Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 70. Kemarahan Aditia


__ADS_3

"Sebaiknya, kita. Temui laki-laki tidak punya hati itu!" ucap Aditia, seraya berajak dari duduknya.


"Aku ingin memberi dia pelajar," lanjutnya dengan raut wajah penuh amarah, dua tanganya mengepal sempurna.


"Jangan macam-macam Aditia, biarkan hukum yang menghakimi dia. Ingat jangan sampai kamu menambah masalah!" ucap Papah Mahendra.


"Iya, sebaik kita cari bukti lain, untuk memperkuat. Agar kita mudah memasukan dia ke penjara," timbal Reza.


Aditia menghembus napas kasar, ingin rasanya dia cepat bertemu dengan Riki, lalu melampiaskan semua amarah. Namun itu bukan hal yang baner bukan? Kekerasan tidak akan menyelesaikan semuanya.


Benar kata Papah dan Reza.


"Reza, sebaiknya kamu kembali ke Caffe tadi. Kamu minta rekaman CCTV saat Riki, berbicara dengan pengacaranya itu," titah Papah Mehendra.


"Baik om, aku akan segera kesana!" ucap Riki. Laki-laki itu langsung pergi meninggalkan Rumah tersebut, dan melajukan mobilnya menuju Caffe.


"Dan kamu Aditia, ayo ikut Papah, kita temui Riki sekarang!" ajaknya.


"Tapi kita mencari Riki kemana Pah?"


"Ck, bodoh!" sahut Mamahnya.


"Ikuti saja Papah kamu, dia lebih pintar dari pada kamu!' lanjutnya dengan nada ketus. Aditia mengangguk pasrah.


"Ya sudah kita pamit dulu Mah, Mamah baik-baik di Rumah. Kalau ada apa-apa segara kabari Papah," pamit Papah Mahendra.


"Iya Pah,"


"Mah aku juga pamit dulu, titip Azka ya!"


"Iya, cepat kalian pergi sana."


Aditia dan Papah Mahendra pun berajak, mereka langsung menuju kediaman Riki, tepatnya tempat persembunyian Riki. Papah Mahendra sudah tau dimana letak persembunyian laki-laki itu, tentu saja Papah Mahendra tau, dari anak buahnya, yang terlebih dahulu bertindak, dari pada Aditia.


***


Semantara Reza, ia kini sudah berhasil mendapatkan rekaman CCTV tersebut, setelah itu Reza langsung melajukan mobilnya menuju kantor polisi untuk melaporkan semuanya.


Sesampainya di kantor polisi, Reza membuat semua laporan tersebut.


"Baik Pak, kami akan segara menangani kasus ini. Dan menangkap saudara Riki secepatnya!" ucap Pak polisi.


"Oh iya, dan kami juga sudah berhasil membuat orang yang sudah menabrak Bu Dinda, bahwa yang menyuruh beliau bukan Bu Lisa, tapi memang saudara Riki," lanjutnya.


"Benarkah Pak?" tanya Reza, tak percaya. Namun ia merasa lega juga.


"Jadi bukti ini, dan pengakuan dari orang yang menabrak Dinda, bisa membuat Riki menjadi tersangka utama Pak?"

__ADS_1


"Iya Pak, bukti ini memperkuat bahwa memang saudara Riki-lah, dalang semuanya."


"Bagaimana dengan Lisa?" tanya Reza.


"Apa dia bebas Pak?" lanjutnya.


"Tidak Pak, Bu Lisa tetap akan mendapatkan hukuman. Tapi hukuman ringan, kami akan mengurangi masa hukuman beliau. Walaupun Bu Lisa tidak dinyatakan bersalah, tapi tetap saja Bu Lisa, sudah membantu melancarkan aksi saudara Riki, walaupun Bu Lisa tidak tau motif dan tujuan saudara Riki."


"Baiklah Pak, kami serahkan semuanya pada pihak yang berwajib."


Polisi itu mengangguk ramah, lalu Reza pun berpamitan dari sana.


Setalah itu Reza menghubungi Papah Mahendra, menanyakan dimana? Papah Mahendra mengirim pesan lokasi, sekarang dirinya dan Aditia berada.


Tepatnya mereka sudah sampai di dekat persembunyian Riki.


Reza kembali masuk ke dalam kantor polisi, memberi info bahwa mereka sudah tau keberadaan Riki, setalah itu Reza dan beberapa Polisi, langsung melesatkan mobilnya ke lokasi tersebut.


***


Dengan langkah yang cepat Aditia masuk ke dalam rumah, di mana rumah tersebut adalah tempat persembunyian Riki. Tempatnya nampak sepi, tidak ada juga anak buah Riki, atau siapapun yang berjaga di sana.


Riki memang sengaja, tidak membuat penjagaan. Karna ia pikir posisinya sudah aman, dan kini ia hanya ingin menikmati hari-harinya, tapi ada satu rencana lagi yang belum ia jalankan, Riki menunggu situasi panas mereda. Agar dia bisa melancarkan rencananya dengan mudah.


Rencana selanjutnya adalah, membawa Dinda pergi dari rumah sakit, lalu membawa wanita yang di cintainya itu jauh dari kota itu, kalau perlu Riki akan membawa Dinda ke luar negeri. Namun Riki mendapatkan kabar bahwa Dinda koma, Riki harus bersabar, tidak mungkin ia membawa Dinda dalam kondisi seperti itu, untuk saat ini Riki harus bersabar terlebih dahulu, setalah itu, Dinda sadar, maka ia akan membawa Dinda, jauh dari keluarga Aditia.


Terdengar pintu terbuka dengan keras, Riki yang tengah duduk santai, sontak terkejut. Lalu memeriksanya.


"Aditia..." gumam Riki.


Aditia yang melihat Riki, ia langsung menghampiri, dengan tangan mengepal, rahang mengeras, serta raut wajah yang merah, diri yang dipenuhi gejolak amarah.


Matanya tajam menatap Riki, dengan tatapan yang sulit diartikan. Dan...


Brugg...


Satu bogem mentah mendarat di pipi kiri Riki.


"Apa yang kamu lakukan?" teriak Riki, sambil membalas tajam tatapan Aditia.


Bruggg..


Aditia kembali mendaratkan bogem mentah di pipi kanan Riki, wajah Riki kini terlihat memar, dengan darah segar yang mengalir dari sudut bibirnya. Bogem mentah Aditia tidak bisa Riki hindari.


Belum puas Aditia, memberikan bogem mentah di wajah Riki tersebut, kini tanganya sudah mengarah ke bagian perut Riki, namun..


"Cukup!" teriak Papah Mahendra. Ia menahan tangan Aditia.

__ADS_1


"Kamu tidak dengar apa perkataan Papah tadi hah?" bentak Papah Mahendra, menatap tajam Aditia, lalu ia melapaskan genggaman tanganya dari pergelangan tangan Aditia.


Dada Aditia bergemuruh, amarah masih bergejolak di dirinya. Namun tidak mungkin ia meneruskan aksinya itu.


"Mau apa kalian ke sini?" ucap Riki, senyuman menyingrai terukir dari bibirnya.


"Masih bertanya kamu hah?" bentak Aditia.


"Tentu saja, aku tidak tau maksud Bapak Aditia terhormat dan Bapak Mehendra terhormat ini datang ke sini?" jawab Riki dengan santainya. Namun dalam hati Aditia sudah merasa gelisah.


"Sial, dari mana mereka tau tempat ini. Dan apa maksud mereka datang ke sini? Apa mereka sudah tau semuanya, cih itu tidak mungkin," batinnya.


"Bedebah, kamu laki-laki yang tidak punya nyali Riki.


Mentalmu lemah," ejek Aditia, tersenyum sinis.


Raut wajah Riki langsung berubah, tentu saja ia tak terima Aditia mengejeknya.


Riki berjalan mendekati Aditia, dengan tangan mengepal, Riki sudah siap mendaratkan serangan pada Aditia, namun...


"Angkat tangan!" ucap Pak polisi, yang baru saja datang mengarahkan pistol kearah Riki.


Spontan Aditia dan Papah Mahendra membalikkan badannya, mereka melihat ada 4 polisi dan Reza di sana.


Syukurlah Reza datang tepat waktu.


Polisi itu langsung menghampiri Riki, yang sudah mengangkat tangan, lalu menurunkan tangan Riki dan memborgolnya.


"Pak, ini ada apa?" tanya Riki.


"Sebaiknya, anda jelaskan saja nanti di kantor polisi," jawab Pak polisi.


"Cepat bawa dia," ucap atasannya.


Mereka pun mengangguk, lalu membawa Riki dengan paksa, ke mobil mereka.


"Lepaskan. Apa yang kalian lakukan? Apa salah ku hah?" teriak Riki.


"Aditia lihat saja nanti, aku akan belas perbuatan!" teriaknya lagi.


Bersambung...


Jangan lupa, like, komen, vote ya.


Terima kasih.


Gimana? Up lagi gak hari ini?🤭

__ADS_1


__ADS_2