bi Santi, yang baru saja datang dari dapur membawa beberapa cemilan dan minuman untuk mereka semua.


"Makasih ya Bi."


Setalah itu Bi Santi pun kembali melanjutkan pekerjaan.


"Aduh-aduh, kayanya anak Bunda ngantuk ya," ucap Dinda pada baby Azka.


"Bobokan Azka dulu sana Sayang, kasian dari tadi dia menguap terus, udah ngantuk berat kayanya," titah Aditia.


"Iya Mas, Dek, Reza. Aku tiduran Azka dulu ya."


"Eh Kak, aku ikut. Kayanya anakku juga ngantuk ini," ujar Bella.


"Ya udah sana, ibu-ibu tidurin anak-anak dulu sana," sahut Reza.


Dinda dan Bella pun berjalan menuju kamar baby Azka, untuk menidurkan anak-anak mereka.


"Mau ngapain elo ke sini?" tanya Aditia pada Reza, usai kepergian Dinda dan Bella.


"Yakin cuman itu?"


"Hehehe, ada yang lain juga sih!"


"Apa?"


"Biasa, itu loh."


"Ngomong yang jelas!"


"Masalah pernikahan gue sama Bella. Gue mau cepat-cepet halalin Ibu dari anak gue."


"Gak enak banget nunda lama-lama. Gue ke siksa bro. Bisa kelonin anaknya tapi kagak bisa kelonin emaknya. Merana gue," lanjut Reza.


"Hahahah..." Aditia tertawa.


"Segitu ngebetnya ini, mantan sang Casanova," ledeknya.


"Bukan ngebet bro. Manusiawi kali," jawab Reza tak mau kalah.


"Iya-iya, nanti oleh bicarakan saja sama Dinda. Gue sih terserah istri gue aja, gue ngikut dia aja. Ya, semoga Dinda ngabulin permintaan elo itu."


"Ck, kalau gak di kabulin juga, gue mau nekad aja halalin Bella secepat, dari pada nanti kena dosa!"


Tak lama kemudian, Dinda dan Bella terlihat kembali.


"Udah pada bobo?" tanya Aditia. Dinda menganggukkan kepalanya. Mereka pun kembali duduk bergabung di sofa yang ada di ruangan tersebut.

__ADS_1


"Oh iya Kak, sebenarnya kedatangan aku dan Bella ke sini ada yang ingin kita bicarakan sama kalian," ucap Reza, langsung pada intinya.


"Apa?"


"Gini kak...." Lalu Reza membicarakan semuanya pada Dinda. Dinda terlihat senang, juga antusias.


"Gimana Kak?" tanya Reza usai menjelaskan semuanya pada Dinda.


"Ya 'kan, kakak sudah pernah bilang, lebih cepat lebih baik bukan!" seru Dinda.


Senyuman bahagia, langsung terpancar dari wajah Reza dan Bella.


"Kalian tentu saja tanggalnya, kapan kalian siapnya, Kakak akan bantu mempersiapkan semuanya," lanjut Dinda.


"Satu minggu lagi gimana?" tanya Reza.


Bella, Aditia dan Bella langsung menatap kearah Reza.


"Kak itu terlalu cepat!" protes Bella.


"Bukannya lebih cepat lebih baik. Ya, kita akad nikah saja dulu, jadi waktu seminggu pasti cukup buat mempersiapkan semuanya. Repsesi bisa nyusul nanti. Gimana?"


"Udah gak usah mikirin persiapan, kalian persiapkan saja diri kalian. Serahkan saja sama aku, biar aku yang mengurus acara pernikahan kalian," sahut Aditia.


"Beneran?" tanya Reza. Menatap Aditia tak percaya.


"Elo gak percaya sama gue hah? Elo lupa siapa gue?"


"Percaya-percaya. Aditia Mehendra, ngurus begituan mah kecilkan."


"Nah itu tau," ucap Aditia, sombong. Agak-agak angkuh.


"Benaran kak?" Kini Bella yang bertanya.


"Iya, kamu tenang saja Bell," jawab Aditia.


"Ya ampun, makasih banyak ya kak sebelum."


"Sama-sama."


"Berarti fix ya, satu Minggu lagi?" tanya Dinda. Diangguki oleh mereka semua.


"Yeess, satu Minggu lagi otw kelonin emaknya anak gue," seru Reza dalam hatinya.


Bersambung...


Maaf baru sempat up.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya.


Dengan cara, like, komen dan Votenya.


Gift hadiah juga boleh, hehe...


Terima Kasih.


Salam sayang dari author......

__ADS_1


__ADS_2