
"Mas Riki..."
"Dinda..." Riki menghampiri Dinda, "akhirnya aku menemukan kamu Din," lanjutnya seraya meraih tangan Dinda, namun dengan cepat Dinda menepis dan menjauhkan tangannya dari Riki.
"Dimana Bella?" Tanya Dinda, ia mencoba menetralkan hatinya, mengingat semua perlakuan Riki yang telah menghianatinya. Membuat luka Dinda kembali terbuka.
"Bagaimana kabar kamu Din?" Bukannya menjawab pertanyaan yang Dinda lontarkan, Riki malah berbalik bertanya, dengan maksud mengalihkan pembicaraan mereka.
"Kabarku baik mas, aku bertanya di mana Bella? Kenapa kamu sendirian? Bukannya kamu sudah menikah dengan adikku?" Cerca Dinda. "Kenapa kamu malah mengalihkan pembicaraan kita!" Lanjutnya.
"Aku tidak tau Bella dimana!" Jawab Riki dengan santainya.
"Maksud kamu?"
"Ya, aku tidak tau dia dimana. Aku dan Bella sudah bercerai, dia penipu!"
"Penipu? Kamu bicara apa sih mas? Kenapa kamu sebut adikku penipu?" Dinda masih menatap Riki penuh tanya.
"Kamu tau Dinda, adik kamu itu emang penipu. Asal kamu tau ya, anak yang ada dikandungannya itu bukan anakku." Jelas Riki.
Dinda membulatkan netra, ada rasa tak percaya dihatinya. Bella tidak mungkin seperti itu. Apa ini akal-akal Riki saja. Oh tentu saja tidak.
"Tidak mungkin mas, aku kena siapa Bella." Dinda mencoba menyangkal semua tuduhan Riki kepada adiknya.
"Terserah kalau kamu tidak percaya. Aku tidak memaksa kamu buat percaya sama aku. Cuman ada satu hal yang harus kamu tau, aku mencintaimu Din," ucap Riki.
"Cinta? Apa aku tidak salah dengar mas?" Dinda tersenyum masam, laki-laki yang menghancurkan dalam waktu singkat, hingga ia kini terjebak dalam haqalah duka, yang sangat mendalam. Gara-gara laki-laki yang dihadapannya sekarang ini, Dinda ada di posisi sekarang ini, menikah tanpa cinta dengan Aditia dan di jadikan istri kedua.
__ADS_1
"Dinda aku serius. Aku mohon maafkan aku, beri aku kesempatan memperbaikinya semuanya Din. Anak yang dikandung Bella itu bukan anakku!''
"Terlambat mas, kamu taukan aku sudah menikah."
"Menikah, menjadi istri kedua dari seorang pengusahaan kaya Aditia Mehendra. Kamu hanya dijadikan alat untuk memberikan keturunan untuk keluarga mereka Dinda. Semua orang tau Aditia hanya mencintai istri pertamanya nyonya Lisa!" Pekik Riki.
Deg...
Detak jantung Dinda terasa terhenti, bagaimana Riki bisa tau semuanya?
"Kamu jangan sok tau mas." Kilah Dinda.
"Aku tidak sok tau, itu kenyataannya Dinda. Kamu pelakor." Ucap Riki penuh penekanan.
Plakk...
"Benarkah? Memang ada di dunia ini wanita yang bisa membagi suaminya dengan ikhlas? Jika istri pertama suami kamu itu benar ikhlas menerima kamu sebagai madunya, mungkin dia sekarang akan bahagia, tapi nyatanya? Dia bahkan melukai dirinya sendiri, sampe depresi." Ujar Riki, seraya mengusap pipinya yang terasa perih akibat tamparan dari Dinda, senyuman smirk terulas dari Riki. 'Aku pasti akan mendapatkan kamu kembali Dinda,' lanjutnya berucap dalam hati.
"Me--melukai, mak---maksud ka--kamu?" Tanya Dinda terbata-bata.
"Oh oh, jadi suami kamu tidak memberi tau kondisi istri pertamanya kepada sang istri kedua. Haduh suami macam apa itu? Miris!" Ledek Riki, "kamu benar tidak tau kondisi si Lisa itu?" Lanjut Aditia bertanya.
"Sudahlah mas, jangan bertele-tele katakan?" Bentak Dinda kesal.
"Baiklah, jadi menurut informasi yang beredar, kalau istri pertama Aditia itu mencoba bunuh diri karna tertekan dan sekarang ia masih di rawat di rumah sakit, katanya sih keadaannya sangat mengkhawatirkan karna dia juga mengalami depresi." Jelas Riki.
'Apa? Kenapa mas Aditia tidak memberitahu aku soal kondisi mbak Lisa. Mamah dan papah juga apa mereka tidak tau? Tidak mungkin mereka pasti tau. Tapi kenapa mereka menyembunyikan dari ku. Aku harus ke rumah sakit, aku harus melihat kondisi mbak Lisa.' gumam Dinda. Dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Ayolah Dinda, aku mohon. Bercerai saja dengan suamimu itu, kembalilah padaku Dinda. Aku mohon," ucap Riki. Sorot matanya menatap lekat Dinda, berharap Dinda dapat membuka hatinya kembali menerimanya.
Namun Dinda tak menyahut, ia larut dalam pikirannya tentang Lisa. Namun ia masih mendengar ucapan yang dilontarkan oleh mantan calon suaminya itu.
"Din, apa kamu mau terus-terusan menjadi istri kedua, tanpa sadar kamu sudah melukai istri pertamanya Aditia Din. Coba pikirkan Din, tukar posisimu dengan Lisa, apa kamu bisa menjalankannya begitu saja. Tidak Din, kamu jangan egois Din," lanjut Riki.
"Egois? Mas asal kamu tau ya! Jika saja kamu tidak menghianatiku, aku tidak akan mungkin terjebak dalam kondisi sekarang ini. Stop menyalahkan aku mas, aku disini tidak tau apa-apa." Sangkal Dinda.
"Oke-oke, aku tau aku salah. Tapi kebenarannya kini sudah terungkap Din, Bella bukan mengandung anakku, kamu percayakan sama aku, ya aku memang pernah meniduri Bella, tapi dia yang sendiri yang menjebak aku, Bella sudah mengatur semuanya."
"Dan kamu, kamu sudah menghancurkan rumah tangga orang Din. Din aku mohon kembali padaku, kita mulai dari awal lagi." Lanjut Aditia.
"Aku tidak pernah sedikitpun berniat menghancurkan rumah tangga orang mas, jaga bicaramu. Dan satu lagi, jangan pernah bermimpi aku akan kembali lagi padamu," pekik Dinda. Lalu ia berajak dari hadapan Riki.
"Kenapa hah? Karna kamu sedang hamil anak si Aditia? Aku akan menunggu sampai anak itu lahir Dinda." Teriak Riki, sambil memandangi Dinda yang terus berjalan menjauh dari hadapannya.
Dinda mengehentikan langkahnya, saat mendengar teriakan Riki tersebut, Dinda menoleh kearah Riki, "lupakan aku mas, jangan berharap lagi padaku, sampai kapan pun kita tidak akan bersama lagi." Balas Dinda dengan lirih. Lalu ia berjalan kembali.
Riki menatap nanar kepergian wanita itu, hatinya bagai teriris. Mendengar kalimat yang dilontarkan Dinda, "aku mencintaimu Din, bagaimana bisa aku melupakan kamu, melupakan kisah kita, aku tau aku bodoh bisa terjebak dalam permainan adikmu itu. Tapi aku tidak akan menyerahkan Din, aku akan merebut kamu dari Aditia. Bagaimana pun caranya? Aku tau kamu berat menjalankan pernikahan kamu itu, maafkan aku aku berbicara kasar padamu tadi, bukan maksudku menyudutkan kamu Din, tapi aku ingin kamu sadar." Ujar Aditia.
Bersambung...
Maaf ya baru sempat up.
Jangan lupa like, komen, Votenya.
Terima kasih.
__ADS_1