Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 79. Wanita selalu benar!


__ADS_3

"Aduh cucu Oma, sini ganteng Oma gendong ya," ucap Mamah Adelia, seraya mengambil baby Azka dari pangkuan Dinda.


"Oh iya, Mamah sama siapa ke sini?" tanya Dinda. Mereka kini sudah duduk di gazebo tersebut.


"Sama Papah, Din," jawabnya. Tanpa menatap kearah Dinda, wanita parubaya itu kini fokus kepada baby Azka, cucunya.


"Terus Papah dimana Mah?"


"Papah di sini Din," sahut Papah Mehendra, terlihat berjalan menghampiri mereka.


"Maaf ya Din, Mamah Mertua mu, ini banyak drama." Papah Mehendra duduk bergabung bersama mereka di gazebo tersebut, sudut matanya melirik kearah sang istri, tepatnya menyindir maksudnya.


"Enggak apa-apa kok Pah, wajar mungkin Mamah kangen sama baby Azka," ujar Dinda.


"Idih, Papah apaan sih, siapa juga yang drama hah? Denger tuh kata Dinda, wajarlah. Mamah kangen sama baby Azka, bukan banyak drama!" pekik Mamah Adelia pada Papah Mehendra, seraya melototi suaminya itu.


"Iya-iya, wanita memang selalu benar!" ketus Papah Mahendra.


"Nah itu tau!"


"Dan kita wanita selalu benar!" ucap Mamah Adelia dan Dinda secara bersamaan, lalu mereka tertawa.


***


Aditia dan Reza kini tengah berada di salah satu Restoran ternama yang berada di kota tersebut.


Hari ini mereka ada pertemuan dengan salah satu rekan bisnis mereka.


Tak lama kemudian, rekan bisnisnya itu datang. Mereka tak membuang waktu lama. Berbicara pada intinya, mengenai bisnis mereka.


Sekitar 1 jam mereka berbincang. Akhirnya selesai. Rekan bisnisnya itu berpamitan terlebih dahulu, sementara Aditia dan Reza, memutuskan untuk tetap di sana. Karna ini sudah masuk jam makan siang, mereka sekalian makan siang di Restoran tersebut.


Kini mereka tengah menikmati makanan mereka masing-masing, tidak ada pembicaraan saat makan, baik Aditia mau pun Reza, mereka terlihat fokus dengan makanan mereka.


Namun beberapa saat kemudian, Aditia mengalihkan pandangannya dari piring yang berisi makanannya itu, tatapan Aditia menatap lurus kaca besar yang ada di hadapannya. Tepatnya, melihat kearah luar.


"Lisa..." gumam Aditia pelan, namun sepertinya Reza mendengar gumaman Aditia tersebut.


Reza mengalihkan pandangannya, ia mengikuti arah pandangan Aditia. Reza terlihat membulatkan matanya.


Seorang wanita dengan pakaian sederhana, terlihat tengah berdiri di pinggir jalan, wanita itu melambaikan sebelah tangannya, mengehentikan angkot. Dan sebelah tanganya terlihat memegangi perutnya yang terlihat buncit. Seperti wanita itu tengah berbadan dua.

__ADS_1


Aditia dan Reza tak lepas memandangi Lisa sampai wanita itu masuk ke dalam angkot dan angkot melaju. Barulah Aditia dan Reza mengalihkan pandangan mereka. Mereka menatap satu sama lain.


"Dia sudah bebas?" Reza bertanya pada Aditia.


"Emm, iya kali. Makanya dia ada di sini," jawab Aditia nampak gugup.


"Dia kayanya sedang hamil deh? Apa dia sudah nikah lagi ya?" Lagi-lagi Reza melontarkan pertanyaan, yang tidak Aditia tau sama sekali jawabannya.


Aditia hanya mengerdilkan bahunya. Karna memang ia tidak tau sama sekali tentang Lisa. Sementara Aditia resmi menceraikan wanita itu, Aditia tidak pernah bertemu lagi. Dan ini baru kali pertama setelah sekian lama, Aditia melihat mantan istrinya itu.


"Balik ke kantor yuk," ajak Aditia. Seraya berajak dari tempat duduknya.


"Lah makanannya kagak di habisin?" tanya Reza.


"Udah kenyang!" Dusta Aditia. Bukan sudah kenyang, tapi nafsu makannya tiba-tiba menghilang.


"Gue tunggu di mobil, bayar makanannya," lanjut Aditia. Reza hanya mengangguk pasrah.


Aditia berjalan terlebih dahulu, keluar dari Restoran tersebut. Sementara Reza ia memanggil pelayan untuk meminta totalan makanan mereka.


Aditia sudah berada di dalam mobil, dengan tatapan yang menerawang. Entah apa yang kini tengah di rasakan laki-laki itu, yang pasti Aditia terlihat sedang melamunkan sesuatu.


"Woy, ngelamun aja!" ucap Reza, yang baru saja masuk ke dalam mobil, sontak membuat Aditia langsung buyar dari lamunannya.


"Sial, ngagetin aja elo," pekik Aditia.


Reza tertawa tanpa dosa, lalu ia mulai menghidupkan mesin mobilnya, dan melaju mobil tersebut kembali menuju ke kantor.


"Za, cari tau informasi tentang Lisa," titah Aditia.


Reza menoleh kearah Aditia, memberikan tatapan menyelidik-nya.


"Tunggu-tunggu! Apa maksud elo?" tanya Reza.


"Sudah jangan banyak tanya, lakukan saja!"


"Oke baik Bos."


"Eh, jangan bilang elo mau balikan lagi sama Lisa?" lanjut Reza bertanya.


"Enak aja, enggaklah," jawab Aditia ketus.

__ADS_1


"Kirain! Soalnya dulu itu elo bilang cinta benget sama tuh si Lisa, sampe-sampe elo dibutakan sama sikap busuknya!" Reza sengaja menakan kata "di butakan", mengingat dulu bagaimana sikap Aditia pada Lisa, sampe-sampe di jadi laki-laki bodoh.


"Itu dulu, sekarang enggak. Gue cintanya cuman sama Dinda," ucap Aditia.


"Dasar gak tau malu," ucap Reza pelan, namun masih terdengar oleh Aditia.


"Apa elo bilang hah? Ngajak di adu ini bocah!" pekik Aditia.


"Santai bro, santai. Harusnya elo mikir Aditia Mehendra." Reza sengaja memanggil Aditia dengan nama lengkapnya.


Aditia terlihat menatap Reza tajam. Namun Reza nampak santai menanggapinya. Toh dia merasa gak salah dengan ucapannya, hanya sedikit pedas, wajarlah.


"Bayangkan, elo udah nyakitin Dinda, bersikap tidak adil, tapi sekarang elo masih bilang mencintainya, pengen muntah gue rasanya!"


"Tapi nasib elo beruntung sih, semesta berpihak pada elo. Dinda maafin elo, kalian punya baby Azka. Gue salut sama Dinda, dia benar-benar mulia, mau memaafkan suami kejam kaya elo," lanjut Reza. Sengaja Reza berbicara panjang lebar, tak memberi kesempatan untuk Aditia, berbicara, menyahut ucapannya.


Tapi sepertinya ucapan Reza, langsung masuk ke relung hati Aditia yang paling dalam. Ucapan Reza bagai tamparan baginya. Benar, semuanya benar.


"Iya gak, Aditia Mehendra?" tanya Reza, lalu ia tersenyum penuh kemenangan. "Kali-kali gue kasih siraman rohani buat elo Dit," lanjut Reza berucap dalam hatinya.


Aditia terlihat mengehelai nafasnya, dia benar-benar di buat mati kutu, dengan ucapan sahabat sekaligus Asisten pribadinya itu.


"Iya-iya. Gue ngaku, gue gak tau malu," jawab Aditia, dengan wajah dinginnya.


"Hahaha," Reza tertawa.


"Gue becanda Bos," lanjutnya.


Aditia tampak tak menanggapinya.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di kantor. Aditia kembali ke ruangannya. Tapi sebelum Aditia mengingat Reza, untuk mencari informasi tentang Lisa.


"Za, jangan lupa. Cari informasi tentang Lisa. Gue tunggu secepat!''


"Siap bos ku..." sahut Reza seraya memberikan hormat pada Aditia.


Bersambung...


Jangan lupa, like komen dan Votenya.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2